Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 51. Mencintaimu Dengan Sengaja


__ADS_3

Irene dan Reyhan berjalan menuju ke kamar mereka. Reyhan mengantarkan istrinya itu ke depan ruangan yang mereka sewa.


"Masuklah, setelah itu beristirahatlah" ujar Reyhan.


Irene pun mengangguk, kemudian gadis itu membuka pintu kamar tersebut. Reyhan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sekertarisnya itu.


"Apakah Rania tidak ada?" tanya Reyhan.


"Iya, mungkin sekertarismu masih diluar bersama abangku" timpal Irene.


Reyhan pun dengan sigap sedikit mendorong Irene memasuki ruangan tersebut, begitu pula dengan dirinya. Irene sempat terkejut saat Reyhan masuk dan mengunci pintunya.


"Kau.."


Ucapan Irene terpotong saat Reyhan menarik tangannya dan kemudian membingkai wajahnya.


Nafas hangat Reyhan menerpa wajah Irene. Membuat gadis itu mengerjapkan mata karena gugup. Jantungnya bak ingin meloncat dari tempatnya, berdetak sangat kencang.


Reyhan pun kembali menyatukan bibir mereka. Mungkin kejadian dilapangan tadi belum cukup baginya. Ia pun melepaskan pagutannya saat keduanya hampir kehabisan oksigen.


Reyhan mengangkat tubuh Irene dan membawanya ke atas kasur. Pria itu tak berhenti menatap mata Irene seakan mengisyaratkan bahwa ia menginginkan lebih.


"Bolehkah aku memintanya sekarang?" tanya Reyhan.


Irene awalnya diam, namun kemudian mengangguk perlahan. Bukankah sudah seharusnya ia melakukan ini?


Reyhan pun melepaskan pakaiannya, dan kembali mengecup bibir istrinya itu sembari tangannya yang mulai bergerilya kesana dan kemari.


Tokkk...Tokkk...


Reyhan dapat menangkap suara pintu yang diketuk, namun pria itu memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan kesibukannya.


Namun saat suara pintu itu diketuk lebih kencang lagi, membuat pria itu harus mengalah dengan hasratnya.


"Reyhan aku tahu kau ada didalam, buka pintunya atau aku akan membukanya secara paksa" seru Arya dari luar.


"Oh ****!" gumam Reyhan mengumpat kesal.


Mengapa selalu ada pengganggu disaat yang tidak tepat. Ia pun segera mengenakan pakaian yang dibuang sembarang. Setelah mengenakan pakaiannya, Reyhan membuka pintu tersebut.


Arya memandangnya dari atas hingga bawah.


"Apakah kau lupa dengan kamarmu? Setidaknya jika kau ingin melakukannya bawa adikku ke tempat yang bagus" oceh Arya.

__ADS_1


"Lakukan nanti setelah pulang dari sini, tidak mungkin kau menyuruhku sekamar dengan sekertarismu itu" tambah Arya sembari melirik ke arah Rania.


"Baiklah kakak ipar, mari kita masuk ke dalam kamar kita dan membiarkan para gadis ini untuk beristirahat" ujar Reyhan yang merangkul Arya untuk membawanya ke kamar.


"Hei aku belum selesai memarahimu" ucap Arya saat Reyhan menariknya secara paksa.


...****************...


Dari kejauhan, Irene dan Arya melihat Reyhan beserta sekertarisnya itu meninjau lokasi proyek yang baru setengah jadi itu


"Apa kau bahagia dengannya?" tanya Arya menatap Irene yang sedari tadi memperhatikan suaminya. Irene menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Selama ini aku mengikuti kalian, mataku menangkap bahwa sikap manis yang sering kalian pertontonkan dulu sedikit bersifat kepura-puraan" ujar Arya.


Irene pun mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Arya.


"Sejak kapan kau mengikutiku?" telisik Irene


"Sejak kau menikah dengannya, aku tidak pernah meninggalkanmu sendirian. Namun saat aku berhadapan dengan suamimu, dari cara sikapnya padamu, cara ia membantumu, dan bahkan menatapmu, aku tahu bahwa Reyhan sangat mencintaimu. Maka dari itu tak ada yang perlu ku khawatirkan lagi tentangmu" jelas Arya.


Irene menatap Arya dengan seksama. Tak lama kemudian gadis itu pun mengembangkan senyumnya.


