
Setelah cukup lama berbincang, kedua orang tua Reyhan pun memutuskan untuk berpamitan dikarenakan hari sudah cukup malam. Reyhan tanpa ekspresi sedikit pun memilih untuk lebih dulu keluar dan memasuki mobilnya.
Bukan tanpa alasan tingkah pria itu seketika berubah, memang Irene lah yang memancing kemarahan dari seorang Reyhan.
"Om sama tante pamit dulu ya sayang, nanti kapan-kapan kita main kesini lagi" ucap Irsya yang tak hentinya mengulas senyumnya.
Tentu saja senyum itu yang mampu membius Irene, bukan karena ketampanan wajah Reyhan atau harta yang mereka miliki. Wanita itu hanya haus akan kasih sayang serta kehangatan sebuah keluarga.
"Iya tante" timpal Irene singkat dan juga memperlihatkan senyum manisnya.
Dari dalam mobil Reyhan memperhatikan Irene dan ibunya yang sedang berbincang.
"Cihh.. apakah hidupmu sesusah itu hingga kau mencari perhatian dari kedua orang tuaku?" gumam Reyhan yang beberapa saat kemudian membuang muka.
Setelah kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil, Reyhan pun segera melajukan kendaraannya tersebut ke jalanan.
"Papa perhatikan sedari tadi wajahmu tampak murung, apa kau merasa tidak senang? bukankah kau menyukai gadis tersebut?" ucap Abizar yang tak mendapat tanggapan sedikit pun dari putra bungsunya itu. Reyhan hanya fokus menyetir tanpa bersuara.
Hal tersebut tentu saja memancing emosi dari Abizar melihat anaknya yang sedikit kurang ajar itu, namun dengan cepat Irsya memegang tangan suaminya itu berusaha menenangkannya. Dan hal tersebut mampu meredakan emosi seorang Abizar.
.
.
.
Setelah sampai dikediamannya, Abizar dan Irsya pun segera turun dari mobil. Namun tidak dengan Reyhan.
"Ma.. aku keluar sebentar"
Irsya hanya menganggukkan kepalanya, setelah mengucapkan kalimat tersebut Abizar kembali melajukan mobilnya ke jalanan.
"Dasar anak kurang ajar, semakin lama semakin menjadi saja" gerutu Abizar setelah mobil yang dikendarai Reyhan melaju.
"Sudah pa, ayo kita masuk dan istirahat" ucap Irsya menenangkan suaminya. Kedua pasangan lansia itu pun memasuki rumah.
...
__ADS_1
Di lain tempat, Reyhan memacu kendaraannya begitu cepat. Bahkan beberapa pengendara yang ia lewati pun tampak mengumpat. Namun Reyhan tak menghiraukan mereka, baginya ia harus segera sampai di tempat yang menjadi tujuannya.
Reyhan menepikan mobilnya saat berada didepan kediaman Irene. Pria itu segera turun dari mobilnya. Dan tanpa aba-aba ia menggedor pintu Irene tanpa henti sampai wanita itu muncul dari balik pintu.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu tadi hahh!!" ucap Reyhan lantang.
Irene hanya bungkam.
"Apa kau wanita murahan hingga dengan mudahnya kau berkata seperti itu?"
Irene pun tetap bungkam, wanita itu menundukkan wajahnya.
"Apa kau bisu? jawab aku?!" bentak Reyhan.
"Jadikan aku istrimu" ucap Irene seraya memberanikan dirinya menatap wajah Reyhan.
"Apa kau bilang? apa kau tidak waras?"
"Iya aku tidak waras, jadikan aku istrimu" cicit Irene.
Ia pun dengan segera menindih tubuh irene.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku" ucap Irene sembari mendorong tubuh Reyhan, namun tenaganya tak sebanding dengan pria bertubuh kekar itu.
Reyhan pun mengunci tangan Irene sehingga membuat pergerakan wanita itu semakin minim.
"Bukankah ini yang kau inginkan? rela disentuh oleh pria asing hanya demi uang" ucap Reyhan sarkasme.
Irene hanya menggelengkan kepalanya, seketika air mata pun mengalir dari sudut matanya. Seketika Reyhan pun sadar bahwa sikapnya itu sudah melewati batas. Dengan segera ia pun beranjak dari posisinya.
"Maafkan aku" gumam Reyhan yang duduk di samping Irene yang juga bangkit dari posisi tersebut. Air mata pun semakin deras mengalir dari pelupuk matanya.
"Kau boleh memarahiku tapi tidak dengan cara yang seperti tadi, brengs*ek!" ucap Irene yang sudah berani meninggikan suaranya.
"Maafkan aku, aku hanya memberikan sedikit pelajaran padamu"
"Pelajaran? kau hampir merenggut kegadisanku!" tukas Irene kesal.
__ADS_1
"Kegadisanmu? sungguh dari segi mana pun aku tak menginginkanmu" ujar Reyhan sembari melihat Irene dari bawah hingga atas.
Sontak saja gadis itu langsung menendang tulang kering Reyhan hingga pria itu merasa kesakitan.
"Awww.. Hei apa kau gila" tukas Reyhan sembariengaduh kesakitan.
"Iya aku gila, pergi kau dari sini" ujar Irene sembari memukul kepala Reyhan menggunakan bantal.
Reyhan pun berjalan sedikit pincang sembari mengeluarkan umpatan-umpatan karena Irene yang tak hentinya melemparnya dengan bantal. Saat Reyhan berada di bibir pintu, dengan segera Irene menutup pintu tersebut.
Reyhan pun yang sedari tadi memegangi kakinya sembari mengaduh kesakitan, sesaat kemudian tersadar.
"Hei kau, aku belum selesai bicara denganmu tadi. Ini menyangkut masa bujangku" seru Reyhan sembari menggedor pintu.
Namun tak ada jawaban dari Irene seolah wanita itu menulikan telinganya. Akan tetapi Reyhan pun tetap kekeh menggedor pintu tersebut. Belum lama kemudian, lampu didepan pun mati. Tentu saja ulah Irene yang malas meladeni Reyhan yang berteriak sedari tadi.
"Awas saja kau, aku biarkan malam ini. Tunggu saja pembalasanku nanti" ucap Reyhan yang kemudian angkat kaki dari tempat tersebut.
Irene dari dalam mencoba menguping Reyhan yang sudah pergi dari sana.
"Hufftt syukurlah aku bebas, dasar lelaki tidak waras" gerutu Irene yang kemudian melangkahkan kakinya ke atas tempat tidur dan memeluk bantal guling kesayangannya dengan nyaman.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan vote seikhlasnya.
salam manis ryn🖤
__ADS_1