Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 64. Harta Yang Tak Ternilai ( END)


__ADS_3

Reyhan terlihat panik, keringat dingin diwajahnya berjatuhan saat melihat sang istri kini tengah mengalami pendarahan.


Pasalnya pagi tadi Reyhan dan Irene melakukan aktivitas seperti biasa, mengajak istrinya itu berjalan dihalaman belakang. Namun memang sang istri sudah mengeluh bahwa pinggangnya selalu merasa pegal, dan Reyhan pun menganggap bahwa itu hal yang sepele.


Namun saat melihat darah yang tiba-tiba menetes si sela paha istrinya itu membuat Reyhan sangat panik. Peluh sebesar biji jagung pun berjatuhan saat melihat istrinya itu pendarahan hebat. Alasan Reyhan tidak mengikuti jejak sang papa dan abangnya itu menjadi dokter, ya hal ini yang menjadi alasannya.


Pria itu tidak bisa melihat darah. Seketika membuat tubuhnya bergetar hebat serta wajahnya menjadi pucat.


Setelah mobil ambulan dari rumah sakit yang dikelolanya tiba, dengan segera Reyhan pun membawa istrinya itu menggunakan ambulan. Karena dalam keadaan seperti ini, Reyhan tidak bisa tenang mengemudi dan itu bisa saja membahayakan anak serta istrinya.


Irene sedari tadi mencengkram tangan Reyhan dengan kuat, seakan berbagi rasa sakit yang dirasakan oleh wanita itu saat ini.


Bahkan kulit Reyhan pun tergores karena kuku Irene, namun pria itu tak menghiraukannya. Kesakitan yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan istrinya itu.


Tak lama kemudian mobil pun tiba di rumah sakit. Dokter Mira tengah berada disana menyarankan untuk Irene segera dibawa ke ruang bersalin.


Irene tak sedikit pun melepaskan genggamannya pada suaminya itu. Hingga akhirnya Reyhan pun ikut masuk ke ruangan tersebut untuk menemani sang istri yang tengah mempertaruhkan hidup dan matinya itu.


Didalam ruangan tersebut, Irene mengikuti instruksi dari dokter untuk membantu persalinan. Reyhan sesekali mengelap peluh dikening istrinya itu.


Dirinya berusaha menguatkan diri dari rasa takutnya hanya untuk sang istri dan si buah cinta mereka. Dalam hatinya tak henti-hentinya merapalkan do'a agak keduanya selamat dan sehat.


Memakan waktu yang lama perjuangan di ruangan itu, hingga terdengar suara tangis bayi Reyhan langsung menitikkan air matanya. Begitu juga dengan Irene.


"Bayinya cantik" ujar sang dokter sembari menggendong si mungil yang masih kemerah-merahan itu.


Dokter pun memberikannya pada perawat yang ada disana untuk memandikan buah cinta dari Reyhan dan Irene.


Setelah dibersihkan, bayi seberat 3,2 kg itu diserahkan pada papanya yang sedari tadi tak sabar ingin menggendong darah dagingnya itu.


"Cantiknya seperti kau, istriku" ucap Reyhan sembari mendekatkan bayi tersebut pada mamanya.


Irene pun membelai wajah sang anak, tak terasa air matanya menetes begitu saja saat melihat putrinya yang rasanya baru saja bersemayam didalam rahimnya kini sudah turun ke dunia.


Tak lama kemudian, orang tua dari Irene dan Reyhan pun langsung masuk ke ruangan tersebut.


"Mama, papa.." gumam Reyhan saat melihat kedua orang tuanya serta mertuanya ada disana.


Spontan Irsya pun memberi sebuah pukulan kecil di lengan anak bungsunya itu.


"Mengapa kau tidak menghubungi mama jika Irene akan segera melahirkan" ucap Irsya sembari memberikan pukulan lagi pada anaknya itu.


"Maaf ma, Reyhan panik" timpal Reyhan sembari memegang lengannya.


"Baiklah mama memaafkanmu karena cucu mama" ucap Irsya sembari menghampiri sang cucu yang tengah bersama Irene.

__ADS_1


"Boleh mama menggendongnya?" tanya Irsya pada menantunya itu.


Irene pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Raut bahagia pun terpatri di wajah ketiga orang dengan rambut memutih tersebut. Sesekali Abizar maupun Surya bergantian untuk mengusap kepala sang bayi yang tengah berada digendongan Irsya.


"Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk cucuku yang cantik ini?" tanya Irsya.


"Tentu saja sudah" timpal Reyhan.


"Siapa namanya?" kini Surya lah yang membuka suara.


"Arshinta Kirania Pratista" ujar kedua orang tua sang anak serentak.


"Yang artinya anak perempuan cantik dan bercahaya, yang selalu mendapat kebahagiaan dan dihormati" jelas Reyhan.


"Namamu secantik parasmu, cucuku" ujar Irsya sembari menyentuh dagu cucunya itu.


