Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 32


__ADS_3

maafkan typo yang bertebaran🙏🙏🙏


selamat membaca😊


.


.


.


Alea berendam di bathup membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat sehabis jogging.


ia memejamkan matanya selintas teringat akan kejadian dimana Alviro mengelap keringatnya.


Alea merasakan debaran itu lagi seakan kejadian tadi terulang kembali.


"apakah aku telah jatuh cinta dengannya" gumam Alea.


Alea menggelengkan kepalanya, ia sadar jika suaminya itu tak akan pernah mencintainya. Alea langsung beranjak dari bathup dan membersihkan sisa busa dibawah aliran shower.


.


.


.


.


Alviro sedari tadi mencari Alea. ia mengendarkan pandangannya ke teras dan ruang tengah, namun ia tidak menemukan Alea.


kali ini Alviro sadar bahwa ia tidak bisa jauh dari Alea.


Alviro pun langsung menuju dapur, akan tetapi ia hanya menemukan bik Ijah yang ada disana.


"bik. . liat Leah tidak ? dari tadi aku mencarinya tidak ketemu" tanya Alviro.


bik Ijah kemudian menunjuk dibelakang Alviro.


benar saja Alea yang sedari tadi berdiri disana heran karena Alviro mencarinya.


"ada apa mas?" tanya Alea


"ehhh. . anu. . aku mau ngajak sarapan bareng" ujar Alviro gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"ya udah kalau begitu, mari kita sarapan" ajak Alea yang langsung menuju meja makan diikuti oleh Alviro.


Alviro menikmati sarapan bersama Alea namun tiba-tiba bel rumah berbunyi.


bik Ijah dengan sigap langsung membukakan pintu dan ternyata yang bertamu adalah Clara.


Clara langsung masuk mengikuti langkah bik Ijah.


"tuan ada non Clara" ujar bik Ijah kemudian berlalu.


"hai Vi. ." ujar Clara menyapa Alviro dan tidak menghiraukan Alea.


"wahh. . kayak nya enak nih, gak apa-apa kan kalau aku ikut sarapan, kebetulan aku juga belum sarapan tadi" lanjut Clara sambil mengusap perutnya.


"oh. . silahkan " ujar Alviro singkat.


Clara langsung menuju meja makan dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Alviro.


"ada apa kamu datang kesini ?" tanya Alviro.


"oh itu. . aku rencana nya mau ngajakin kamu ziarah ke makam Alan. kamu mau kan?" ujar Clara.


Alviro pun membalas pertanyaan Clara dengan mengangguk.


"iya mas" jawab Alea, Alviro pun langsung mengembangkan senyumnya.


Clara tampak kesal melihat Alviro dan Alea yang tampak semakin dekat.


setelah menyelesaikan sarapan, mereka bertiga bersiap untuk berangkat ke makam.


Alviro mengeluarkan mobilnya dari garasi.


ketika Alea hendak duduk di kursi depan, Clara langsung menerobos masuk.


"Vi. . gak apa-apa kan aku duduk disini? soalnya kalau duduk dibelakang aku sering mabuk perjalanan." rengek Clara.


" ya udah gak apa-apa. kamu gak masalahkan Leah duduk dikursi belakang?" tanya Alviro


"gak kok mas, saya udah biasa" ujar Alea yang langsung menuju kursi belakang.


Clara pun tersenyum penuh kemenangan.


diperjalanan Clara dan Alviro bercerita tentang kisah mereka semasa kuliah dulu. Clara yang terkadang mencubit pipi Alviro disaat Alviro menceritakan bagaimana tingkah konyol mereka.

__ADS_1


hal itu pun tidak luput dari pandangan Alea.


jujur ia merasa risih dengan tingkah keduanya.


Alea merasa jika mereka lah yang tampak seperti layaknya suami istri dan Alea hanya orang lain.


setibanya dipemakaman, mereka langsung menuju tempat peristirahatan Alan. Alviro menyirami pucuk makam Alan dan Clara menaburi bunga mawar.


Clara menangis didepan makam Alan.


"andaikan kamu masih ada, kamu yang akan menemaniku Alan tapi kenapa kamu secepat itu ninggalin aku. aku kesepian Alan" racau Clara tersedu.


Alviro melihat bagaimana Clara menangis didepan makam Alan mengingatkannya dengan kejadian dimana Clara yang baru pertama kali ditinggalkan oleh mendiang abangnya itu.


"kamu gak boleh ngomong begitu, aku akan selalu ada buat kamu dan gak akan pernah ninggalin kamu" ujar Alviro menenangkan Clara.


Clara langsung memeluk Alviro dan menangis dipelukan Alviro.


"kamu janji ya Vi gak akan ninggalin aku bagaimanapun keadaannya" ujar Clara sesegukan.


"iya. aku janji" tukas Alviro.


Alea yang menyaksikan keduanya merasa sesak memenuhi rongga dadanya. entah ia harus marah atau harus kasihan melihat Clara.


ia tau bagaimana perasaan Clara yang ditinggalkan orang yang terkasih, sama seperti saat ia ditinggalkan oleh Arfan.


tapi ia merasa sakit melihat mereka berdua seintim ini. seharusnya Alviro menghargai Alea sebagai istrinya, entah mengapa Alea merasa Alviro sangat sulit untuk ia gapai.


dan bagaimana mungkin Alviro berjanji selalu ada untuk Clara disaat ia sudah mempunyai Alea sebagai istrinya.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini. ikuti terus ya kisah selanjutnya di episode yang akan datang😊


dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dibawah ini


like dan komennya ya😁


salam manis RPS😊

__ADS_1


__ADS_2