
Alea berdiri tepat didepan pusara Arfan, seraya membawa sebuket bunga mawar yang ia beli diperjalanan tadi.
Alea meletakkan bunga mawar tersebut tepat disisi pusara Arfan.
"Ar, aku datang. Terimakasih atas hadiah yang kamu berikan malam itu, meskipun hanya sebatas mimpi aku sungguh menikmatinya" ucap Alea menyunggingkan senyumnya.
"Aku akan memenuhi permintaanmu untuk hidup bahagia bersama lelaki yang mencintaiku, aku harap kamu pun juga bahagia" lanjut Alea.
"Terima kasih atas cintamu yang tak terhingga, terima kasih untuk semuanya" Alea mendongakkan kepalanya menahan air matanya agar tidak tertumpah.
"aku melepaskanmu" ucap Alea seraya tersenyum.
Alea pun langsung beranjak dari tempat tersebut dan langsung menuju ke parkiran.
Alea masuk ke dalam mobilnya. Meskipun matanya berkaca-kaca, namun ia tetap menyunggingkan senyumnya.
"aku janji untuk hidup lebih baik" ucap Alea tersenyum kemudian melajukan mobilnya.
__________________________________
Tokk. .Tokk. .
Belum lama kemudian Roland muncul dari balik pintu.
"ini berkas yang harus bapak tanda tangani" ucap Roland seraya menyuguhkan dokumen tersebut pada Alviro.
Alviro pun membubuhkan tanda tangannya diatas kertas tersebut.
"Roland"
"iya pak" sahut Roland.
"tentang permintaanmu yang ingin naik gaji, saya ada tawaran menarik buat kamu" ujar Alviro.
"tawaran apa pak?" tanya Roland lagi.
"kamu tahu Global Island yang kemarin saya bangun" ucap Alviro.
Roland pun menganggukan kepalanya.
"saya ingin kamu yang mengurusnya" ujar Alviro.
"saya mampu menggaji kamu lebih tinggi lagi dengan hitungan dolar. Tidak hanya itu saja, saya juga akan fasilitas berupa hunian dan transportasi roda empat. Apakah kamu berminat?" tanya Alviro lagi.
Roland pun tampak berfikir.
"bagaimana Roland?" tanya Alviro.
"saya akan mempertimbangkannya dulu pak" sahut Roland.
"baiklah kalau begitu, berikan jawaban secepatnya" titah Alviro.
"baik pak. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu pak" ujar Roland kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alviro.
Jujur Roland sangat senang mendapatkan tawaran tersebut, namun entah mengapa ia sedikit ragu untuk mengiyakan tawaran atasannya itu.
Tawaran yang diberikan Alviro tentu saja amat menggiurkan, tapi entah kenapa hatinya masih bimbang untuk menerimanya.
Melly yang baru saja hendak memfotocopy berkas yang ada ditangannya, tanpa sengaja melihat Roland lewat dengan wajah yang sedikit berkerut.
Melly pun langsung berjalan ke arah Roland.
"kamu kenapa babe pasang muka kayak pembalut?" ejek Melly.
"pembalut? apaan maksudnya?" tanya Roland balik.
"itu tuh mukanya berkerut gitu" ujar Melly terkekeh.
Roland pun memikirkan ucapan kekasihnya itu sejenak, ia pun langsung menarik hidung kekasihnya itu dengan gemas saat sadar apa maksud ucapan Melly tadi.
"kamu tuh ya kebanyakan nonton tv, jadi hapal dialog iklan" ujar Roland.
"awww sakit. Malu tuh dilihatin orang banyak" tukas Melly.
Roland pun langsung mengikuti arah pandang Melly. Benar saja, beberapa karyawan memperhatikan gerak-gerik keduanya.
"kamu gak mau cerita nih, kenapa muka kamu murung gitu" ujar Melly.
"nanti aku ceritain, nunggu pas pulang kerja aja. Ya udah, kamu lanjutin kerjaan kamu" tukas Roland.
"oke" ucap Melly singkat dan langsung meninggalkan Roland.
.
