Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 23


__ADS_3

Reyhan dan kedua temannya baru saja tiba di kampus. Mereka pun keluar dari parkiran setelah memarkirkan sepeda motornya masing-masing.


Dilihatnya Vanesha yang baru saja tiba diantar menggunakan mobil oleh papanya yang tidak lain adalah Roland. Vanesha pun dengan angkuhnya melangkah melewati ketiganya tanpa menghiraukan mereka yang sedari tadi memandang Vanesha dengan tatapan aneh.


"Wooww.." seru Dito saat melihat Vanesha yang melenggang begitu saja.


"Minggir woy, putri Indonesia mau lewat" sambung Dito.


Vanesha pun berbalik dan menghampiri Dito. Namun Dito menjadi salah tingkah saat Vanesha tepat berada didepannya.


"Maksud lo apa?" tukas Vanesha dengan sedikit mendongak karena postur tubuh Dito yang jauh lebih tinggi darinya.


Dito pun hanya terdiam dan menatap ke dalam manik mata wanita yang ada dihadapannya. Begitu juga sebaliknya, Vanesha menatap mata indah berwarna hazel itu lekat-lekat.


Deggg... Deggg...


Keduanya pun saling menatap seraya menikmati degupan jantung yang semakin kencang.


"Ehmmm..." Reyhan berdeham, seolah ia dan David bak manusia yang tak kasat mata. Seolah ditempat itu hanya ada mereka.


Dito pun tersadar memalingkan wajahnya, sementara Vanesha langsung melangkah mundur dari posisi awalnya.


"Tumben lo pake make up, terus bibir lo juga kayak habis makan gorengan. Biasanya lo kucel" cerca David memperhatikan wajah Vanesha.


"Berisik lo! lag.. lagian terserah gue mau dandan apa nggaknya" timpal Vanesha ketus.


"Gue cabut duluan, kalian lanjutin aja berantemnya" ujar Reyhan melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut.


Vanesha membuka tasnya mencari tissue. Melihat Reyhan pergi, David pun mengekor pada Reyhan.


"Silahkan dilanjutkan" ucap David seraya berlari kecil menyusul Reyhan.


Vanesha memberengut saat melihat tingkah konyol David. Ia pun menemukan tissue yang sedari tadi dicarinya. Baru saja Vanesha hendak menghapus riasannya, tangan Dito pun langsung mencegahnya.


Vanesha lupa sosok yang satu ini masih diam ditempat.


"Jangan dihapus" cegah Dito.


Pria tersebut mendekati Vanesha dan memajukan wajahnya tepat didekat telinga Vanesha.


"Kamu terlihat lebih cantik hari ini, tapi aku menyukaimu apa adanya" ujar Dito berbisik tepat didekat telinga Vanesha.

__ADS_1


Vanesha yang mempunyai sejuta perlawanan pun langsung membeku sesaat. Tanpa sadar pria yang baru saja membisikkan untaian kalimat tersebut berlalu dari hadapannya.


Vanesha memutar badannya melihat Dito melambaikan tangannya seraya tersenyum simpul.


"Ada apa dengannya, dan ada apa pula denganku" gumam Vanesha seraya memegang dadanya merasakan debaran jantungnya.


❤❤❤


"Apakah tembok besar ini yang akan kamu lukis?" tanya Alviro seraya mengamati.


"Iya pa, rencananya disitu" timpal Aurel.


Alviro memegang dagunya seraya mengangguk paham.


Ia mampir sebentar dan melihat-lihat pusat perbelanjaan yang dikelola oleh putrinya itu.


"Apakah mulai hari ini lukisan itu akan dibuat?" tanya Alviro lagi.


"Iya pa"


"Mana orangnya? ini sudah mendekati jam makan siang. Kenapa dia belum datang juga?" ucap Alviro.


"Pelukisnya akan bekerja sore hingga malam pa, karena waktu disiang hari ia berangkat kuliah" ujar Aurel sedikit ragu.


Aurel menimpalinya dengan sebuah anggukan. Ia masih berat jika harus jujur pada papanya bahwa yang akan bekerja dengannya adalah Reyhan. Tentu saja Alviro akan menolaknya.


"Apa kamu yakin ia mampu?" ujar Alviro dengan seribu pertanyaan.


"Aku sudah melihat hasil karyanya pa, dan menurutku itu hasilnya tidak mengecewakan" timpal Aurel.


"Baiklah, bagaimana pun juga kelola tempat ini dengan baik. Oh ya, papa kesini bukan hanya ingin melihat-lihat. Papa juga ingin mengajakmu makan diluar" jelas Alviro.


"Bagaimana? apa putriku yang cantik ini bisa menemaniku makan?" lanjut Alviro lagi.


"Tentu saja papa. Sesibuk apapun itu jika papa menginginkan aku menemani papa, maka akan aku lakukan" ujar Aurel.


"Baiklah kalau begitu mari kita berangkat" ucap sang papa dengan antusias.


Aurel pun langsung menggandeng lengan papanya itu. Ia merasa sedikit lega, karena papanya tidak bertanya lebih jauh lagi tentang seseorang yang akan bekerja padanya.


.

__ADS_1


.


.


Disebuah Restoran


Aurel dan Alviro menyantap makanan yang tersaji dihadapannya. Mereka memilih duduk di dekat sebuah jendela dan sesekali melihat ke arah jalanan.


"Tidakkah kamu mempunyai rencana yang besar dengan Rasya?" ujar Alviro tiba-tiba seraya menyeka mulutnya dengan tissue.


"Maksud papa?"


"Menikah dengan Rasya" ucap Alviro seraya tersenyum.


Uhhuukkk..


Aurel yang terkejut mendengar penuturan dari papanya itu langsung tersedak. Ia pun langsung meraih jus jeruk yang dipesannya tadi.


"Ada apa? bukankah kalian sudah pantas untuk menikah, mengingat usia kalian yang sudah terbilang tidak muda lagi" ujar Alviro.


"Papa berharap banyak dengan Rasya, dan menurut papa Rasya adalah pria yang baik. Ia mampu menaklukkan sikap kekanak-kanakan kamu. Pria yang tampan dan juga mapan, bahkan wanita diluaran sana banyak yang mendambakannya" jelas Alviro panjang lebar.


"Tapi pa.. Aurel belum kepikiran untuk menikah" sahut Aurel seraya tertawa kecil, menampakkan deretan gigi putihnya.


"Baiklah, untuk keputusan yang baru saja papa bicarakan, tentu ada di tanganmu. Papa sebagai orang tua hanya bisa memberikan arahan yang terbaik untuk anaknya" ucap Alviro tersenyum.


"Cepat habiskan makananmu nak" lanjut Alviro.


Aurel pun kembali melanjutkan kegiatannya yang baru saja tertunda. Sesekali ia melirik papanya yang memandang ke arah luar jendela. Ia menangkap ekspresi kecewa di wajah yang sudah mulai berkeriput itu.


"Maafkan aku pa.." gumam Aurel dalam hati.





Bersambung...


Jangan lupa untuk like,komen, dan votenya ya kesayanganku 🤗

__ADS_1


Salam manis Ryn ❤


__ADS_2