
Alviro memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mantan istrinya sekaligus gadis Loly yang dicarinya.
Alviro memberhentikan mobilnya didepan gang rumah Alea. Ia pun berlari menuju ke rumah Alea.
"Alea. . Alea. ." panggil Alviro menggedor pintu.
Namun ia tidak mendapati sahutan dari dalam.
Alviro mencoba mengintip celah jendela, akan tetapi ia mendapati didalam rumah sangat gelap yang berarti bahwa Alea tidak ada disana karena setahu Alviro mantan istrinya itu tidak akan bisa tidur jika mematikan lampu.
Alviro pun memilih untuk menunggu Alea didalam mobil.
"betapa bodohnya aku tidak mengetahui jika kamu adalah gadis itu" gumam Alviro.
Alviro mencoba untuk menghubungi Alea dan mengambil ponsel dari sakunya, naas nya ponsel tersebut tidak ada.
Alviro baru ingat bahwa ponselnya tertinggal di sofa ruang tamu.
Ia mengambil foto yang ada di sakunya. gadis kecil dengan pipi sedikit gembul dengan rambut yang dikuncir kuda serta poni lurus yang menutupi keningnya.
"aku bahkan tak mengenalimu bahwa kamulah yang ada disampingku selama ini" ucap Alviro dengan mata yang memerah seraya mengusap foto tersebut.
.
.
.
.
Alviro terbangun dari tidurnya, hari pun sudah pagi.
Dilihatnya arloji yang berada ditangannya sudah menunjukkan pukul 07:00.
Ia kembali mengecek rumah Alea, namun rumah tersebut juga sudah terkunci.
"apakah Alea sudah berangkat bekerja?" gumamnya.
Alviro kembali menuju mobilnya hendak menyusul Alea ditempat kerjanya, namun ia melihat pantulan dirinya dimobil dengan rambut yang acak-acakan dan muka yang kusut khas orang yang baru bangun tidur.
"sepertinya aku harus pulang dan membersihkan diriku terlebih dahulu" ucap Alviro.
Alviro pun langsung bergegas menuju rumahnya.
.
.
.
.
Roland sedari tadi menghubungi Alviro namun tidak ada jawaban dari atasannya itu.
Ia lupa memberitahukan kepada Alviro bahwa para pemegang saham yang berada diruang rapat kemarin meminta untuk mengadakan rapat lebih awal karena mereka juga memiliki kesibukan masing-masing.
Roland pun memilih untuk menemui atasannya tersebut dirumahnya.
.
.
.
.
Roland tiba di rumah Alviro. ia pun langsung menekan bel rumah Alviro seraya berteriak.
"pak bos yuhuuu. . pak bos. ."teriak Roland.
"ngapain lo teriak-teriak" ujar Alviro yang berada dibelakang Roland.
"ehh dasarr mimi peri" ucap Roland latah terkejut mendapati Alviro yang berada dibelakangnya.
__ADS_1
Roland pun melihat penampilan sahabatnya ini masih acak-acakan.
"lo belum siap ke kantor bro?" ujar Roland dengan bahasa informal.
"minggir gue mau mandi dulu" tukas Alviro yang langsung membuka pintunya.
.
.
.
Alviro selesai membersihkan dirinya dan keluar dengan setelan kantornya.
Ia meraih ponselnya yang bergetar sedari tadi, Alviro pun langsung menjawab panggilan dari sang papa.
"ada apa pa?" tanya Alviro
"kamu itu ngurus kantor apa main kucing-kucingan hahh!! kemarin papa dapat laporan bahwa kamu membuat membuat mereka lama menunggu diruang rapat setelah itu kamu mengundur waktu rapat. Kamu mau bikin perusahaan kacau?!" bentak Reksa.
Mendengar suara sang papa yang menggelegar tersebut Alviro menjauhkan ponsel dari telinganya.
"kamu dengar tidak?" tanya Reksa.
"iya pa" jawab Alviro.
"kalau nanti papa dapat laporan yang serupa, papa akan turunkan jabatan kamu bila perlu kamu jadi tukang sapu aja dikantor" ujar Reksa memperingati
"Al tidak akan mengulangi kesalahan lagi pa" ucap Alviro dan sambungan telepon pun terputus.
.
.
"jam berapa rapatnya?" tanya Alviro pada sekertarisnya itu.
"jam 9" ujar Roland.
Alviro pun langsung membulatkan matanya.
"lupa hehe" ujar Roland watados (wajah tanpa dosa).
Alviro pun langsung melempar kuncinya pada Roland bergegas untuk pergi ke kantor dan ia pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Alea pagi ini.
.
.
.
.
Waktu pun terus berjalan, tak terasa malam pun mulai datang.
Alviro meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Pekerjaannya hari ini sungguh menguras tenaga dan fikirannya.