.
.
.
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, Roland pun bersiap untuk pulang. Baru saja ia hendak melangkahkan kaki, Melly pun langsung menghampirinya.
"hay. ." seru Melly seraya melambaikan tangannya.
"kamu belum pulang?" tanya Roland.
"aku nungguin janji kamu yang katanya mau cerita" ucap Melly antusias.
Roland pun tersenyum seraya mengusap kepala sang kekasih.
"kita makan dulu ya, aku laper" ujar Roland.
"tapi kamu bakalan cerita sama aku kan?" tanya Melly.
"iya beb, nanti aku bakalan cerita ke kamu. ya udah yuk kita cari tempat makan" ujar Roland seraya menggandeng tangan Melly.
.
.
.
Melly dan Roland menunggu pesanan mereka.
"babe, cerita dong udah dari tadi aku penasaran" ujar Melly antusias.
Roland pun berdehem.
"emmm begini, aku dapet tawaran menggiurkan dari Alviro" ucap Roland.
"tawaran apa?" tanya Melly yang semakin penasaran.
"aku mendapat kenaikan gaji" ucap Roland.
"wah bagus dong babe, tapi kenapa muka kamu murung gitu" tukas Melly.
"tapi aku harus pindah ke New York, aku dipercayakan untuk mengurus Global Island. Alviro juga memberikan fasilitas yang layak demi kenyamananku disana" tutur Roland.
Melly yang tadinya tampak berbinar, kini tertunduk lesu.
"ya udah, kamu terimanya aja. sayang kalau tawaran seperti itu ditolak mentah-mentah" ujar Melly seraya menghembuskan nafas dengan kasar.
"kamu yakin gak apa-apa kalau jauh dari aku?" kini Roland yang bertanya pada Melly.
"beneran gak apa-apa kok" ucap Melly seraya tersenyum getir.
Jujur saja ia tak sanggup jika hari-harinya dilewati tanpa Roland. Meskipun kekasihnya itu amat menyebalkan, namun tidak dipungkiri bahwa Roland lah yang mengisi kekosongannya.
Mereka pun menyantap makanan tersebut. namun Melly yang sedari tadi menahan air matanya, tanpa permisi air matanya jatuh.
"kamu kenapa nangis babe?" tanya Roland.
"aku gak nangis kok, makanannya enak banget tapi ini agak pedas aja" ujar Melly seraya menyeka air matanya dengan tissue.
Roland tahu bahwa kekasihnya itu sedang berbohong. Bagaimana tidak, kekasihnya tersebut amat menyukai makanan yang pedas.
Roland pun menepuk pundak Melly untuk menenangkannya.
"udah, kalau gak enak gak usah dipaksa" ucap Roland.
Melly pun langsung memeluk Roland seraya menangis sesegukan. Air matanya pun semakin deras.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, namun Roland mengabaikannya. Biarlah orang berkata bucin atau apalah, toh saat cinta benar-benar datang dunia hanya milik berdua, sedangkan yang lain hanyalah ngontrak.
✴✴✴✴✴✴✳✳✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴
Alviro yang baru saja pulang disambut hangat oleh sang istri.
Alea mengecup punggung tangan suaminya, lalu mengambil tas yang berada ditangan suaminya itu.
"mas, malam ini mama Arini mengundang kita makan malam disana. Soalnya besok Mama sama Steve mau balik ke New York" ucap Alea.
"ya udah kalau begitu mas mandi dulu, setelahnya kita berangkat kesana" ujar Alviro.
"tapi mas, aku takut mas kelelahan" ucap Alea.
"gak kok sayang. Justru mas dengan senang hati berkunjung kesana, kamu juga udah lama gak ketemu sama mama" ujar Alviro.
"makasih ya mas, ya udah kamu mandi dulu. aku juga mau siap-siap" ujar Alea.
💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢
Alviro memberhentikan mobilnya tepat di kediaman Arini.
Arini pun menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Steve mana ma?" tanya Alea.
"ada, tadi lagi videocall sama pacarnya" sahut Arini.
