Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 28


__ADS_3

"Bisakah kau mengajariku arti sebuah kedewasaan dan cinta? berikan aku tiga kencan saja untuk mengetahui semuanya, ku mohon." ucap Reyhan tiba-tiba.


Aurel mentatap pria itu dengan seksama. Ia sungguh tidak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh sosok yang saat ini bersamanya.


"Apakah kau sadar dengan ucapanmu?" ujar Aurel.


"Aku sangat sadar" jawab Reyhan namun hanya bergumam dalam hati.


Reyhan mengendikkan bahunya. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu sofa dengan kepala menadah ke atas.


"Izinkan aku bermalam ditempat ini. Abangku pasti menemuiku malam ini. Setidaknya menunggu sampai lukaku sedikit mengering" ucap Reyhan seraya tersenyum.


"Silahkan senyamanmu saja. Nanti aku akan kembali kesini lagi" ujar Aurel.


"Benarkah?" tanya Reyhan lagi.


Aurel mengangguk.


"Setidaknya aku harus bertanggung jawab atas kejadian tadi. Kau bekerja denganku dan kecelakaan itu terjadi saat kau sedang bekerja, dan itu menjadi tanggung jawabku sebagai atasanmu" tutur Aurel, kemudian mengambil tas yang ada di mejanya dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Apakah kita tidak bisa lebih dari sebatas itu" gumam Reyhan yang memandang punggung Aurel yang semakin lama semakin mengecil dan hilang dari pandangannya.


.


.


.


Setibanya Aurel dirumahnya, ia pun bergegas menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Usai mandi, ia pun berjalan menuju lemari pakaian dan mengenakan blouse berwarna navy serta celana jeans.


Setelah semuanya siap, ia pun langsung keluar dari kamarnya. Dilihatnya kedua orang tuanya yang tampak asyik menyaksikan sebuah berita di televisi.


"Ma.. pa.. Aurel izin ke rumah teman" ucap Aurel yang mulai pandai berbohong.


"Teman? teman yang mana?" tanya Alea tampak sedikit bingung.


"Siska ma, mau jenguk dia yang lagi sakit" ujar Aurel kembali berbohong dengan menyebutkan salah satu temannya.


"Maafin gue Sis, bukan bermaksud menyumpahi" gumam Aurel dalam hati.


"Oh, ya sudah hati-hati dijalan ya nak" ucap Alea.


"Iya ma.." sahut Aurel sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Pulangnya jangan terlalu malam" ujar Alviro pada putri semata wayangnya.


"Baiklah pa" timpal Aurel.


"Ma.. pa.. Aurel berangkat dulu" ujarnya yang dibalas sebuah anggukan oleh kedua orang tuanya.


Aurel pun berjalan keluar dan langsung memasuki mobil yang selalu dibawanya.


.


.


.


Aurel tiba di kantornya dengan menenteng kantong plastik besar yang berisi makanan yang ada ditangannya. Saat ia memasuki ruangannya, dilihatnya lelaki yang dulu pernah dikejarnya sedang tertidur dengan pulasnya.


Aurel tersenyum, dan turun ke bawah mengambil perlengkapan yang dibutuhkan oleh pria itu. Dari selimut, pakaian, celana, bahkan pakaian dalam pun disiapkan oleh Aurel.

__ADS_1


Beberapa karyawan yang mendapat shift malam pun melihat heran ke arah atasannya itu. Bagaimana tidak? Aurel sudah seperti menyiapkan perlengkapan untuk suaminya saja. Saat Aurel mengalihkan pandangan ada diantara mereka yang saling bersenggolan siku bahkan saling berpandangan satu sama lain.


Setelah semuanya selesai, Aurel pun kembali menuju ruangannya dan meletakkan semua barang-barang yang diambilnya tadi. Ia pun mengambil selimut dan menyelimuti pria yang sedang terlelap itu.


Namun Aurel terkejut saat Reyhan tiba-tiba menarik tangannya. Alhasil, Aurel pun jatuh bersisian dengan tubuh Reyhan. Mereka memandang satu sama lain, pandangan yang cukup lama.


"Aku serius dengan ucapanku tadi" ujar Reyhan memberanikan dirinya.


"Besok izinkan aku untuk mengambil hari libur. Dan temui aku pukul 8 malam di taman kota. Aku akan menunggumu dan untuk lukaku tidak terlalu parah, akan kupastikan besok sudah sembuh" ucap Reyhan sedikit serak.


Aurel terdiam memandangi Reyhan, dengan ucapan pria itu yang baru saja didengarnya dan dengan posisi mereka seintim ini. Sukses membuat pipi Aurel bersemu.


"Aku.." ucap Aurel pelan.


"Hmm.." ucap Reyhan seolah menunggu jawaban dari Aurel.


"Aku.. aku lapar" ujarnya sedikit gugup. Ia pun langsung bangkit dari posisinya dan duduk di kursi berseberangan dengan pria tersebut.



