Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 8


__ADS_3

Pagi ini Aurel memberhentikan mobilnya tidak jauh dari kampus Reyhan. Jika biasanya ia keluar dari mobil sembari menunggunya, namun kali ini tidak. Ia hanya duduk di dalam mobil sembari melihat sosok yang biasa ditunggunya.


Belum lama kemudian, ia dari spion mobil jika Reyhan sudah datang dengan menaiki motor kesayangannya.


Aurel baru saja hendak membuka pintu mobil, namun niat tersebut diurungkannya.


Entah mengapa ucapan papanya semalam masih saja terngiang di telinganya. Alhasil, ia pun hanya melihat Reyhan yang melintas melewati mobilnya dengan tatapan sendu. Aurel pun melajukan kembali mobilnya.


Reyhan memberhentikan sepeda motornya dan membuka kaca helmnya saat melihat mobil Aurel yang melaju begitu saja. Entah mengapa Reyhan merasa wanita yang biasanya rutin menyapanya kini tampaknya mulai menjauh. Entah mengapa ia merasa kehilangan saat melihat perubahan Aurel.


"Ada apa denganmu?" gumam Reyhan dan langsung melajukan sepeda motornya.


.


.


.


Abizar duduk seraya membaca di dalam ruangan putra sulungnya itu. Sesekali ia memperhatikan Rasya yang tampak terdiam dan sesekali menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apakah ada masalah?" tanya Abizar seraya menutup bukunya dan menaikkan kacamatanya.


Rasya pun hanya menjawab papanya itu dengan menggelengkan kepalanya.


"Papa mengenalmu sudah 25 tahun ini nak, papa tahu saat ini kamu sedang kesulitan" tutur Abizar seraya tersenyum.


Rasya pun langsung menoleh ke arah Abizar.


"Silahkan cerita ke papa, siapa tahu papa bisa bantu kamu" lanjut Abizar.


"Apakah papa pernah mencintai wanita, namun wanita tersebut mencintai pria lain?" tanya Rasya.


"Hmmm.. ternyata ini masalah wanita" ujar Abizar memegang dagunya kemudian terkekeh.


"Tentu saja papa pernah gagal dalam hal percintaan" ucap Abizar.


"Apakah salah jika aku memperjuangkan cintaku walaupun wanita tersebut mencintai pria lain?" tanya Rasya lagi.


"Apakah kamu pernah mengungkapkan perasaanmu?" tanya Abizar balik.


Rasya pun menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kamu tahu bahwa wanita tersebut mencintai pria lain jika kamu belum membicarakan hal itu" ujar sang papa.


"Tidak ada salahnya jika kamu berjuang saat ini nak, bicarakan padanya bahwa kamu memiliki niat yang baik padanya. Jika dia menolakmu dengan alasan bahwa ia tidak bisa menerimamu, maka lepaskanlah. Jangan pernah memaksakan kehendakmu" tutur Abizar panjang lebar.


"Wanita itu mempunyai hati selembut busa, namun membuat perih dimata. Intinya jika kelak ia menolakmu, maka kamu harus menerimanya dengan lapang dada" lanjut Abizar.


Rasya pun mengangguk paham.


"Makasih pa atas nasihatnya" ucap Rasya seraya tersenyum.


"Tidak perlu berterimakasih, sudah sepantasnya papa sebagai orang tua mendengarkan keluh kesahmu" ujar Abizar.


Rasya pun tersenyum.


"Siapa wanita yang sudah berhasil mencuri hati anak sulungku?" tanya Abizar.

__ADS_1


"Maaf pa, saat ini Rasya belum bisa kasih tahu papa" ujar Rasya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Semoga berhasil" tukas Abizar seraya menepuk pundak putranya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Sore ini Alviro dan Alea tampak sibuk mengemasi barang-barangnya. Aurel yang baru saja pulang dari kerja tampak bingung melihat kedua orang tuanya.


"Mau kemana ma bawa barang sebanyak ini?" tanya Aurel.


