
Setelah istirahat selama dua hari, Irene kembali masuk bekerja seperti semula. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke resto yang dijadikannya untuk mengais pundi-pundi rupiah.
Hanya tempat itulah kini tempatnya bekerja, karena Irene merasa perlu mengistirahatkan tubuhnya dikala lelah, karena walaupun ia mengais rezeki di dua tempat sekaligus itu tidak akan membuat dirinya langsung menjadi kaya raya, namun membuat tubuhnya yang masih diusia muda tampak melemah.
Irene membuka lokernya dan mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya. Setelah wanita itu keluar dari ruang ganti, ia pun dikejutkan dengan keberadaan David yang tengah menunggu didepan pintu sembari melipat kedua tangannya.
"Apakah kau sudah benar-benar pulih?" tanya pria tampan yang tak lain adalah atasannya itu.
"Iya pak, saya sudah sehat seperti semula" timpal Irene.
"Syukurlah kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaanmu" ucapnya mempersilahkan Irene untuk berlalu.
Irene pun menganggukkan kepalanya dan sedikit membungkuk lewat didepan David.
Melihat sikap Irene seperti itu membuat David mengembangkan senyumnya, menurut penilaiannya, wajar jika seorang Reyhan akan jatuh hati pada gadis itu. Karena Irene termasuk tipikal gadis yang tidak membosankan.
Sementara Irene melangkah kakinya menuju ke meja kasir sembari mengelus dadanya karena takut jika David akan membahas hal-hal tentangnya dan Reyhan lagi.
"Tapi kenapa teman pria menyebalkan itu semuanya terlihat tampan, jika dipikir dia juga tampan tapi sayangnya ia begitu menyebalkan" gumam Irene.
"Apa yang sedang kau pikirkan nona Irene?" tanya teman kerjanya yang juga berada di meja kasir.
"Oh bukan apa-apa"
"Tampaknya kau kini tengah memikirkan seorang pria, apakah dia pria itu.." goda temannya sembari menunjuk Reyhan yang tengah berjalan ke arahnya.
Dengan spontan Irene mengibaskan tangannya dengan mengelak berkata tidak, namun semburat merah dipipinya terlihat dengan jelas.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Reyhan.
"Tidak apa-apa" timpal Irene singkat.
"Ayo ikut denganku" ajak Reyhan.
"Tapi aku sedang bekerja"
"Kau lihat pria yang ada disudut sana? dia temanku" ucap Reyhan menunjuk David.
"Dia atasanku.." ujar Irene geram.
David melihat keduanya bertengkar kembali mengulas senyumnya. Ia pun memberi isyarat pada Irene untuk ikut bersama Reyhan.
Tanpa aba-aba Reyhan pun kembali menarik tangan Irene untuk mengikuti langkahnya.
"Hei tunggu! setidaknya aku melepas seragamku terlebih dahulu" ketus Irene.
__ADS_1
Pria itu pun melepaskan genggaman tangannya dan menghampiri David seraya menunggu Irene.
"Aku masih tak percaya sebentar lagi kau akan melepas masa lajangmu itu, kawan" ucap David.
"Aku pun juga tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini" gumam Reyhan sembari menduduki kursi.
...
Di lain tempat, Irene tampak menggerutu kesal dengan semua perbuatan Reyhan pada dirinya.
"Dasar lelaki aneh, seenaknya saja ia memperlakukanku seperti itu. Untung saja kau tampan" gerutu Irene sembari memasukkan seragamnya ke dalam loker dan menutupnya.
"Ehh.." ucapnya yang baru saja sadar dengan kata 'tampan' yang di lontarkannya itu.
"Tapi tidak bisa ku pungkiri, ia memang sedikit tampan" gumamnya sembari menuju ke luar ruangan tersebut.
.
.
.
"Waktuku cukup banyak terbuang hanya untuk menunggumu saja, nona" sindir Reyhan sembari melirik jam tangannya.
"Kalau begitu kami pergi dulu" ujar Reyhan bangkit dari tempat duduknya.
"Oke" timpal David singkat sambil mengulas senyumnya.
"Saya permisi dulu pak" ucap Irene menundukkan kepalanya.
David hanya membalasnya dengan anggukan dan mengibaskan tangannya seolah begitu sangat mengizinkan jika Irene pergi bersama Reyhan.
Hari ini tampaknya Reyhan sangat berbasa-basi sekali membukakan pintu untuk Irene. Entah apa itu hanya pemanis agar terlihat seperti pria baik di mata temannya itu.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Reyhan pun segera melajukan mobilnya.
.
.
.
Sesampainya di tempat tujuan, Irene sedikit tercengang karena Reyhan memberhentikan mobilnya tepat didepan sebuah butik ternama.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Irene masih bingung.
__ADS_1
"Untuk mengasah isi kepalamu yang bodoh itu, untuk apalagi jika bukan untuk fitting baju pernikahan" jawab Reyhan.
"Sebelumnya kau tidak mengatakan bahwa hari ini akan memilih baju pengantin"
"Bukan salahku, karena kau tidak mempertanyakannya tadi" jawab Reyhan singkat, yang kemudian melangkahkan kakinya memasuki tempat tersebut terlebih dahulu.
Irene menghentakkan karena kesal, ia pun menyusul Reyhan yang sudah meninggalkannya.
...
Semua orang disana memperlakukan keduanya dengan sangat baik, bagaimana tidak? seorang Reyhan tentunya merupakan pelanggan VVIP dari butik tersebut.
Irene terpukau melihat pantulan dirinya di cermin dengan mengenakan gaun pengantin yang mewah dan elegan.
Belum lama kemudian, tirai pun dibuka. Reyhan masih fokus dengan ponsel pintar yang ada ditangannya.
"Anda terlihat sangat cantik sekali nona, bukankah begitu tuan?" puji salah satu karyawan yang berdiri tak jauh dari Reyhan.
Reyhan mengarahkan pandangannya sekilas pada Irene dan kembali mengotak-atik ponselnya.
"Lekas berganti, aku akan ada rapat jam satu nanti" ujar Reyhan.
"Bagaimana denganmu? apa kau tidak mencoba terlebih dahulu tuxedomu?" tanya Irene sedikit heran.
Reyhan tersenyum namun bukan senyum yang tulus yang terukir disudut bibirnya. Tak lain senyum yang seolah meremehkan ucapan Irene barusan. Ia pun mendekati Irene dan kemudian berbisik tepat didepan telinga gadis itu.
"Aku akan tetap tampan mengenakan apapun" bisik Reyhan yang kemudian berlalu didepan Irene.
"Dasar pria menyebalkan" umpat Irene seraya mengepalkan tangannya.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan berupa like, komen, dan vote.
salam manis Ryn.
__ADS_1