Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 70


__ADS_3

Ciitttt. .


Alviro mengerem mendadak. Ia pun keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa.


jika kau rindu aku segera temui aku di salon xx jalan xxx karena aku tidak membawa mobil


Masih terbayang olehnya percakapannya melalui aplikasi whatsapp dengan Alea tadi.


Lelaki yang mengaku secret tersebut memanglah dirinya. Alea memang tidak mengetahui kontak wa nya karena yang sewaktu itu pernah Alviro sebutkan adalah nomor yang dipakainya saat berada di New York saja.


Alviro mempercepat langkah kakinya memasuki salon tersebut mencari keberadaan Alea.


Ia pun menemukan sosok yang dicarinya sedari tadi.


Tanpa aba-aba Alviro langsung mendekati Alea dan membawa tubuh mungil Alea ke dalam pelukannya.


Alea terkejut dengan kedatangan Alviro ditambah lagi Alviro yang tiba-tiba saja langsung memeluk dirinya.


"hey!! apa yang kau lakukan!!" seru Alea mencoba melepaskan dirinya, namun semua itu tak berhasil dilakukannya karena bagaimana pun juga Alviroempunyai tenaga yang lebih kuat dibandingkan Alea.


"biarkan seperti ini sejenak, aku merindukanmu" ucap Alviro.


Alea terdiam mendengar ucapan Alviro. Ia mencoba mencerna ucapan lelaki yang sedang memeluknya.


"apakah dia si pengirim kata-kata indah tadi?" batin Alea.


Alea pun mengembangkan senyumnya mengetahui bahwa lelaki yang mengiriminya kata-kata indah tersebut adalah Alviro.


Sungguh ia juga merindukan lelaki ini, bahkan teramat sangat. Alea mencoba untuk membalas pelukan dari Alviro, namun lagi-lagi ia dihempaskan dengan kenyataan bahwa Alviro sudah menjadi milik wanita lain dan hal itu membuat hati Alea semakin berdarah.


Alea pun mengurungkan niatnya membalas pelukan Alviro, ia kembali memberontak supaya Alviro melepaskan pelukannya.


Dengan terpaksa Alviro pun melepaskan pelukannya.


PLAKK!!


Satu buah tamparan mendarat di pipi kiri Alviro.


"apakah aku terlihat seperti wanita murahan dimatamu? apakah belum cukup bagimu menyakitiku dan kemudian membuangku hanya untuk memilih wanita lain? tolong jangan lagi mengusik ketenanganku, sungguh aku membencimu!!"


Alviro benar-benar merasa tertampar dengan apa yang baru saja diucapkan Alea.


"Leah, dengar penjelasanku dulu" ujar Alviro mencekal tangan Alea.


"sepertinya aku sedang menonton sebuah drama disini" Steve yang mulai bersuara karena sedari tadi ia memperhatikan keduanya.


Alea pun langsung melepaskan tangannya dari Alviro.


Ia kemudian menghampiri Steve dan sedikit menariknya untuk pergi dari tempat tersebut.


"ayo kita pulang" ucap Alea.


Steve pun langsung menuruti kata Alea, namun sebelum memasuki mobilnya ia melihat ke arah Alviro dengan tatapan yang sulit diartikan.


Steve kemudian melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Steve yang sedang mengemudikan mobilnya itu sesekali melihat Alea yang tampak menyembunyikan kesedihannya.


"apakah kalian bertengkar? sebelumnya kalian tampak akrab" ucap Steve membuka suara.


"tolong fokus menyetir saja Steve, aku sedang tidak ingin bicara" ucap Alea yang mencoba menahan air matanya.


Steve hanya bisa menuruti kemauan dari wanita yang ada disebelahnya itu.


Sesekali Steve melihat Alea menyeka air matanya.

__ADS_1


Steve memarkirkan mobilnya dihalaman rumahnya.


Ia membukakan pintu untuk Alea dan mengajaknya masuk ke dalam.


"kapan bunda pulang?" tanya Alea pada Steve.


"akhirnya kau bersuara juga" ujar Steve dengan nada mengejek.


Alea pun langsung mencebikkan mulutnya.


"tante mungkin akan memakan waktu satu minggu disana " lanjut Steve.


Arini beberapa hari yang lalu kembali ke Indonesia untuk mengunjungi makam Suami dan juga putra semata wayangnya itu.


Arini sempat mengajak Alea sebelumnya, namun karena jadwal Alea yang padat membuatnya tidak bisa ikut bersama Arini.


Alea menuju ke kamar yang dulu pernah ditempatinya. Ia membaringkan tubuhnya yang sangat lelah. Lelah dengan apa yang membolak-balikan hatinya, lelah dengan hati yang tidak sejalan dengan akal sehatnya.


Drrrtttt. .


Alea mengangkat ponselnya yang bergetar.


"baik saya akan segera kesana" ucap Alea dengan seseorang diseberang telepon dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ia pun beranjak dari kasurnya dan menghampiri Steve.


"aku akan mengambil mobilku dibengkel" ucap Alea.


Steve pun langsung mengambil kunci mobil yang ada diatas meja.


"mari aku antar"


"tidak usah Steve, aku akan sedikit lama karena setelah itu aku akan menjenguk Allice" ujar Alea.


"baiklah" ucap Steve.


Ketika Steve memastikan bahwa Alea sudah berangkat menaiki taksi, Steve langsung menghubungi seseorang.


"apakah kita bisa bicara? aku akan mengirimkan lokasinya padamu" ujar Steve seraya mematikan sambungan teleponnya.


