
Reyhan berulang kali mencoba fokus pada pekerjaannya, namun kejadian kemarin selalu mengusiknya. Ia kembali membuka lembar dokumen yang ada di mejanya. Tak lama kemudian ia pun jengah dengan semua itu.
Reyhan mengambil jas nya dan langsung keluar dari ruangannya.
"Tolong cancel semua jadwal saya hari ini" ucapnya pada sekretarisnya melalui telepon.
Reyhan segera memasuki mobilnya menuju ke rumah Irene.
...
Pria itu menepikan mobilnya tepat didepan halaman kontrakan Irene. Awalnya ia ragu untuk menemui gadis itu, jujur ia malu dengan sikapnya yang sudah membuat Irene menjatuhkan air matanya. Karena ia ingat akan perbuatannya pada Aurel dulu.
Namun setelah berpikir panjang, Reyhan pun mengambil langkah untuk keluar dari mobilnya dan menemui gadis itu.
Tokkk..tokkk..tokkk..
Reyhan mengetuk pintu dengan sedikit sopan, tidak seperti biasanya. Saat ia meneriakan nama gadis itu seakan ia meneriaki maling sembari menggedor pintu seakan pintu itu akan hancur saat itu juga.
Belum lama kemudian, Irene keluar membukakan pintu. Raut wajahnya masih terlihat pucat.
"Ada perlu apa?" tanya Irene tanpa berbasa basi atau menawari Reyhan untuk masuk terlebih dulu.
"Apakah kau tidak ingin menawari calon suamimu ini masuk?" ujar Reyhan dengan sangat sopan bak bocah lugu tanpa dosa.
Irene pun membiarkan pintu terbuka dan melangkah lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ternyata wanita lebih menyeramkan saat ia sedang marah" batin Reyhan sembari mengekor Irene.
Irene tanpa menghiraukan keberadaan Reyhan kembali bergelung dengan selimutnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Reyhan sedikit ragu sembari meletakkan parsel buah yang dibelinya diperjalanan tadi.
Irene hanya diam tanpa membalas ucapan Reyhan.
"Jangan mendiamiku seperti ini" ucap Reyhan lagi.
__ADS_1
"Bukankah kau orang yang pintar? apakah aku terlihat baik-baik saja dimatamu?"
Jlebbb..
Sepatah kata yang diucapkan oleh Irene mengandung sepuluh pisau yang mampu mencabik harga diri Reyhan. Namun pria itu tak bisa berbuat apa-apa, karena disini ia sadar bahwa dirinyalah yang salah sedari awal.
"Apa kau ingin aku membawamu ke rumah sakit lagi?" tanya Reyhan.
Irene menyingkap selimutnya menatap reyhan dengan tatapan tajam.
"Maaf bukan maksudku untuk menyinggungmu, aku hanya ingin kau segera pulih" jelas Reyhan.
"Mengapa kau memperdulikanku?"
"Karena kau calon istriku" ucap Reyhan dengan gamblang.
"Jangan jadikan aku istrimu, kau akan menyesalinya nanti" gumam Irene kembali menarik selimutnya dan membelakangi Reyhan.
Reyhan menghela napas mendengar penuturan dari Irene.
Mendengar hal itu hati Irene pun ikut merasa sakit, ia meremas selimutnya sembari menahan air matanya untuk tidak tertumpah. Namun dengan tidak sopannya, air mata itu tetap saja jatuh dari pelupuk matanya. Dengan sigap Irene menghapusnya.
"Aku ingin beristirahat, kau boleh pergi" ucap Irene yang masih dengan posisi yang sama tanpa menatap lawan bicaranya.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sekali lagi tolong
maafkan aku" ujar Reyhan yang kemudian melangkahkan kakinya pergi dari kediaman Irene.
Irene kembali membuka selimutnya memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah pergi. Dilihatnya parcel yang berisi bermacam buah tersebut. Karena Irene masih merasa mual, ia pun membuka parcel tersebut dan mengambil satu buah jeruk untuk dimakannya.
"Hmmm.. segar sekali" ucap Irene. Ia pun kembali memasukkan jeruk yang sudah ia kupas ke dalam mulutnya.
Namun saat mulutnya penuh dengan jeruk, tiba-tiba Reyhan kembali membuat Irene langsung tersedak saat itu juga.
"Maaf ponselku tertinggal" ujar Reyhan mengambil ponselnya yang tak jauh dari parcel tadi.
__ADS_1
"Apakah kau menyukainya?" tanya Reyhan sembari tersenyum melihat tingkah Irene.
"Tidak" timpal Irene acuh sembari meletakkan jeruk yang ada di genggamannya.
"Tapi dari raut wajahmu berkata lain" ujar Reyhan.
Irene pun langsung mendesis sembari melemparkan tatapan tajam.
"Jika kau menginginkannya, katakan saja padaku. Aku akan membawa satu truk besar yang berisi buah jeruk didalamnya" ujar Reyhan .
"Apa kau gila? sebaiknya kau pergi karena aku ingin beristirahat" ujar Irene kesal.
Reyhan tersenyum saat melihat sikap Irene kembali seperti semula. Tanpa ia sadari, ia pun mendekati gadis itu sembari mengacak rambut Irene.
"Lebih baik aku mendengarmu mengumpat dari pada kau mendiamiku"
Mendapat perlakuan seperti itu, seketika Irene pun membeku tak berkutik sama sekali.
"Auhh.. lengket sekali, sudah berapa hari kau tidak mencuci rambutmu?" tukas Reyhan.
Irene pun langsung tersadar dengan cepat mendorong Reyhan untuk keluar dari rumahnya. Gadis itu langsung mengunci pintunya dan kemudian bersandar di pintu tersebut sembari memegang dadanya. Debaran aneh yang dirasakannya saat ini terasa sedikit menggangu.
"Apa ini? mengapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang?" gumam Irene.
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa untuk like,komen, dan vote yak🖤
__ADS_1