__ADS_1
"pacar? sejak kapan?" ujar Alea terkejut.
Belum lama kemudian Steve pun muncul.
"apakah kau meragukan ketampananku sepupuku?" ujar Steve.
"baiklah Steve, aku meragukannya" tukas Alea.
Steve pun terkekeh, sedangkan Alviro dan Arini hanya menonton perdebatan diantara keduanya.
"kau pun tidak akan mengira bahwa wanita ini yang resmi menjadi kekasihku" ujar Steve yang kemudian mendekati Alea dan memperlihatkan walpaper wanita cantik yang ada di ponselnya.
"Allice" gumam Alea terkejut seraya menutup mulutnya yang sedikit ternganga.
"ya, dia teman satu profesi denganmu dulu. bukankah dia sangat cantik" ujar Steve.
"dia terlalu cantik Steve, seharusnya dia memilih laki-laki yang lebih tampan darimu" sahut Alea.
"sudah-sudah, ayo kita makan nanti makanannya keburu dingin" ujar Arini menengahi.
Mereka pun menuju meja makan dan menyantap makanan yang sudah tersaji disana.
"jam berapa mama berangkat besok ma? biar Alea antar" ujar Alea seraya menyendokkan makanan ke mulutnya.
"tidak usah Alea, besok mama berangkat pagi sekali" sahut Arini.
Alea pun hanya tersenyum getir, tentu saja ia akan rindu pada Arini dan sepupunya yang menyebalkan itu.
"tenang saja Cassandra, kami akan mengunjungimu diwaktu senggang" tambah Steve.
"kita juga bisa kesana Leah kalau kamu merindukan mama dan Steve" ujar Alviro.
"iya mas" timpal Alea.
"mama titip Alea ya nak Alviro" ujar Arini.
Alviro pun mengangguk patuh.
"jangan kau buat sepupuku bersedih, jika hal itu terjadi aku akan langsung terbang dari New York kesini hanya untuk menghadiahi pukulan untukmu" ancam Steve.
"aku tidak akan menyakitinya Steve, aku janji" timpal Alviro.
"sudah habiskan makanan kalian" ujar Arini seraya mengembangkan senyumnya.
"iya ma" sahut Alea.
✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳
Keesokan harinya, Roland memberanikan dirinya untuk memberikan jawaban atas tawaran yang Alviro berikan kemarin.
Tokk. .Tokkk. .
Roland pun muncul dari balik pintu.
"ada apa Land" tanya Alviro.
"saya kesini untuk memberikan jawaban atas tawaran yang bapak tawarkan kemarin" ujar Roland seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"apa jawabanmu?"
"sebelumnya terima kasih atas tawarannya, tapi saya menolaknya pak" ujar Roland.
"apa alasan lo nolak tawaran gue" ujar Alviro yang tiba-tiba menggunakan bahasa informal.
"gue gak bisa jauh dari Melly bro, takutnya Melly berpaling hati dari gue. apalagi mantannya si Reza itu lagi gencar-gencarnya deketin Melly" tutur Roland.
"maafin gue ya bro baik itu sebagai karyawan lo maupun sebagai sahabat lo" pinta Roland dengan wajah memelas.
"udah gue duga lo bakalan nolak tawaran gue, makanya gue nawarinnya ke lo" ujar Alviro.
"maksud lo apa nih, jujur gue gak ngerti" tukas Roland.
"iya gue tau dari awal lo bakalan nolak tawaran gue, lagian gue udah suruh Steve untuk mengurusnya" ujar Alviro terkekeh.
"oke gak masalah" ujar Roland yang menahan amarahnya.
"saya pamit undur diri" ucap Roland dengan senyum dibuat-buat.
"silahkan" timpal Alviro yang sudah terbahak-bahak melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
Roland pun berjalan tepat dibibir pintu kemudian berbalik.
"dasar bos gendeng" ujar Roland seraya menjulurkan lidahnya.
"awas lo ya, gaji lo gue potong!" seru Alviro
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca😊. jangan lupa like, vote, dan komennya yah.
salam manis RPS😊