Irene maupun Reyhan tersenyum saat melihat para orang tua tampak bahagia menggendong anaknya secara bergantian. Cucu yang telah lama dinanti kehadirannya.


Reyhan menatap Irene yang masih terbaring lemas. Pria itu mengecup puncak kepala istrinya itu dan kemudian mengusap surai hitam wanita yang sudah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melahirkan buah cinta mereka.


"Apakah kau masih merasa sakit?" tanya Reyhan lembut.


"Rasa sakit itu sudah pasti, sayang. Namun semuanya sudah terbayar saat mendengar tangis si kecil yang memenuhi ruangan ini, serta memberikan sebuah kebahagiaan untukmu dan orang tua kita" sahut Irene yang masih tampak lemas.


"Aku juga" timpal Irene singkat.


...****************...


3 bulan kemudian...


Kini keluarga besar tampak berkumpul di taman belakang kediaman Reyhan. Pria itu menyulap bagian belakang rumahnya menjadi taman untuk bersantai yang luas serta ditanami dengan rumput jepang atau rumput peking. Terdapat dua pohon mangga yang tengah berbuah sangat lebat serta beberapa macam bunga yang terletak di ujung tempat tersebut.


Reyhan dan juga Rasya tengah menggelar tikar di halaman tersebut. Sedangkan Rania dan juga Irsya meletakkan makanan serta buah-buahan tepat diatas tikar yang baru saja digelar oleh kedua putranya tadi.


Ya anggap saja ini adalah sebuah piknik yang berada tak jauh dari rumah.


Arden dan Aretha tengah berlarian sembari mengelilingi pohon mangga tersebut. Sesekali keduanya tampak tertawa saat melihat di atas pohon tersebut.


Abizar dan Surya tampak berbincang-bincang di kursi sembari menikmati secangkir teh.


Tetott... Tetottt...


Suara sepatu mungil milik Azriel tampak sangat jelas terdengar. Pria cilik itu kini tengah berjalan sembari dipapah langsung oleh Aurel. Sedangkan Irene kini tengah menggendong Shinta.

__ADS_1


"Ayo kemari! makanan sudah siap" seru Irsya memanggil yang lainnya.


Mereka pun segera berkumpul duduk memenuhi tikar tadi. Irsya memanggil kedua cucunya yang masih dibawah pohon mangga untuk ikut bergabung bersama.


"Lihatlah nak, adik Shinta cantik sekali" ujar Aurel mendekatkan putra bungsunya dengan anak Irene. Gadis kecil yang berada digendongan Irene pun tersenyum.


"Adik senyum ya, lihat abang Azriel yang tampan" ujar Irene. Aurel dan Irene pun tertawa serentak.


Rania mengedarkan pandangannya kesana dan kemari.


"Dimana Arya?" ucap wanita itu yang sedari tadi tak melihat keberadaan suaminya.


Semua orang pun baru menyadari bahwa Arya tak terlihat sedari tadi. Namun yang menjadi sorotan adalah saat kedua bocah kembar yang sedari tadi tertawa.


"Kalian melihat om Arya?" tanya Rasya.


Keduanya mengangguk.


"Dimana?" tanyanya lagi.


Namun belum sempat menjawab, terdengar sebuah teriakan dari atas pohon mangga yang terletak tak jauh dari sana.


"Hei siapa yang menjatuhkan tanggaku! aku tidak bisa turun!" seru Arya yang masih setia berada diatas pohon sedari tadi.


"Apa itu ulah kalian?" selidik Rasya.


Keduanya pun menunduk sembari mengangguk pelan.


"Segera minta maaf dengan om Arya, jika tidak yang jajan kalian berdua papa tahan" ancam Rasya yang segera menyusul Reyhan yang membantu Arya turun dari atas pohon tersebut.


"Jangan memarahi mereka, lagi pula suamiku juga banyak tingkah" ujar Rania yang menatap Arya yang baru saja bergabung.


Mereka pun menikmati makanan yang ada disana. Reyhan membawa kamera dan meletakkannya diatas tripod.


"Berkumpul seperti ini kurang lengkap rasanya jika tidak diabadikan melalui sebuah potret" ucap Reyhan sembari mengatur timer kameranya.


Setelah mengatur posisi serta timer, pria itu pun berlari mendekati sang istri dan yang lainnya yang sudah siap berpose di depan kamera.


Cekrek .... Cekrekkk ..


Beberapa gambar dengan pose yang berbeda ditangkap oleh kamera tersebut. Gelak tawa dari mereka pun tampak memenuhi tempat itu.


Kini kebahagiaan pun tampak melengkapi mereka. Sebuah keluarga besar dengan momen yang takkan pernah terlupakan.


Seberapa jauh kamu melangkah, seberapa hebatnya pencapaian yang kamu dapatkan namun keluarga adalah tempatmu untuk berpulang. Karena harta yang tak ternilai harganya adalah sebuah keluarga.

__ADS_1


-THE END-


__ADS_2