"Takdir kita sangat lucu bukan" gumamnya yang kemudian menatap ke depan.


"Dulu aku begitu menyukaimu bahkan memikirkan kau bermain di belakangku saja membuatku sedikit gila. Namun saat mengetahui semuanya, beban dipundakku terasa terangkat semua. Terimakasih abangku" ucap Irene tulus.


Dari kejauhan, Reyhan melihat tangan Arya yang mengelus rambut Irene sembari bertukar pandang. Sesekali keduanya menyunggingkan senyum bahagia.


"Hmmm ... Aku tidak tahu kali ini apakah aku harus cemburu melihat mereka" gumam Reyhan sembari melipat kedua tangannya kedepan.


"Maaf Pak, tadi Pak Reyhan bicara apa?" tanya Rania yang sedikit bingung, karena sedari tadi gadis itu sibuk dengan pekerjaannya.


"Jika kakak iparku mengajakmu berkencan, sebaiknya kau terima saja. Dari pada kau melajang selamanya" ucap Reyhan mengalihkan pembicaraannya. Ia pun kemudian melangkah pergi.


Kini kecemburuannya dilemparkan pada sekertaris polos yang tak berdosa itu. Sedangkan Rania masih memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh atasannya itu.


"Akan aku pertimbangkan" gumam Rania yang kemudian menyusul langkah Reyhan.


...


Reyhan mengajak Irene menikmati sore hari dengan berjalan kaki. Sesekali gadis itu menyamakan langkah kakinya dengan Reyhan.


"Lihatlah, langkahmu lebar sekali" gumam Irene yang terus memperhatikan langkahnya dan suaminya itu.

__ADS_1


"Apakah kau tidak lelah mengikuti langkahku?" tanya Reyhan.


"Sedikit lelah" ucap gadis itu sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Reyhan kemudian berjongkok dihadapan Irene.


"Naiklah ke punggungku" ujar pria itu.


"Tapi aku sangat berat" sahut Irene.


"Aku juga punya tulang yang kuat untuk mengangkatmu" timpal Reyhan.


Irene pun segera naik ke punggung suaminya itu. Keduanya menyusuri jalanan, melihat-melihat sawah yang menghijau. Sungguh tempat ini belum terjamah oleh polusi seperti yang ada di kota.


"Aku ingin menanyakan sesuatu denganmu, tapi aku sedikit ragu" ucap Irene.


"Apa itu? katakanlah"


"Kau pernah berkata padaku untuk tidak mengejarmu, jika aku melakukan hal tersebut maka semuanya akan sia-sia" ujar Irene.


"Terus apa yang ingin kau pertanyakan"


"Lantas mengapa kau berkata bahwa kau mencintaiku? apakah cintamu itu hanya sebatas rasa iba terhadapku?" tanya Irene.


Reyhan pun menghentikan langkahnya disebuah pondok milik warga desa tersebut. Pria itu mendudukan istrinya disana dan ikut duduk tepat disamping Irene.


"Kau tahu apa alasanku berkata demikian? karena hal tersebut akan membuatmu lelah nantinya. Aku tidak ingin dicintai wanita yang rasa cintanya lebih dariku" ucap Reyhan sembari menggenggam jemari Irene.


"Biarkan aku mengejarmu, biarkan aku membuktikan bahwa rasa cintaku lebih besar darimu. Aku mencintaimu itu bukan karena rasa kasihan melainkan karena sebuah kesengajaan. Aku sengaja mencintaimu karena hatiku yang memilihmu" jelas Reyhan lagi.


Irene menatap ke dalam manik mata hitam pekat itu, sebuah ketulusan terpancar dari matanya membuat Irene mempercayai akan semua ucapan suaminya itu.


"Jangan pernah meragukan ku lagi, jika kau ingin hidupku hanya untuk menyenangkanmu, maka saat ini juga aku menyerahkan semua hidupku hanya untuk mencintaimu" tukasnya lagi.


"Baiklah, serahkan semua hidupmu untuk tetap berada di sisiku. Kau adalah jantungku, jika aku tanpamu maka aku juga tidak akan hidup" ujar Irene.


Reyhan pun mengacak rambut istrinya, tangannya menyentuh pucuk hidung istrinya itu dengan gemas. Ia pun merangkul Irene sembari memandang senja yang mulai menghiasi langit.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya lewat vote, komen, serta likenya❤️


__ADS_2