Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 57


__ADS_3

ALVIRO POV;


Aku memasuki rumah dengan langkah gontai, sungguh aku merasa takdir benar-benar sedang mempermainkanku. Dia, wanita yang pernah ku sia-siakan selama ini adalah wanita masa kecilku yang kucari mati-matian.


Betapa bodohnya aku tidak mengenalinya selama ini.


Andaikan saja waktu itu aku tidak menyuruh orang suruhanku untuk menghentikan penyelidikanku hanya karena ia akan melangsungkan pernikahannya dengan laki-laki lain.


Andaikan saja jika aku tidak menolak orang suruhanku mengirimi foto Alea saat dewasa hanya karena aku takut jika aku tidak bisa melepaskannya kala itu.


Andaikan saja mama lebih awal memberitahukan semuanya kepadaku sebelum kami melangsungkan pernikahan.


Andaikan waktu dapat diulang kembali. .


Akkkhhhhh. . .


Aku berteriak mewakili perasaanku yang kini sungguh hancur bahkan sangat hancur. Mengusap wajahku dengan frustasi.


Mengapa semua ini tidak ku ketahui dari awal??


Apakah ini sebuah hukuman dari Tuhan untukku??


Aku merebahkan tubuhku dikamar Alea hanya untuk mengobati rasa rinduku serta penyesalanku yang lebih mementingkan ego ku.


Aku membayangkan bahwa ia juga sedang berbaring disampingku.


Tesss. .


Ku seka air mata yang menetes dengan tidak sopannya. sungguh aku ingin merengkuhnya jika ia ada dihadapanku, aku bersumpah tidak akan menyakitinya lagi jika dia ada bersamaku.


Tapi kini bayang-bayangnya lah yang tinggal bersamaku karena dia telah memilih jalannya untuk pergi dariku.


Author Pov ;


Roland sedari tadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hari ini atasannya itu kembali memasang wajah yang tidak bersahabat bahkan karyawan lainnya pun kena imbasnya termasuk Roland.


Pandangan Roland beralih ke Clara yang melangkahkan kakinya menuju ruangan Alviro.


Roland akan menebak, satu atau dua menit kemudian bentakan Alviro akan terdengar dari meja kerja Roland.


"Tolong jangan ganggu saya tepat di jam kerja!!"


Dan benar saja, teriakan membahana seorang Alviro Dirgantara yang dapat memecahkan gendang telinga bahkan suaranya yang menggelegar itu terdengar sampai ke negara tetangga membuat Clara keluar dari ruangan tersebut dengan berurai air mata.


Clara pun menyeret kakinya menuju ke atap gedung, Roland yang melihat Clara menangis tersebut merasa kasihan seakan istri yang sedang hamil baru saja diusir oleh suaminya.


Roland pun berinisiatif untuk menyusul Clara ke atas.


.


.


" nih. ." ujar Roland menyodorkan sebotol air mineral kepada Clara.


Clara hanya melirik Roland sekilas dan menghapus jejak air matanya.


"ambil nih gak gue ludahin kok ataupun gue racunin, ini gue beli dikantin tadi" ujar Roland yang meletakkan botol air mineral tersebut ke tangan Clara.


"ngapain lo kesini? mau ngetawain gue?" tukas Clara ketus.


"tadinya sih iya"


Clara pun langsung mendelik mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Roland.


"tapi untuk saat ini gue gak mau ngejek lo, dasar lo nya aja yang berfikiran negatif terus sama gue. Gue gak sejahat itu" ujar Roland.


Clara membuka botol yang diberikan oleh Roland tadi dan meneguk air tersebut karena tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.


"lo beneran gak kasih sianida kan di minuman gue?" tanya Clara.


"lo kebangetan amat yah jadi orang, liat tu kemasannya masih disegel terus gimana gue mau kasih sianida ke minuman lo. nyebut kayak gitu 3 kali kejang-kejang beneran lo" tukas Roland nyerocos.


Clara pun tersenyum mendengar ocehan Roland.

__ADS_1


"lo bener selama ini gue cuma jadi bebannya dia, dia gak cinta gue dia baik ke gue hanya untuk sebuah tanggung jawab yang menggantikan posisi Alan maka dari itu dia tetap bertahan dengan gue" ucap Clara tersenyum miris, ia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"gue kesini cuma mau minta maaf ke dia tapi waktunya kurang tepat" lanjut Clara.


"kalau menurut gue, sebaiknya lo ngomongnya jangan pas lagi jam kerjanya Alviro, karena yang gue tau dia itu sering uring-uringan kalau diganggu pas jam kerja" ujar Roland mencoba menasihati.


"ok gue akan coba cari yang tepat untuk ngomong sama dia. ya udah gue balik dulu, makasih air sianidanya" seru Clara seraya melambaikan tangannya melangkah pergi.


"udah gue bilangin bukan masih aja ngomong gitu. awas lo sekali lagi ngomong kejang-kejang beneran" gerutu Roland.


.


.


.


Clara menuju ke rumah orang tuanya, ia memutuskan untuk tinggal bersama orang tuanya dan minta maaf atas semua perbuatannya.


Clara pun turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumah.


Dilihatnya diruang tamu tidak ada orang, ia pun mencari keberadaan mama dan papanya itu.


Clara menangkap suara papanya yang sedang marah-marah dikamar orang tuanya itu.


Clara yang penasaran dengan kemarahan sang papa mencoba mencuri dengar dari balik pintu.


