Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 34


__ADS_3

David baru saja keluar dari kamar mandi, seusai membersihkan dirinya. Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia duduk di kursi yang menghadap ke jendela.


David meraih ponselnya. Seperti biasa, waktu senggangnya ia habiskan dengan bermain game. Anggap saja ini adalah sebuah hiburan kecil untuknya seusai lelah mengerjakan tugas kuliahnya.


Saat ia sedang asyik dengan permainannya, tiba-tiba saja ia mendapat notifikasi pesan WhatsApp dari seseorang yang dinantinya selama ini. David pun langsung menyudahi permainannya dan membuka pesan tersebut dengan antusias.


Satu pesan singkat dari sosok istimewa itu membuat David terdiam dengan raut wajah yang tak bisa di artikan. Pesan singkat yang ia dapat dari yang terkasih seolah membuat dunianya runtuh.


David mencoba membuka instagramnya, dan benar saja wanita yang ditunggu-tunggu kehadirannya itu mengunggah sebuah foto yang membuat hati David hancur sepersekian detik.


Keysha yang tampak anggun dalam balutan gaun berwarna putih dan make up yang membuat wanita tersebut tampak begitu cantik. Dan pria disebelahnya yang mengenakan jas berwarna senada dengan gaun yang dipakai oleh Keysha.


Hal tersebut tentu saja membuat hati David hancur, yang ia harapkan bukanlah pria itu yang tersenyum bahagia bersama dengan Keysha, melainkan dirinya.


Dengan tangan yang sedikit gemetar, David kembali membuka pesan yang dikirimkan oleh Keysha padanya.


David, aku minta maaf sebelumnya jika aku telah menyakitimu. Namun aku ingin kau merestuiku karena besok adalah hari pernikahanku. Tolong maafkan aku.


Berulang kali David membaca, berharap apa yang dilihatnya adalah salah. Namun semua itu memang nyata. David pun membalas pesan tersebut.


Apakah kau bahagia?


David mengirimkan pesan tersebut, dan beberapa saat kemudian ia pun mendapat balasan.


Iya, aku bahagia


David mengepalkan tangannya saat membaca balasan dari Keysha. Beginikah akhir dari sebuah penantian panjang?


Aku merestuimu, selamat berbahagia dengan pria pilihanmu.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, David pun membanting ponselnya ke lantai. Ponsel itu pun hancur berserakan sama dengan perasaan yang dialaminya saat ini.


"Kau bahagia?" gumam David bermonolog.


"Kau bahagia dengan menyakitiku" lanjutnya yang kemudian mengacak rambutnya dengan frustasi.


❤️❤️❤️❤️


Aurel mengemudikan mobilnya menuju ke tempat kerjanya. Setelah membujuk kedua orang tuanya begitu lama, akhirnya ia pun mendapatkan izin keluar untuk menemui Reyhan malam ini.


Aurel memarkirkan mobilnya, diliriknya jam tangan yang menunjukkan pukul 8 malam. Tentunya tempat tersebut masih buka dan akan tutup saat jam 9 malam.


Aurel pun berjalan melenggang memasuki tempat tersebut. Dari kejauhan, dilihatnya Reyhan yang tampak terfokus dengan pekerjaannya. Aurel secara diam-diam menduduki kursi yang berada di sudut tembok.


Beberapa pegawainya menundukkan kepala memberi tanda hormat pada wanita itu, namun dengan isyarat tangan Aurel melarang mereka untuk memberikan salam padanya dan tetap fokus bekerja, mengingat kehadirannya itu tanpa sepengetahuan pria yang sedang sibuk dengan kuasnya.


Beberapa pasang mata memandang sikap aneh yang selalu ditunjukkan oleh atasannya. Aurel mengarahkan pandangannya pada tembok yang sedikit lagi akan selesai.


Reyhan yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya pun beristirahat sejenak. Saat ia berbalik dilihatnya wanita yang berada disudut itu melambaikan tangannya. Reyhan menghampiri Aurel dan mengambil posisi duduk di dekat gadis itu.