Aurel membuka bungkusan plastik yang dibawanya tadi yang berlogo ayam geprek ternama di kota itu.


Reyhan memperhatikan Aurel dan kemudian menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul melihat Aurel yang sedikit gugup.


"Kau akan terus seperti itu? melihatku tidak akan membuatmu merasa kenyang!" ujar Aurel ketus untuk menutupi rasa gugupnya.


Reyhan pun beringsut maju dan mengambil bungkusan ayam geprek yang satunya lagi.


"Enak.." ucap Reyhan dan kembali melahap makanannya.


"Aku sudah mempersiapkan semua perlengkapanmu malam ini, termasuk itu.." ujar Aurel seraya menunjuk ke arah pakaian dalam pria.


Uhhuukkk..


"Kau tidak perlu menyiapkannya" ucap Reyhan menahan rasa malunya.


"Sebaiknya kau turuti saja, setelah ini kau mandi dan berganti pakaian!" perintah Aurel.


Reyhan diam tanpa menghiraukan ucapan Aurel, namun pada akhirnya ia akan menuruti kemauan Aurel. Karena kini posisinya mengejar dan bukan dikejar.


Setelah keduanya menghabiskan makanan, Aurel pun sedikit menceramahi Reyhan untuk membersihkan dirinya dan tak lupa pula mengobati lukanya. Setelah berbicara panjang lebar, Aurel pun berpamitan untuk pulang.


❤❤❤❤


Di lain tempat


Rasya memandangi beberapa foto Aurel yang berada di galeri ponselnya. Ia menatap lama potret tersebut dengan perasaan bercampur aduk.


"Mungkin inilah saatnya untukku berkata jujur" ujar Rasya.


Ia mencari kontak Aurel yang ada diponselnya, namun saat Rasya hendak menekan tombol dial, pria tersebut kembali ragu. Pria itu tidak sanggup jika ia harus kehilangan Aurel. Bagaimanapun juga Aurel pasti akan merasa sangat kecewa padanya dan meninggalkannya.


Rasya membanting ponselnya diatas kasur,ia mengusap wajahnya dengan frustasi.



"Maaf, aku harus berbohong padamu karena aku sungguh tak ingin kehilanganmu" gumam Rasya menatap langit- langit.


❤❤❤


Keesokan harinya, mobil Rasya sudah terparkir cantik didepan rumah Aurel. Tentunya ia datang tanpa sepengetahuan kekasihnya. Anggap saja sebuah kejutan kecil untuk kekasihnya itu.

__ADS_1


Alea yang baru saja membukakan pintu dan melihat kedatangan Rasya, langsung disambut oleh senyum hangatnya.


"Rasya.. masuk nak" ucap Alea.


"Ayo sekalian sarapan bareng" lanjutnya.


"Terimakasih tante" ucap Rasya. Alea pun membawa Rasya menuju dapur. Disana sudah ada Alviro yang tampak sedang menikmati sarapannya.


"Rasya sini gabung, sarapan bareng" ujar Alviro.


Rasya pun menganggukkan kepalanya dan menarik salah satu kursi yang ada disana.


"Aurel sebentar lagi turun, dia masih siap-siap. Biasalah anak perawan dandannya lama" tukas Alea seraya terkekeh geli, kemudian meletakkan nasi goreng dihadapan Rasya.


"Silahkan dinikmati" lanjut Alea yang dibalas anggukan oleh Rasya.


Belum lama kemudian, Aurel pun keluar dari kamarnya menuruni undakan tangga. Ia terkejut saat melihat Rasya yang sudah datang sepagi ini.


"Pagi ma.. pa.." sapa Aurel.


"Pagi juga nak" balas kedua orang tuanya.


"Hai Rasya.." sapa Aurel sembari menjatuhkan punggungnya di kursi


"Hai.."


"Tumben pagi udah disini" ucap Aurel.


"Husstt jangan ngomong seperti itu, Rasya nyempetin datang pagi-pagi untuk mengajakmu berangkat bersama" jelas Alea.


Aurel pun ber oh ria. Mereka pun kembali menyantap sarapannya.


.


.


.


Seusai sarapan, baik Aurel maupun Rasya berpamitan kepada Alea dan Alviro. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil Rasya dan melaju ke arah jalanan.


Saat diperjalanan keduanya pun hanya diam tanpa bersuara. Rasya mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Aurel berbicang.


"Papa ingin bertemu denganmu" ujar Rasya membuka suara.


"Om Abi?"


Rasya menganggukan kepalanya.


"Aku belum memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Bagaimana? apakah kamu mempunyai waktu malam ini?" tanya Rasya.


Aurel tampak sedikit berfikir dan kemudian menyetujui ajakan Rasya.


"Baiklah kalau begitu jam 7 malam aku akan menjemputmu" ujar Rasya seraya tersenyum.





Bersambung..

__ADS_1


jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya 🤗


salam manis Ryn ❤


__ADS_2