Jangan Pergi

Jangan Pergi
Bonus Chapter


__ADS_3

BRAKKK..


DUGHHH..


"Awww. ." ringis Reyhan sembari mengusap lututnya. Pria itu baru saja mengambil bola yang dilempar oleh Shinta, namun tanpa sengaja Reyhan menginjak mainan yang lainnya dan membuat pria itu jatuh tertelungkup.


Shinta tertawa saat melihat sang papa terjatuh karena mainannya. Mungkin karena ekspresi wajah dari Reyhan sangat lucu hingga membuat balita berumur tiga tahun itu tertawa sembari memperlihatkan gigi susunya.


"Ya tertawa lah sesuka hatimu, Nak. Bahkan lutut papamu ini memar dan kau menertawakan ku" ujar Reyhan yang menghampiri anak gadisnya itu.


Dengan berjalan sedikit pincang, Reyhan meraih ponselnya di atas nakas. Pria itu langsung mendial kontak istrinya itu.


"Dimana?" tanya Reyhan dengan nada yang sedikit frustasi.


"Aku dan mama masih di pusat perbelanjaan, Sayang" sahut suara dari seberang telepon.


"Kapan kau akan pulang, Sayang? Mengapa lama sekali" ujar Reyhan lembut namun terkesan penuh penekanan. Suara dan mimik wajahnya jelas sangat berbeda.


"Sebentar lagi, Shinta tidak menangis kan?" tanya Irene.


"Hmmm.. dia tidak menangis, tapi diriku yang hampir menangis dibuatnya"sahut Reyhan.


Irene pun terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Ia sengaja memanfaatkan waktu libur sehari suaminya itu untuk mengasuh anak mereka. Irene memberikan sedikit pelajaran untuk suaminya, jika mengasuh anak bukanlah hal yang mudah.


Pria itu selalu mengusiknya tengah malam hanya untuk meminta jatah dari Irene. Bahkan ia tidak tahu jika malam hari adalah waktu Irene untuk beristirahat.


"Pulanglah secepatnya, aku .."


TETTT.. TETTT...


Belum selesai Reyhan mengucapkan kalimat nya, istrinya itu memutuskan teleponnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Reyhan mengacak rambutnya frustasi sembari mengumpat kesal.


"Aku menarik ucapanku dulu, bahwa mengasuh anak lebih mudah dari pada menyelesaikan pekerjaan kantor" gumam Reyhan.


Shinta tertawa seakan mengerti apa yang diucapkan oleh papanya. Seolah gadis kecilnya itu kini tengah mengejeknya.


"Berhenti menertawakan papamu ini, Nak. Bermainlah ini saja" ujar Reyhan menghampiri anak gadisnya itu dan kemudian memberikan bola yang ada ditangannya.


Baru saja Reyhan memberikan bola yang belum lama diambilnya, kini Shinta kembali melemparkan bola tersebut. Gadis kecilnya kembali menunjuk ke arah bola tadi. Sementara Reyhan berpura-pura tidak mengetahui bola yang baru saja dilemparkan oleh Shinta.


Hingga pada akhirnya, terdengar suara tangis dari gadis kecilnya itu. Mau tak mau Reyhan pun kembali bangkit dari duduknya dan kembali mengambil bola yang telah puluhan kali dilakukannya itu.


"Mengapa mengasuhmu tidak senikmat saat membuatmu, Nak" gumam Reyhan sembari mengelus dadanya.


***


Setelah cukup puas berkeliling, Irene pun memutuskan untuk pulang. Entah bagaimana kondisi terkini anak gadisnya itu dalam pengasuhan papanya.


Bukan karena pelit, melainkan ia tidak dapat mempercayakan anaknya di tangan orang lain. Banyak kejadian yang kurang mengenakkan yang terdengar diluaran sana, dan Irene memutuskan seletih apapun ia tetap ingin mengasuh anaknya sendiri.


CEKLEKK..


Irene membuka pintu kamarnya, matanya membulay sempurna saat mendapati kamar yang sudah bak kapal pecah. Mainan yang berserakan dimana-mana.


Matanya menangkap suaminya yang tengah tertidur pulas sembari memeluk gadis kecil mereka. Seketika Irene pun menarik segaris senyumnya. Hatinya menghangat melihat kedua orang terpenting dalam hidupnya yang masih menikmati mimpi indahnya.


Irene membereskan mainan yang berserakan dan kembali menata yang dipajang di lemari, dan sisanya ia masukkan ke keranjang yang berisi mainan.


Setelah semuanya kembali ke posisinya semula, Irene menghampiri sang suami dan anaknya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Irene mengelus puncak kepala Shinta dengan sayang. Dan menghadiahi suaminya itu kecupan singkat tepat di bibirnya.

__ADS_1


Perlahan Reyhan membuka matanya saat bibir lembut milik istrinya itu menyentuh bibirnya.


"Maafkan aku karena membuatmu terbangun, aku hanya memberikanmu hadiah atas rasa lelahmu siang ini" ucap Irene pelan karena tidak ingin putrinya itu bangun.


"Aku ingin meminta hadiah yang lebih dari ini" ujar Reyhan.


"Lantas.."


"Mau tidak mau kau harus membayar ku nanti malam" ucap Reyhan dengan seringaian nakalnya.


"Tiada hari tanpa pikiran mesum mu itu" cerca Reyhan.


"Tapi kau menyukainya kan" goda Reyhan.


Seketika wajah Irene pun memerah. Sedari dulu memanglah Reyhan selalu saja gemar membuat gadis itu malu dihadapannya.


Irene membaringkan tubuhnya disamping putrinya. Wajahnya menghadap ke arah suaminya dengan Shinta yang berada ditengah-tengah mereka.


"Istriku, maafkan aku karena sering mengganggu waktu istirahatmu. Kini aku tahu bahwa mengurus anak itu tidak lah semudah yang ku bayangkan" tutur Reyhan lembut, sembari mengusap puncak kepala sang istri.


"Tugas seorang ibu memang tidaklah mudah, sayang. Maka dari itu kau harus berfikir panjang jika hendak membantah ucapan ibumu" ujar Irene.


Reyhan pun mengangguk sembari tersenyum. Irene beringsut mendekat pada Shinta memeluk gadis kecil yang berambut ikal itu. Reyhan pun juga begitu, ia memeluk gadis kecilnya serta istrinya. Dan tak lama kemudian, Reyhan dan Irene memejamkan matanya menyusul mimpi indah gadis kecilnya itu.


.


.


.


Semoga adanya bonus chapter ini bisa melepas rindu kalian ya🤗 see you di novel terbaruku🥰

__ADS_1


__ADS_2