Diliriknya arloji yang ada ditangannya menunjukkan pukul 19;00. Alviro baru ingat bahwa ia harus menemui Alea hari ini. Ia pun langsung bergegas menuju ke tempat kerja Alea.
"semoga saja dia belum pulang" gumam Alviro yang langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
Alviro memberhentikan mobilnya diparkiran, ia pun menuju minimarket yang tidak lain milik mama nya itu sembari berlari kecil.
Namun ia tidak menemukan sosok Alea disana yang ada hanya Tiara dan seorang wanita yang tidak Alviro kenal.
"mana Alea?" tanya Alviro langsung kepada Tiara.
"Alea udah gak kerja lagi" ujar Tiara.
__ADS_1
"sejak kapan?" tanya Alviro lagi.
"barusan tadi pagi bu Regita membawa karyawan pengganti Alea, kalau kemarin sih dia masih kerja" tukas Tiara.
Alviro pun langsung bergegas keluar dan menuju rumah Alea.
Sesampainya disana, Alviro tergesa-gesa memasuki gang sempit menuju rumah Alea.
"Alea. .Alea. ." teriak Alviro menggedor rumah Alea.
Alviro pun terus memanggil Alea tanpa henti sampai tetangga yang tidak jauh dari rumah Alea menegurnya.
"mas ada apa teriak-teriak seperti itu" ujar salah satu tetangga.
"maaf pak saya mau tanya, orang yang biasanya nunggu rumah ini kemana pak?" tanya Alviro dengan nada sopan.
"setahu saya tadi pagi dia bawa koper segala tapi saya kurang tau dia kemana mas" timpalnya.
"oh makasih pak informasinya, saya pamit pak" ujar Alviro yang langsung pergi dari sana dan kembali ke mobilnya.
"kamu dimana Leah"gumam Alviro yang mulai frustasi.
Sudah berapa kali ia menghubungi Alea namun nomor Alea selalu saja tidak aktif.
Alviro pun melajukan mobinya ke rumah orang tuanya barangkali mamanya mengetahui dimana keberadaan mantan istrinya itu.
.
.
Alviro yang tiba di kediaman orang tuanya itu langsung masuk tanpa permisi.
Dilihatnya Regita yang tampak sedang asik menyaksikan berita terkini yang sedang tayang di televisi sambil memasukkan sepotong buah apel kedalam mulutnya.
"ma. ." panggil Alviro yang berusaha mendekati Regita.
"hmmm. ." timpal Regita yang agak sedikit cuek.
Hal tersebut dikarenakan Regita yang kecewa dengan keputusan Alviro waktu itu membuatnya sedikit bersikap dingin kepada putra semata wayangnya itu.
"ma, Alea beneran resign dari pekerjaannya?" tanya Alviro.
"hmmm. ." jawab Regita yang malas bicara.
"sejak kapan ma?" tanya Alviro lagi.
"untuk apa kamu tanya-tanya Alea? kalian kan sudah bercerai seharusnya kamu urus aja perempuan yang kamu pilih itu dari pada Alea" ujar Regita yang sedikit ketus.
Regita pun beranjak dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan Alviro.
"dia wanita yang kucari selama ini ma, gadis Loly" ucap Alviro lirih.
Langkah Regita terhenti, kemudian ia berbalik melihat putranya itu menutup mukanya dengan kedua tangannya berusaha menyembunyikan tangisnya.
"itukah alasan mama kekeh menjodohkanku dengannya? kenapa mama gak bilang dari dulu ma kenapa? aku berusaha mati-matian untuk menemukannya ma tapi aku juga lah yang menyia-nyiakannya" ujar Alviro dengan bibir bergetar.
Regita pun tak tega melihat putranya tersebut sangat jelas jika putra semata wayangnya ini menyesali semua perbuatannya.
"maafin mama nak, mama hanya ingin kamu murni mencintainya" ucap Regita mendekati Alviro dan merangkulnya.
Alviro pun terdiam dipelukan sang mama, air matanya mengalir tanpa permisi.
"aku sudah mencintainya ma sebelum aku mengetahui semuanya" batin Alviro.
"semalam Alea menelpon mama, dia bilang ingin berhenti dari pekerjaannya. dia juga tidak bilang alasannya apa" ujar Regita.
"tetangganya bilang kalau Alea pergi membawa koper tapi dia juga gak tau Alea kemana" tukas Alviro sambil menghapus sisa air matanya.
Regita yang melihat wajah frustasi putranya itu hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkannya. Ia sangat mengenal sifat lelaki yang keluar dari rahimnya itu. Kini ia kembali melihat wajah sendu dari sang anak.
"maafkan mama nak, maafkan mama. ." ujar Regita seraya menitikkan air mata.
°terimakasih sudah membaca sejauh ini
__ADS_1
°jangan lupa like dan komennya serta votenya dikencengin😂
°salam manis rps😊****