
Rasya berhenti tidak jauh dari rumah Aurel. Malam ini merupakan kencan pertama mereka. Rasya menarik kaca di mobil memastikan bahwa rambutnya sudah tertata rapi.
Ia pun meraba ponsel yang ada disakunya dan langsung menelpon sang pujaan hatinya itu.
"Halo.." terdengar suara dari seberang telepon tersebut.
"Aurel, apakah kamu sudah siap?" tanya Rasya.
"Belum, tadi kan kamu bilangnya jam 8, masih ada waktu 30 menit lagi " ujar Aurel.
"Tunggu, apa kamu udah didepan rumah?" tanya Aurel yang kemudian berdiri dan mengintip dari jendela kamarnya.
"Oh belum kok, aku masih dirumah. Ya udah kamu siap-siap ya, nanti aku jemput"ujar Rasya yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Rasya pun kemudian melirik jam tangannya.
"Iya, masih ada waktu 30 menit lagi. Kenapa waktu berjalan begitu lama" ujar Rasya bermonolog.
Alhasil, ia pun menunggu Aurel di dalam mobilnya seraya mengotak-atik ponselnya, mengecek berita terkini melalui sebuah aplikasi.
.
.
.
Aurel duduk termenung didalam kamarnya, entah mengapa ia menjadi ragu akan keputusannya. Bagaimana pun juga tidak mudah menghapus sebuah rasa yang sudah tumbuh selama sekian tahun lamanya. Dan tak mungkin melupakan semua perjuangannya dalam waktu yang singkat.
Aurel beranjak dari tempat duduknya menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil salah satu dress berwarna biru dongker untuk dikenakan malam ini.
Aurel pun melihat dirinya di cermin.
"Sadar Aurel! lupakan dia! kamu sudah memulainya bersama Rasya" ucap Aurel seraya menepuk pipinya.
.
.
.
Rasya yang sedari tadi mengotak-atik ponselnya, kemudian melirik jam tangannya.
"Syukurlah, 3 menit lagi pukul 8" gumam Rasya.
Ia pun segera menghidupkan mesin mobilnya untuk maju sedikit mendekati kediaman Aurel. Ia mematikan mesin mobilnya saat berada tepat didepan kediaman kekasihnya itu.
Rasya sedikit meregangkan badannya, karena menunggu dalam waktu 30 menit cukup untuk membuat ia pegal.
.
.
.
Tettt.. Tettt...
Pintu rumah pun terbuka.
"Eh den Rasya, silahkan masuk den" ucap Bi Inem.
"Makasih bi" timpal Rasya.
"Sebentar ya den, bibi panggilin non Aurel dulu" sambung bi Inem yang dijawab sebuah anggukan oleh Rasya.
Aurel yang baru saja selesai menata rambutnya, belum lama kemudian suara pintu kamarnya terketuk.
__ADS_1
"Non, ada den Rasya" ujar Bi Inem.
Aurel pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung membukakan pintu.
"Iya Bi" ucapnya singkat.
"Bi, saya sama Rasya bakalan keluar sebentar" lanjut Aurel.
"Oh, iya non" timpal Bi Inem.
Aurel pun segera menuruni tangga. Dilihatnya Rasya yang sudah duduk manis di sofa seraya menunggunya.
Rasya yang sadar akan suara ketukan heels yang dipakai oleh Aurel, membuat pria tersebut mengalihkan pandangannya.
Satu kata yang ada di benak Rasya saat ini.
Cantik..
Kata itulah yang menggambarkan sosok wanita yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Seakan terhipnotis oleh pesona Aurel, Rasya pun tak menyadari saat ini Aurel sedang berbicara padanya.
"Kamu mendengarkanku Rasya" ujar Aurel seraya melambaikan tangannya tepat didepan wajah Rasya.
"Ehh.. iya, tadi kamu bilang apa?" tanya Rasya yang baru saja sadar.
Aurel pun langsung terkekeh.
"Apakah aku terlihat aneh malam ini?" Aurel bertanya balik.
"Oh tidak, kamu terlihat luar biasa malam ini" ucap Rasya sedikit bergumam.
"Maksudmu?"