"Papa kecewa ma dengan anak itu" ujar sang papa.


hanya isakan tangis yang terdengar dari sang mama.


"papa bahkan tidak pernah menyangka dia berkata bahwa kita sudah bercerai ma, dia tidak berhak berkata seperti itu! seandainya kita memiliki seorang anak belum tentu papa mau mengadopsinya dari panti asuhan ma bahkan dia saja tidak tau bagaimana rasa berterimakasih kepada kita" ujar sang papa lirih.


Clara terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh papanya itu. Ia tak pernah menyangka bahwa selama ini ia bukan lah anak kandung. perasaannya hancur, air mata pun langsung membanjiri pipinya.


Clara melangkahkan kaki nya secara diam-diam dan kembali memasuki mobilnya.


Ia benar-benar hancur mengetahui bahwa dia hanyalah anak yang diadopsi.


Clara langsung meraih ponselnya dan langsung meminta maaf dengan kedua orang tuanya via telepon karena jika harus berhadapan langsung ia sudah merasa tak sanggup.


"halo ma. ." ucap Clara yang mencoba menetralkan suaranya.


"ada apa nak? kapan kamu pulang ke rumah?" tanya sang mama dengan nada lembut.


Clara pun langsung menitikkan air matanya saat mendapatkan perlakuan lembut dari mamanya.


ia merasa tak pantas mendapat perlakuan seperti itu dari sang mama terlebih lagi dia hanyalah anak angkat.


"maafin Clara ma. ." ucap Clara dengan bibir yang bergetar.


"maafin semua kesalahan Clara ma, sampaikan juga maaf Clara kepada papa" ucap Clara menangis.


"kami memaafkanmu nak, kamu pulang ya sayang" ujar sang mama membujuk.


"ya ma nanti Clara akan pulang" ucap Clara seraya mematikan ponselnya.


Ia pun langsung menangis tersedu, semuanya terasa berat baginya.


Clara pun mengotak-atik ponselnya mengirim pesan kepada seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya selama ini.


.


.


.


Di lain tempat, ponsel Alviro berbunyi dilihatnya notifikasi pesan dari Clara.


Ia pun mencoba mengabaikannya dan masih fokus mengecek dokumen hasil penjualan perusahaannya.


.


.


Clara yang tengah mengemudikan mobilnya masih dengan berurai air mata. Masalah satu belum tuntas dan sekarang ia sudah dihadapkan dengan kenyataan yang lebih menyakitkan lagi.

__ADS_1


"maafkan mama nak, mama harus membawa mu bersama mama" ucap Clara berbicara dengan janin yang ada diperutnya.


Ia pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


kemudian melepas pegangan tangan dari atas kemudi dan memejamkan matanya seraya tersenyum.


"Alan. . maaf telah membuatmu terlalu lama menunggu"


TIIINNNNN. . .


Terdengar suara klakson mobil yang ada didepannya dan


BRAKKKKKKK. . .


Kecelakaan pun tak terhindarkan.


.


.


Rasa penasaran Alviro yang mengabaikan ara semakin menjadi, ia pun meraih ponselnya dan mencoba membaca pesan yang dikirim kepadanya.


*Te*rimakasih Vi selama ini kamu sudah mencoba untuk menggantikan posisi Alan dihidupku.


Maafkan aku yang sudah membuat hidupmu jadi berantakan.


Jika nanti terjadi sesuatu denganku, kamu jangan menyalahkan dirimu karena itu adalah kemauanku untuk tidak membuat Alan lebih lama lagi menungguku.


Sampaikan permintaan maafku juga pada Alea.


Setelah membaca rentetan pesan yang dikirimkan eh Clara tadi, Alviro langsung meninggalkan meja kerjanya dan berlari menuju mobilnya untuk mencari keberadaan Clara.


Berulang kali ia menghubungi Clara namun tidak ada jawaban. Alviro pun mencoba fokus untuk menyetir.


Dering ponselnya mengalihkan perhatian Alviro.


Diluhatnya id pemanggil tersebut yang tidak lain adalah Clara, Alviro langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ara. . kamu. ." ucapn Alviro terputus saat mengetahui si penelpon tersebut bukanlah Clara.


Ia pun langsung memutar mobilnya menuju rumah sakit.


Alviro berlari menuju ruang dimana Clara berada.


Ia pun melihat kedua orang tua Clara yang sudah berada disana.


Ibunda Clara menangis histeris mendapati putrinya yang sudah terbujur kaku.


Alviro pun mencoba mendekati Clara. Ia pun langsung luruh saat memastikan bahwa tubuh yang kaku itu benar-benar milik Clara.


Alviro menitikkan air matanya. Alviro tidak pernah menyangka Clara mengulang kembali melakukan hal yang bodoh.


Alviro merasa bersalah karena tidak dapat mencegah Clara untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


.


.


.


Prosesi pemakaman berakhir, semua orang beranjak pergi.


Alviro yang masih setia menatap nisan Clara.


Roland dan Abizar pun mencoba menenangkan Alviro untuk mengikhlaskan kepergian Clara bersama bayinya.


Bahkan Roland pun tak menyangka pertemuannya dengan Clara kemarin merupakan pertemuan terakhirnya.


"Clara tersenyumlah didekat kak Alan, semoga kalian berbahagia" batin Alviro.


°**Terimakasih sudah membaca


°Like dan komen yah, kasih vote juga dong buat author biar authornya tambah semangat untuk up nya😅


salam manis rps😊**

__ADS_1


__ADS_2