
Di ruang makan, Irene melayani suaminya dengan sangat baik. Dari meletakkan sarapan di atas piring Reyhan sampai saat Reyhan tersedak dengan sikap istrinya itu yang begitu aneh, Irene langsung menyodorkan segelas air putih untuk Reyhan sembari tersenyum manis namun mampu membuat Reyhan bergidik ngeri .
"Ada apa dengannya hari ini?" ujar Reyhan dalam hati.
"Kamu sangat beruntung nak bisa mendapat istri yang siaga seperti Irene" sanjung Irsya.
Irene hanya tersenyum sembari tersipu malu sedangkan Reyhan hanya mengerjapkan matanya beberapa kali karena ia merasa ada yang tidak beres dari tingkah gadis yang menyebalkan yang telah menyandang status sebagai istrinya itu.
"Ada apa dengan senyummu itu" Reyhan berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat sembari mengerjapkan matanya menatap istrinya.
Irene tak menghiraukan Reyhan, ia kembali tersenyum sekilas dan belum lama kemudian gadis itu melanjutkan makannya.
Setelah menyelesaikan sarapan, Reyhan berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk bekerja. Belum lama kemudian, Irene terbirit-birit berlari menyusul Reyhan. Tak lupa ia pun berpamitan terlebih dahulu dengan mertuanya.
"Kau hendak kemana nak?" tanya Abizar.
"Kerja pa.."
"Kerja? apakah Reyhan sudah mengizinkanmu?" tanya Irsya.
"Dia mengizinkanku ma, bukankah begitu suamiku?" tanya Irene dengan wajah yang memelas.
"Sudah ku duga ada udang dibalik batu" ujar Reyhan dalam hati. Pria itu hanya berdeham tanpa menjawab ucapan Irene.
Reyhan melangkahkan kakinya menuju mobil, Irene pun mengekor di belakang Reyhan.
"Kami pergi dulu ya ma" seru gadis itu dengan girang sembari melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan nak" timpal Irsya.
Irene langsung masuk ke dalam mobil saat Reyhan baru saja menyalakan mesin kendaraannya.
__ADS_1
"Kau yakin akan berangkat bekerja hari ini?" tanya Reyhan memastikan.
"Sangat yakin, mengapa kau sepertinya meragukan ku. Walaupun aku sudah menjadi istrimu harusnya tidak ada larangan darimu untuk melarangku bekerja" ujar Irene sembari memasang sabuk pengamannya.
"Baiklah" ucap Reyhan singkat dan kemudian melajukan mobilnya.
Di perjalanan tiba-tiba saja Irene mendapat pesan singkat dari pria berambut gondrong yang tak lain adalah pemilik resto tempatnya bekerja.
Dengan berat hati saya memberitahukan bahwa posisimu saat ini telah diisi oleh orang lain, jadi kamu bisa beristirahat dari pekerjaanmu.
Irene membulatkan matanya saat melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh David tersebut. Ia pun segera menelepon atasannya itu untuk membiarkan Irene bekerja disana.
Namun dengan sopan David tetap menolaknya rupanya pria itu tetap kekeh dengan keputusannya. Setelah sambungan telepon terputus, Irene menatap Reyhan dengan begitu lekat.
"Hei mengapa kau menatapku seperti itu" ujar Reyhan yang sekilas melihat ke arah Irene.
"Ini pasti ulahmu kan?"
"Aku tidak mengerti ucapanmu" timpal Reyhan.
"Aku mengizinkanmu bekerja disana, namun jika dia sendiri yang ingin memecatmu berarti itu bukanlah salahku" ujar Reyhan.
"Oh iya.." Reyhan tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Bukankah kau sudah dipecat dari pekerjaanmu? sebaiknya kau pulang sajalah" sambung Reyhan.
"Lantas mengapa kau memberhentikan mobilmu, antar aku pulang" tukas Irene kesal.
Reyhan pun melirik jam tangannya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya aku terlambat" ujar Reyhan dengan entengnya.
__ADS_1
Irene pun menggeram kesal segera turun dari mobil tersebut. Tanpa aba-aba lagi Reyhan melajukan mobilnya. Namun belum lama kemudian Irene melihat Reyhan memundurkan mobilnya kembali. Tentu saja membuat Irene kembali berharap bahwa Reyhan adalah benar-benar pria yang baik.
Reyhan membuka kaca mobilnya, pria itu menyodorkan tas istrinya yang tertinggal di dalam mobilnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pria itu kembali melajukan mobilnya.
Kepala Irene tampaknya sudah mendidih melihat kelakuan Reyhan terhadap dirinya.
"Dasar lelaki bajingan! pria jahat! ku bunuh kau saat sampai dirumah nanti" teriak Irene sembari melemparkan salah satu sandal yang dipakainya ke arah mobil yang dikendarai oleh Reyhan.
Reyhan yang melihat dari spion mobilnya hanya tertawa terbahak-bahak saat melihat kekesalan istrinya itu terhadapnya. Pemecatan yang dilakukan oleh David tentu saja semua itu adalah rencana dari Reyhan.
Sebelum Irene memasuki mobilnya saat hendak berangkat, Reyhan terlebih dahulu menghubungi sahabatnya itu. Mau tak mau David pun menuruti perintah Reyhan.
Di lain tempat, Irene berjalan dengan gontai. Lagi-lagi kesialan kembali menimpanya kali ini. Belum lagi ditambah dengan sikap suaminya yang amat sangat menjengkelkan itu.
Notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi. Gadis itu pun mengusap layar ponselnya.
Aku meninggalkan kartu kredit didalam tasmu, PINnya adalah tanggal pernikahan kita. Beli apapun yang kau inginkan dan berhenti untuk memasang muka masam.
Kata "pernikahan kita" yang dituliskan Reyhan membuat Irene sedikit tersentuh. Entah mengapa ia merasa seperti pasangan pasutri lainnya. Namun ucapan Reyhan yang untuk tidak mengejarnya membuat Irene merasa sedikit tersentil, bahwa pria itu tidak menginginkannya.
Irene pun langsung mengecek tasnya, dan benar saja terdapat kartu kredit yang ditinggalkan oleh Reyhan disana.
"Setidaknya kau masih bersikap baik hari ini, baiklah aku akan memaafkanmu" gumam Irene yang kembali melanjutkan langkahnya.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1