Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 35


__ADS_3

Kedewasaan bukanlah diukur dari segi usia, Namun jika kamu ikhlas melepaskan apa yang bukan milikmu, mengikhlaskan hal yang paling berharga hanya untuk membuat mereka tersenyum bahagia, maka kamu sudah sangat bersikap dewasa. (Ryn)


###


Malam ini Reyhan ikut berkumpul kembali bersama kedua temannya. Hampir satu bulan lamanya pria itu tidak ikut bergabung bersama kedua temannya dikarenakan terlalu lelah seusai pulang dari bekerja.


Dilihatnya David yang memetik gitar serta Dito yang menjadi pengisi suaranya. Reyhan pun menghampiri keduanya seraya membawa kantong plastik yang berisi minuman bersoda serta makanan ringan yang ia beli di toserba tak jauh dari tempatnya tinggal.


"Ini buat cemilan" ujar Reyhan seraya menaruh plastik yang dibawanya.


"Thanks bro" ucap Dito.


"Kerjaan Lo disana udab selesai?" tanya David.


"Iya, makanya gue udah bisa.gabung disini. Sorry ya beberapa hari ini gue nggak ikut kumpul" ucap Reyhan yang sedikit tak enak hati.


"Gak apa-apa bro" sahut David yang masih setia memeluk gitarnya.


"Wah berarti ini duit gaji pertama yang udah cair"


ucap Dito sembari mengambil salah satu minuman yang ada dikantong plastik.


"Pantesan manis" lanjutnya yang usai mencicipi minuman tersebut.


"Besok gue traktir makan pas pulang kuliah, biar sekalian Vanesha bisa ikut" ujar Reyhan.


"Sekalian bawa pacar lo juga bro, kenalin ke kita" tukas Dito.


Reyhan hanya diam tak menjawab ucapan Dito. Namun sesaat kemudian petikan gitar yang dimainkan oleh David membuatnya mengalihkan pandangannya kepada sahabatnya yang satu itu.


Harusnya aku yang disana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa, cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia~


Sekilas Reyhan merasa bahwa dirinya ada di dalam lagu itu. Namun saat Dito menepuk pundak sahabatnya itu untuk menenangkannya, Reyhan seolah memberi kode pada Dito tentang apa yang terjadi pada David.

__ADS_1


"Ditinggal nikah" ucap Dito tanpa bersuara dan hanya gerakan bibir saja. Reyhan dapat mengerti apa yang baru saja disampaikan oleh temannya itu.


Reyhan pun juga ikut menepuk pundak David untuk menenangkannya.


Dan kini Reyhan sadar, bahwa pengorbanannya belum ada apa-apanya dengan Aurel. Lebih besar lagi pengorbanan David pada pasangannya.


Bagaimana pun juga pria itu telah mengerahkan segala kemampuannya, dari kesetiaan dalam menunggu, menjaga hati hanya untuk satu wanita, serta memberikan sebuah kepercayaan pada cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu. Hanya mereka manusia yang luar biasa yang dapat melakukan semuanya.


Namun siapa yang bisa melawan takdir? Sekuat apapun sebuah usaha yang kita lalui, jika hal tersebut bukan milik kita. tentunya lama kelamaan akan lepas jua. Biarlah takdir yang menentukan jalannya, jikalau jodoh pun larinya tak akan kemana.


❤️❤️❤️


Aurel tiba di tempat kerjanya, setelah memarkirkan mobilnya, ia pun langsung memasuki tempat tersebut. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya sedikit menundukkan kepalanya pada atasannya itu.


Dilihatnya kembali lukisan yang telah selesai dibuat oleh Reyhan beberapa hari yang lalu. Ia pun mendekat pada tembok besar dan memandangi lukisan tersebut dengan seksama.


Aurel kembali mengulas senyumnya saat mengingat ucapan Reyhan malam itu, yang mengutarakan makna dari lukisan tersebut. Ia merasa bahagia mengetahui dulunya Reyhan pun memiliki rasa yang sama. Walaupun pada akhirnya mereka tidak ditakdirkan untuk bersama dengan pria itu, Setidaknya cinta yang dimilikinya dulu tak bertepuk sebelah tangan.


❤️❤️❤️


Reyhan menepati janjinya yang akan mentraktir teman-temannya. Ia pun memilih resto yang sering dikunjunginya. Sebenarnya sudah beberapa kali ia mentraktir mereka makan ditempat tersebut, dan membayar semuanya menggunakan uang saku yang diberikan oleh kedua orang tuanya.


"Pesan saja apa yang kalian suka" ucap Reyhan.


"Benarkah Han?" tanya Vanesha yang tampak antusias.


Reyhan pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Dito yang mendengar hal tersebut langsung menyikut lengan kekasihnya itu.


"Pesan porsi sewajarnya aja sayang" ucap Dito setengah berbisik, namun Reyhan dapat mendengar apa yang diucapkan Dito.


"Gak apa-apa bro, santai aja" ujar Reyhan sembari terkekeh.


"Biasa Han, mungkin dia malu jalan sama aku kalau akunya gendut" tukas Vanesha dengan sedikit penekanan.


"Mau gendut apa nggaknya terserah, dia bayar ini semua dari gaji pertamanya, jadi kalau mau makan sepuasnya pas lagi sama aku aja" bisik Dito.


Vanesha pun ber oh ria tanda mengerti.


Reyhan kembali mengarahkan pandangannya pada pria yang bernasib sama dengannya. David berusaha keras untuk tidak memperlihatkan kesedihannya saat ini, namun sesekali pria itu tampak tersenyum getir. Walaupun ia berada ditengah-tengah keramaian, tetap saja ia merasa ada yang kosong dalam dirinya.

__ADS_1


"Pesan makanannya bro" ujar Reyhan.


David pun mengiyakan ucapan Reyhan, kemudian memilih makanan yang ada di daftar menu.


"Gue juga butuh makan banyak saat ini, supaya gue bisa menghadapi kenyataan" ucap Reyhan.


Yang lainnya langsung mengarahkan pandangannya pada pria itu, seakan menuntut kejelasan tentang apa yang baru saja diucapkannya.


"Jujur.. gue juga lagi gagal dalam urusan cinta" lanjut Reyhan yang berujung curhat.


"Lo diputusin?" tanya Vanesha.


"Bukan diputusin, gue emang nggak ada kejelasan status sama dia, gue nya aja yang udah terlalu banyak berharap" tutur Reyhan.


"Dan apa yang lo bilang kemarin benar Nes, karma itu ada dan gue lagi merasakan karma itu" lanjutnya.


Vanesha pun mencoba mengingat kapan dia berkata seperti itu, dan ia pun ingat pada waktu Reyhan menolak Aurel tepat disaat Aurel datang untuk memberikan hadiah pada pria itu.


"Maafin gue ya Han, gue nggak bermaksud buat nyumpahin lo dengan kata-kata itu" cicit Vanesha merasa bersalah.


"Nggak Nes, apa yang lo bilang kemarin itu benar adanya" ujar Reyhan.


"Udah bro, ikhlasin apa yang bukan jadi milik kalian. Suatu saat nanti kalian akan mendapat pasangan yang lebih baik lagi, nanti gue cariin buat kalian berdua" ucap Dito.


"Giliran urusan cari cewek, cepat betul gerakannya" ujar Vanesha memutar bola matanya yang terbakar api cemburu.


Mereka pun terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukan oleh satu wanita yang saat ini bersamanya.


.


.


.





Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2