"Ya emmm.. itu.. ehh cantik" ujarnya setengah berbisik seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bukan seperti itu, maksudku malam ini kamu kelihatan luar biasa cantik" tutur Rasya.
"Benarkah? aku sedang dipuji namun kenapa kamu yang tersipu malu. Ayo berangkat" ajak Aurel berjalan mendahului Rasya kemudian tersenyum.
"Apa aku terlihat seperti seseorang yang tersipu malu?" gumam Rasya yang tampak sedikit bingung, ia pun langsung menyusul Aurel.
.
.
.
"Sepertinya kamu telah mempersiapkan segalanya untuk malam ini" ujar Aurel yang tengah berada disebuah restoran mewah namun hanya para pelayan dan mereka berdua yang berada disana.
"Berapa kamu menyewa tempat ini?" tanya Aurel seraya memotong steik yang ada dihadapannya kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.
"emangnya kenapa?"
"Kamu terlalu menghamburkan uangmu hanya untuk waktu semalam Tuan" ujar Aurel.
"Cintaku tidak dinilai dari sebuah nominal Nona, aku akan sangat bahagia jika kamu dengan senang hati menikmatinya" jelas Rasya.
"Karena kamu istimewa" imbuhnya yang langsung membuat wajah Aurel tiba-tiba merona.
"Baiklah aku tarik ucapanku yang tadi, dan malam ini kamu berhasil membuatku semakin tersipu dengan rayuan mautmu itu Tuan" ujar Aurel terkekeh.
Dan kemudian mereka pun lanjut menyantap hidangan yang ada dihadapan mereka
.
__ADS_1
.
.
Rasya berhenti tepat di depan rumah Aurel.
"Makasih ya untuk malam ini" ucap Aurel.
"Seharusnya aku yang berterimakasih rel" ujar Rasya.
"Berterimakasih untuk apa?" tanya Aurel.
"Terimakasih untuk segalanya, untuk waktunya" ujar Rasya.
Aurel hanya mengembangkan senyumnya seraya mengangguk.
"Ya udah, aku masuk dulu ya. Hati-hati dijalan" ucap Aurel yang kemudian turun dari mobil.
Setelah Aurel masuk, Rasya pun langsung mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.
❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇
Pagi ini, Abizar dan keluarganya tampak sedang menikmati sarapannya.
"Ma.. Pa.. Aku mau ngomong sesuatu" ujar Reyhan tiba-tiba.
"Habiskan makananmu dulu nak, baru nanti kita bicara" timpal Irsya.
Irsya sengaja menyela pembicaraan putra bungsunya itu, karena secara tidak langsung ia mulai mengendus hal yang tidak mengenakkan akan dibicarakan oleh Reyhan. Dilihat kemarin ia tampak kacau hingga mengurung dirinya dikamar seharian.
Mereka pun telah menyelesaikan sarapannya.
"Apa yang hendak kamu bicarakan,Reyhan?" tanya Abizar.
"Aku ingin tinggal disebuah kontrakan Pa" ujar Reyhan spontan.
"Maksud kamu apa, nak?" tanya sang Mama.
"Reyhan ingin ngontrak rumah Ma" timpal Reyhan.
Mendengar penuturan Reyhan, Rasya hanya bungkam.
"Apa yang membuatmu tidak nyaman disini?" ujar sang Papa sedikit meninggikan suaranya.
"Bukan begitu Pa, alasan aku mau tinggal dikontrakan karena aku mau hidup mandiri Pa" sahut Reyhan.
"Lakukan saja sesukamu" ujar Abizar yang tampaknya kurang setuju dengan permintaan putra bungsunya itu. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi.
"Sebaiknya kamu fikirkan lagi keputusanmu itu, nak" tukas Irsya yang juga beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa Lo kekeh mau pindah?" tanya Rasya
"Gue mau hidup mandiri bang, jadi pria yang dewasa yang bisa diandalkan. Gue berangkat ke kampus dulu"ujar Reyhan dengan sedikit nada penekanan.
"Entah kenapa gue ngerasa dia rada kesel ama gue? apa cuma perasaan gue aja" gumam Rasya sedikit bingung.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca 🤗, jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya selalu 🤗.
salam manis Ryn