"Kau sudah berusaha keras, ini untukmu" ucap Aurel tersenyum sembari memberikan sebotol air mineral untuk Reyhan.


"Thanks" ucap Reyhan seraya mengulas senyum simpul.

__ADS_1


Reyhan membuka botol air mineral tersebut dan menenggaknya.


"Aku kira kau tidak akan datang" ujar Reyhan mengarahkan pandangannya pada Aurel.


"Kau tahu, aku berusaha keras membujuk kedua orang tuaku hanya untuk mendapatkan izin keluar rumah. Aku tidak sebebas gadis lain yang bisa keluar rumah sesuka hati" ujar Aurel sembari menyipitkan matanya.


"Bukankah lebih baik seperti itu, orang tuamu melarangmu tandanya ia amat menyayangimu" tutur Reyhan.


"Apa kau sudah lama disini?" lanjut Rasya yang melemparkan pertanyaan pada Aurel.


Aurel pun menyingkap tangan bajunya melirik jam tangannya.


"Hampir satu jam aku tiba disini" timpalnya.


"Kau tidak keberatan jika harus menunggu sekitar satu jam lagi. aku akan segera menyelesaikan semuanya" ucap Reyhan.


Aurel menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku" ujar Reyhan langsung bangkit dari tempat duduknya.


Aurel pun kembali mengawasi pekerjaan Reyhan dari jauh. Dilihatnya pria itu dengan gigihnya menyelesaikan semuanya hanya dalam satu malam. Bak cerita dongeng yang menyelesaikan seribu candi dalam satu malam.


.


.


Di tempat lain, Rasya sedari tadi mondar-mandir di kamarnya. Ia pun meraih benda pipih yang berada di atas nakas dan mencari kontak Aurel disana.


Saat telah menemukan kontak tersebut, Rasya hendak menekan dial pada nomor tersebut, namun ia pun mengurungkannya. Ia sungguh merasa serba salah jika seperti ini. Ia mengkhawatirkan Aurel, namun ia juga merasa tak enak hati jika harus meneleponnya saat ia sedang bersama dengan adiknya.


.


.


.


Drrttt...


Ponsel Aurel bergetar, Aurel mengusap ponselnya dan melihat notifikasi pesan dengan kontak yang bernama *pangeranku.


Apakah sudah selesai*?


Aurel mengulas senyumnya mebalas pesan tersebut.


Sebentar lagi akan selesai.


Reyhan yang memandang sekilas ke arah Aurel yang tampak berbalas pesan seraya mengembangkan senyumnya. Reyhan menebak pesan tersebut pasti tidak lain dari abangnya.


Hal tersebut membuat Reyhan sadar, jika perlakuan istimewa yang begitu besar untuk Aurel belum tentu membuat gadis itu mengembangkan senyumnya, namun sekecil apapun perlakuan dari abangnya sudah membuat Aurel cukup bahagia.


Reyhan melanjutkan pekerjaannya sembari menahan luka dihatinya


.

__ADS_1


.


Memakan waktu hampir satu jam Reyhan benar-benar menyelesaikan semuanya. Tempat itu pun sudah tampak sepi, pegawai yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal mereka berdua dan satpam yang sedang berjaga didepan. Sesekali Aurel menguap karena kantuk yang menyerangnya.


Reyhan menghampiri Aurel. Ia pun mengembangkan senyumnya saat gadis tersebut melemparkan senyum simpul padanya.


"Aku telah menyelesaikannya" ucap Reyhan.


"Cantik sekali" ucap Aurel kagum melihat hasilnya. lukisan setangkai mawar merah yang bercampur putih serta dua merpati yang terbang mengepakkan sayapnya.


Aurel berjalan mendekati tembok tersebut dan melihatnya dengan seksama.


"Biasanya seorang pelukis selalu memiliki pesan tersirat yang ada dilukiskannya, apa kau juga memilikinya?" tanya Aurel yabg tak melepaskan pandangannya pada tembok yang sudah bercat dengan banyak warna.


"Sebenarnya mawar yang kulukis bukanlah mawar merah, melainkan mawar putih" ucap Reyhan yang menghampiri Aurel. Aurel pun melayangkan pandangannya pada Reyhan dan mendengar kelanjutan cerita tersebut secara seksama.


