Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 50


__ADS_3

Abizar memberhentikan mobilnya didepan gang rumah Alea. Ia melihat Alea yang sudah ketiduran karena kekenyangan. Abizar hendak membangunkan Alea dari tidurnya, namun ia tak tega melakukannya.Abizar pun memandang wajah Alea dengan lekat, rasa nyaman menyelimuti dirinya saat melihat gadis yang terlelap disampingnya tertidur dengan damai tanpa ada guratan kesedihan.


"aku tenang jika melihatmu seperti ini Leah, lupakanlah lelaki itu, hapus semua rasa sedihmu. Harapanku sederhana, yaitu membuatmu bahagia apapun caranya pasti akan ku lakukan untukmu" ujar Abizar dalam hati.


Tangan Abizar pun terulur hendak mengusap rambut Alea namun niat tersebut diurungkannya.


Abizar melipat kedua tangannya diatas setir yang ada dihadapannya dan menatap wajah yang sedang terlelap disampingnya.


.


.


.


30 menit berlalu. .


Abizar masih setia memandangi wajah Alea. Belum lama kemudian Alea pun terbangun dari tidurnya.


"kita udah nyampe mas ?" tanya Alea sambil mengucek matanya


Abizar menganggukan kepalanya.


"kenapa mas gak bangunin aku" ujar Alea.


"kita barusan nyampe Leah" ucap Abizar.


"makasih ya mas untuk malam ini, hati-hati dijalan" tukas Alea seraya turun dari mobil.


Abizar pun tersenyum dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Sepeninggal Abizar, Alea pun langsung melangkahkan kakinya ke rumah. Sesampainya dirumah ia langsung menuju ke kamarnya dan menghempaskan dirinya di kasur lalu kembali melanjutkan perjalanan ke alam mimpinya.


.


.


.


Alea dan Tiara sedang menyantap bekal makan siangnya. Jam makan siang tiba dan kebetulan sedang tidak ada pelanggan sehingga mereka dapat beristirahat sejenak.


Tringggg. . .


bunyi notifikasi pesan dari ponsel Alea. Alea pun langsung mengeluarkan benda pipih tersebut dari sakunya.


Dilihatnya pengirim pesan tersebut ternyata Abizar

__ADS_1


Leah maukah besok pergi ke suatu tempat bersamaku? kebetulan besok adalah hari liburmu. (Abizar)


kemana? bukankah besok mas kerja? (Alea)


pantai. besok ada dokter yang menggantikanku. (Abizar)


ok. (Alea)


.


.


.


"Yes!!" ujar Abizar kegirangan saat melihat balasan pesan dari Alea.


Ia pun tertawa mengingat kembali ekspresi wajah yang ditunjukan oleh Alea saat ia kekenyangan kemarin.



Roland nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu, dilihatnya saudaranya yang tampak tersenyum sendiri seperti orang gila.


"kenapa lo bang senyam-senyum gitu?" ujar Roland yang tampak kebingungan dengan sikap lelaki yang ada didepannya.


"gak apa-apa kok" tukas Abizar dengan wajah yang sumringah.


"apaan nih?" tanya Abizar


"Alea nih gue kresekin, ya apalagi lah kalo bukan makanan bang gue kan adik yang berbakti dan baik hati" ujar Roland


Abizar hanya ber oh ria.


Roland tau kedekatan saudaranya itu dengan Alea. Kali ini ia tidak melarang Abizar yang mendekati Alea karena statusnya yang bukan istri orang.


Roland melihat abangnya itu tampak mengacuhkannya dan lebih terfokus dengan ponsel yang ada digenggamannya yang terkadang membuat Abizar senyum sendiri.


"gue balik dulu" ujar Roland.


"oke, makasih makanannya" tukas Abizar namun pandangannya tetap pada benda pipih yang ada ditangannya.


Roland pun hanya bisa bersabar sambil melangkahkan kakinya keluar.


"otak pinter title dokter pas kenal cinta mendadak bego" gumam Roland seraya menggelengkan kepalanya.


.

__ADS_1


.


.


Roland memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah atasannya sekaligus sahabatnya itu.


sudah beberapa hari sahabatnya itu tidak bekerja dan posisinya untuk sementara digantikan oleh Reksa


Roland menekan bel rumah Alviro.


Berkali-kali Roland menekan bel tersebut namun tampaknya sang empunya rumah tidak ada didalam.


Saat Roland hendak beranjak pergi, tiba-tiba pintu terbuka dan. .


"astaga. . dedemit!!" ujar Roland terkejut.


Tentu saja ia terkejut mendapati Alviro yang muncul tiba-tiba dari balik pintu dengan wajah yang kusut dan rambut yang acak-acakan.


Alviro tidak menggubris perkataan Roland dan langsung mempersilahkannya masuk.


Roland prihatin dengan sahabatnya itu. Pasca bercerai dari Alea tampaknya hidup Alviro menjadi kacau.


Namun itu adalah keputusan dari Alviro, apapun keputusan yang diambilnya ia harus menghadapi resikonya meskipun itu amat menyakitkan.


"Bro. . kenapa lo nyiksa diri lo dengan cara yang seperti ini? lo harus bangkit dari keterpurukan lo! lo harus jalani hidup lo seperti sedia kala" ujar Roland mencoba menasihati.


"ini keputusan yang lo buat dan lo harus menanggung resikonya, tapi bukan dengan cara yang seperti ini bro. Setidaknya lo hadapi kenyataan bukan lari dari kenyataan" tambah Roland


"sepertinya lo setuju banget kalo abang lo itu deketin Alea" ujar Alviro


"abang gue udah cukup sabar memendam perasaannya disaat Alea belum ketemu lo ! saat dia tau kalo Alea udah punya suami dia mulai menjauh dari Alea dan sekarang lo udah milih Clara dan lo membuang Alea gitu aja. Lo dan Alea udah bercerai, wajar kalo gue dukung abang gue" ujar Roland yang mulai menaikan nada bicaranya.


Alviro merasa tertampar oleh kata-kata yang baru saja diucapkan Roland.


Benar, kekacauan ini tercipta dari sebuah keputusan yang diambilnya.


.


.


.


bonus pict abang Al ya😄 dari kemaren abang Abi terus yang muncul😁


__ADS_1


jangan lupa like dan komennya😅


salam manis RPS😊


__ADS_2