"Papamu ada tugas keluar kota nak" timpal Alea.


"Tapi kenapa harus bawa dua koper ma?" tanya Aurel lagi.


"Mama kamu mau ikut juga, padahal papa bisa sendiri" tukas Alviro.


"Kamu ganjen mas, apalagi kalau lagi bareng sama Roland" ketus Alea seraya melemparkan tatapan membunuh pada Alviro.


"Papa nggak ganjen kok" kilah Alviro.


"Mas sama Roland itu tua-tua keladi, makin tua makin jadi" ujar Alea geram.


Alviro yang tak mau mendengarkan ocehan istrinya itu, dengan sigap langsung membawa koper tersebut untuk dimasukkan ke bagasi mobil.


Aurel yang melihat tingkah kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, mama sama papa berangkat dulu ya sayang. Sabtu depan mama pulang, kamu nggak apa-apa ya tinggal sama Bik Inem" ujar Alea.


"Iya ma" ucap Aurel patuh.


"Iya pa, hati-hati dijalan" ucap Aurel seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Aurel pun mengantarkan kepergian kedua orang tuanya sampai depan. Setelah kepergian orang tuanya, ia pun langsung memasuki kamarnya dan membersihkan tubuhnya.


.


.


.


Tingg..


Notifikasi pesan masuk. Rasya pun meraih ponselnya.


*From: Om Alviro


Saya titip Aurel ke kamu, tolong luangkan waktu untuk mengunjungi Aurel sampai Om dan Tante pulang dari luar kota*.


Rasya membaca pesan singkat yang tidak lain dari Alviro. Ia pun mengetikkan balasan pada pesan singkat tersebut.


.


.


.


Reyhan berbaring di kasur yang berukuran king size. Ia pun memandang langit-langit seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


Flashback On:


Reyhan membonceng Aurel saat pergi ke sekolah. Setiap pagi, ia selalu mengantar wanita tersebut.


Reyhan pun memberhentikan sepeda motornya tepat di depan gerbang sekolah.


"Terimakasih ya Reyhan, maaf aku ngerepotin kamu terus" ucap Aurel.


Reyhan hanya mengangguk patuh.


"Ya udah kamu berangkat sekarang, nanti kamu telat" ujar Aurel seraya tersenyum.


Degg..degg..deggg..


Entah mengapa jantung Reyhan berpacu dengan cepat saat berhadapan dengan wanita yang mengenakan baju putih abu-abu yang ada dihadapannya ini.


Namun Reyhan pun dengan keras mencoba untuk menormalkan wajahnya agar tidak gugup didepan Aurel.


"Hai Aurel.." ucap salah satu teman Aurel.


"Hai Nay.." balas Aurel seraya menghampiri temannya itu.


"Siapa pria yang selalu mengantarmu itu?" tanya teman Aurel.


"Oh dia Reyhan, tampankan?" ujar Aurel.


"Adikmu?"


"Bukan, dia pacarku" ucap Aurel secara tiba-tiba.


Reyhan yang mendengar percakapan keduanya pun langsung memalingkan wajahnya, namun dalam hatinya ia pun berteriak "Yes"


"Kamu yakin pacaran sama anak SMP? ayolah Aurel, Johan menyukaimu. Dia lebih dewasa dibandingkan pria itu" ucap teman Aurel setengah berbisik.


Reyhan pun dapat mendengarkan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita yang bersama Aurel tersebut. Ia pun langsung melajukan sepeda motornya menuju jalanan.


Reyhan tentu saja merasa sakit dengan ucapan wanita barusan. Namun, Reyhan sadar bahwa dia hanyalah seorang bocah yang tidak pantas bersama dengan Aurel.


"Dia benar, aku hanyalah bocah ingusan. Tidak pantas bersama wanita dewasa sepertimu" gumam Reyhan.


Flashback Off


.


.





Bersambung...


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk like,komen, dan votenya yah🤗


salam manis Ryn.

__ADS_1


__ADS_2