"Dahulu salah satu merpati itu jatuh cinta pada sang mawar, namun sang mawar dengan keras selalu


menolaknya. Sang merpati tetap gigih, ia terus mendatangi sang mawar untuk menyatakan perasaannya. Dan keesokan harinya, seperti biasa merpati itu mendatangi mawar dengan berucap apa yang bisa dilakukannya agar sang mawar tahu bahwa cinta sang merpati begitu besar padanya" ujar Reyhan yang tepat mensejajarkan posisinya dengan Aurel.


"Sang mawar berkata, jika merpati benar mencintainya, ubahlah dirinya menjadi setangkai mawar merah. Sang mawar sengaja memberikan tantangan seperti itu karena sang merpati mustahil dapat mewujudkannya. Namun sang mawar dibuat terkejut saat sang merpati itu menyanggupinya" tutur Reyhan panjang lebar.


"Lanjutkan ceritamu" ujar Aurel yang tampak masih penasaran.


Reyhan pun tersenyum melihat ekspresi Aurel yang tampaknya asik mendengarkan apa yang baru saja diucapkannya, Reyhan pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Keesokan harinya, merpati membawa pisau yang ia capit pada paruhnya. Kemudian ia terbang mensejajarkan dirinya diatas mawar putih. Tanpa diduga merpati tersebut memotong sayapnya dan darahnya ditebar pada sang mawar, alhasil sang mawar pun berubah menjadi merah walau tak sepenuhnya. Sang mawar terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang merpati, darah pada sayap sang merpati terus mengucur, namun sang mawar tak bisa melakukan apa-apa, ia baru sadar bahwa cinta sang merpati begitu besar kepadanya" tutur Reyhan.


"Terus.."


"Setelah beberapa hari kemudian, datanglah merpati yang lainnya. Ia pun mengobati merpati yang terluka lagi. Dan pada akhirnya merpati itu sembuh dan dapat terbang kembali. Dengan perasaan senang kedua merpati itu mengepakkan sayapnya dan terbang begitu tinggi sementara sang mawar hanya memandangnya sembari berucap semoga bahagia selalu untukmu" tutur Reyhan sembari menatap Aurel.


"Aku pun juga berharap sama denganmu, bahagialah selalu dengan abangku" ujar Reyhan lirih.


Aurel memandangi Reyhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, yang ia ceritakan adalah kisah sang mawar dan merpati namun cerita tersebut persis seperti dirinya, yang mendapat seribu penolakan dar Reyhan dan Rasya lah yang datang mengobati lukanya.


"Anggaplah ini adalah kencan terakhirku bersamamu. Aku meminta untuk memberikan tiga kencan untukku hanya untuk mendewasakan ku. Dan dengan melepasmu menjadikanku lebih dewasa lagi" ujar Reyhan sembari membingkai wajah Aurel.


Aurel hanya diam sembari menahan tangisnya agar tak tertumpah.


"Rasa cinta abangku lebih besar padamu, aku yang melukai hatimu namun abangku yang mengobatinya." lanjut Reyhan yang juga dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku terlalu naif saat itu, tanpa sadar aku tertinggal selangkah dari abangku. Dan jika kelak ada kehidupan kedua, aku hanya berdoa agar kelak dikehidupan kedua kalinya aku ditakdirkan untuk bersamamu" ucap Reyhan lirih, air mata menetes membasahi pipinya.


"Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya" lanjut Reyhan. Aurel pun menganggukkan kepalanya.


Reyhan langsung memeluk gadis itu. Tangis Aurel pun pecah saat itu juga. Andai jika waktu itu ia tahu lebih awal bahwa pria itu juga memiliki rasa yang sama, mungkin keadaannya akan berbeda.


Kini hati Aurel hanyalah milik Rasya. Sepenuhnya milik pria itu. Dan biarlah kisah mereka berdua menjadi sebuah cerita, karena nantinya Tuhan akan menyiapkan rencana yang lebih indah untuk keduanya.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2