.


.


.


.


Steve sedari tadi menunggu seseorang yang menjadi lawan bicaranya ditelepon.


Ia menuangkan alkohol dalam gelas berukuran mini dan menenggaknya sampai tandas. Belum lama kemudian suara bel rumahnya berbunyi. Steve beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu untuk tamu yang sedari tadi ditunggunya.


"silahkan masuk" ucap Steve mempersilahkan.


"apa tujuanmu membawaku kerumahmu?" tanya Alviro sembari duduk disofa.


"kau mau?" tawar Steve seraya menuangkan alkoholnya dan menyodorkannya pada Alviro.


Alviro pun melihat alkohol tersebut sekilas kemudian tersenyum sinis.


"aku melihat tampaknya kau sedang frustasi" ucap Steve.


"dan hanya ini obat dari segala rasa frustasiku, aku merasa lega setelah meminumnya" pancing Steve.


"terimakasih telah memberikan perhatian lebih terhadapku, tapi sayangnya dugaanmu salah" timpal Alviro dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"benarkah? lantas apa hubunganmu dengannya?" tanya Steve membalas tatapan Alviro.


"aku dan Cassandra hanya tetangga" ucap Alviro santai.


"benarkah? tapi aku rasa kalian juga pernah mengenal sebelumnya dilihat dari bagaimana kau memanggilnya dengan nama Leah" ucap Steve.


Alviro terkejut, tanpa sadar ia pun mengambil alkohol yang ada dihadapannya hingga tandas dan menuangkannya lagi.


"lidahku terasa terbakar" ujar Alviro dalam hati, namun ia tidak ingin jika Steve melihat kelemahannya, dengan gaya seolah ia pernah menjadi seorang alkoholik ia pun kembali menenggak minuman memabukkan tersebut.


"bukan urusanmu" ujar Alviro seraya mengernyitkan keningnya.


Steve memperhatikan Alviro yang kembali menuangkan alkohol dan menenggaknya hingga tandas, satu hal yang Steve yakini bahwa Alviro tidak pernah minum sebelumnya karena dilihat dari kening Alviro yang mengernyit tiap kali alkohol melewati tenggorokannya.


"kau. . kau hanya sepupunya bukan tunangannya" racau Alviro yang sudah mabuk.


"ternyata pencarianmu sudah sejauh itu" timpal Steve.


"aku. ."


Alea yang baru saja tiba dikediaman Steve terkejut mendapati Alviro ada disana dalam keadaan mabuk, ia sangat paham pasti itu adalah ulah Steve, bagaimana pun juga Alea sangat tahu jika mantan suaminya itu tidak pernah meminum minuman terkutuk itu sebelumnya bahkan Alviro pun tidak menyukai kopi.


Alea dengan wajah memerah hendak mendekati Steve.


"aku. . mantan suami Alea" lanjut Alviro.


Alea membeku seketika, Steve pun mengisyaratkan pada Alea agar tetap ditempatnya.


"kau tahu, Alea membenciku karena aku mencampakkannya demi wanita lain, wanita tersebut adalah mantan kekasih dari mendiang kakakku, aku berjanji untuk menjaganya dan suatu ketika wanita tersebut hamil atas perbuatan lelaki lain aku menanggungnya demi memegang janjiku pada mendiang kakakku" ucap Alviro dengan mata yang mulai memerah.


"aku mencampakkan wanita yang kucintai demi wanita lain" Alviro mulai tersedu.


"kau menikahi wanita itu?" tanya Steve.


Alviro menggelengkan kepalanya.


"dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia" ucap Alviro.


Alea terkejut mendengar penuturan Alviro, air mata pun mulai jatuh dari pelupuk matanya, ia telah salah menduga bahwa Alviro adalah lelaki brengsek. Alea mencoba untuk kembali mendengarkan ocehan Alviro.


"lantas cincin itu. ." tanya Steve lagi.


"ini cincin pernikahanku dengan Alea dulu, aku sengaja memakainya mengingat dulunya aku pernah menyia-nyiakannya" ucap Alviro seraya tersenyum mengusap cincin tersebut.


"kau tahu, selama dua tahun ini aku tidak pernah sedetik pun melupakannya. Aku tidur dengan memeluk guling kesayangannya, di pagi hari aku membuat dua piring nasi goreng dan malam harinya jika aku lapar aku memasak dua mangkuk mie instan" lanjut Alviro.


"namun sekarang dia membenciku, karena kebodohanku yang seolah tanpa dosa mendekatinya" ujar Alviro lirih.


Alea yang sedari tadi ikut mendengarkan racauan Alviro langsung menyeret kakinya pergi dari sana.


Ia merasa sudah tidak sanggup lagi mendengarkan penuturan dari mantan suaminya itu.


Alea langsung berlari memasuki mobilnya. Isak tangis yang sedari tadi ditahannya pun langsung pecah. Alea tidak pernah mengetahui jika Alviro lah yang lebih menderita dibandingkan dirinya.


Fakta bahwa suaminya juga mencintainya membuatnya hancur, seandainya jika malam itu Alviro berkata jujur pastinya Alea akan tetap mempertahankan dirinya.


"kenapa mas. . kenapa kamu tega bohong sama aku" ratap Alea sambil tersedu.




terimakasih sudah membaca😊


jangan lupa like, komen, serta votenya yah supaya author lebih semangat lagi nulisnya😊

__ADS_1


salam manis RPS😊


__ADS_2