
Pagi ini Aurel melewatkan sarapannya dan langsung berangkat ke kantor. Kekecewaan yang ia rasakan masih menyelimuti hingga sekarang. Sulit bagi Aurel untuk menerima semua kenyataan bahwa kedua orang tuanya pernah bercerai.
Aurel melipat tangannya seraya memandangi sebuah tembok putih yang berada di depannya dengan tatapan kosong.
"Pagi Bu Aurel" sapa Kinan.
Aurel pun membalik badannya dan membalas sapaan itu dengan seulas senyum. Kemudian ia pun kembali memandangi tembok besar tersebut.
"Kinan.." panggil Aurel.
"Iya Bu" sahut Aurel.
"Bisakah kamu mencari seseorang yang dapat menyulap tembok ini?" ujar Aurel tanpa mengalihkan pandangannya dari tembok tersebut.
"Maksudnya untuk mengecat tembok ini?" tanya Kinan balik. Ia merasa belum paham apa yang dimaksud oleh atasannya itu.
"Lebih tepatnya seorang pelukis" ucap Aurel yang memandang ke arah Kinan sekilas.
"Saya bosan memandang tembok ini dengan perasaan hampa. Setidaknya saya ingin merasakan sebuah emosi saat melihat tembok ini, dengan berbagai warna" sambung Aurel.
"Baiklah Bu, nanti akan saya carikan seorang pelukis" ujar Kinan yang kemudian berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
.
.
.
Di lain tempat, Alviro memegang keningnya. Jujur ia merasa frustasi, mencari cara agar putri semata wayangnya itu dapat memaafkannya karena atas kesalahannya di masa lalu.
Belum lagi Alea yang selalu memperlihatkan kemurungannya. Dan hal yang paling istrinya takuti pun akhirnya terjadi.
"Satu hal yang aku takuti, kekecewaan Aurel"
Ucapan Alea tersebut selalu menghantuinya. Namun, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi, dan jika hal tersebut di dengar oleh Aurel dari orang lain tentunya membuat hati Aurel bertambah sakit lagi.
Dilihatnya foto yang ada di mejanya. Foto saat ia tertawa bahagia bersama anak dan istrinya.
"Maafkan papa nak, papa sudah mengecewakanmu"
gumam Alviro seraya mengusap foto tersebut.
❤❤❤
Rasya yang tampak duduk di sebuah taman, ia pun berbincang dengan salah satu anggota keluarga pasien yang di rawat di kliniknya yang juga berada disana.
Drrrtttt...
Ponsel Rasya bergetar, dilihatnya pesan singkat yang dikirim oleh pria yang selalu mendukung hubungannya dengan Aurel. Siapa lagi jika bukan Alviro.
Rasya pun membacanya dengan singkat. Ia masih kurang paham dengan apa yang dikirim oleh Alviro.
Rasya pun meminta izin pada lawan bicaranya untuk menelepon.
Tak butuh waktu lama, Rasya menekan tombol dial kontak yang dinamainya 'calon papa mertua' itu.
"Halo Om, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rasya sedikit panik.
Alviro pun menjelaskan semuanya melalui telepon. Rasya mendengarkannya dengan seksama, sesekali ia mengangguk paham.
__ADS_1
"Baiklah, nanti Rasya yang akan bicara dengan Aurel, Om" ujar Rasya. Setelah semuanya jelas, Rasya pun menutup sambungan teleponnya.
***
Malam pun telah tiba, berulang kali Rasya menelepon Aurel namun tidak ada jawaban. Rasya pun sempat menghubungi Alviro untuk menanyakan Aurel apakah sudah pulang atau belum, dan jawaban dari Alviro adalah belum.
Rasya langsung memacu mobilnya membelah jalanan. Ia mencari-cari keberadaan Aurel di tempat yang sering dikunjunginya, namun hasilnya tetap nihil.
Rasya yang mulai frustasi, mencoba untuk menenangkan dirinya didalam mobil sembari berfikir.
Ia pun langsung mendongakkan kepalanya, saat sadar akan satu tempat yang belum ia kunjingi., yaitu kantor tempat Aurel bekerja.
Entah mengapa kepanikannya dapat menutup akal sehatnya. Seharusnya, tempat itulah yang ia kunjungi terlebih dahulu.
Rasya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terkadang beberapa kendaraan yang juga melintas disana, menekan klakson ataupun mengeluarkan umpatan-umpatan karena cara mengemudi Rasya bisa dibilang sedikit gila. Namun Rasya mengabaikan hal itu. Baginya, yang paling penting saat ini ialah menemukan keberadaan Aurel.
Rasya sampai di kantor Aurel, disana masih dalam keadaan ramai karena tempat Aurel mencari pundi-pundi rupiah di sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan besar.
Dilihatnya salah satu mobil yang terparkir disana yaitu mobil BMW X6 yang berwana merah, merupakan mobil yang sering dikendarai oleh Aurel.
Rasya pun menghembuskan nafasnya dengan lega.
Ia keluar dari mobilnya, dan langsung memasuki tempat tersebut. Didalam sana, Aurel bertanya dengan salah satu pegawai yang berada disana.
"Maaf, saya mau menanyakan sesuatu. Apakah Aurel ada?" tanya Rasya.
"A...Ada.. diatas pak" ucap salah satu pegawai kaku seraya memandangi wajah menawan Rasya.
"Oke, terimakasih ya" ujar Rasya yang langsung menuju ke atas.
"Ya Tuhan, tampan sekali" ujar pegawai tersebut seraya menyenggol lengan pegawai yang satunya.
Rasya mengetuk ruang kerja kekasihnya itu. Namun tidak ada jawaban. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Dilihatnya Aurel yang tampak tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala menyender di meja kerja.
Melihat keadaan yang saat ini, membuat Rasya sedikit merasa bersalah karena tidak dapat menjadi pundak tempat Aurel bersandar.
Rasya menghampiri Aurel, dilihatnya sisa air mata di wajah wanita yang saat ini sedang tertidur pulas.
Wanita ini menangis, dan Rasya merasa tersakiti saat melihat Aurel dengan kondisi sekarang.
Rasya menyeka sisa air mata Aurel. Tiba-tiba Aurel langsung terbangun dari tidurnya. Reflek Rasya menepuk-nepuk udara.
"Ada nyamuk yang hinggap di wajahmu" ujar Rasya yang masih melakukan aksi konyolnya.
"Benarkah?" ujar Aurel dengan suara yang sedikit serak kemudian mengusap matanya.
Rasya hanya mengangguk menimpali Aurel.
"Kenapa kamu tidur disini?" tanya Rasya.
"Aku terlalu semangat bekerja tanpa sadar aku tertidur disini" ucap Aurel berbohong.
"Benarkah tidak ada yang terjadi?" tanya Rasya lagi.
"Hmmm.. Tidak ada yang terjadi" timpal Aurel seraya tersenyum.
"Sampai kapan kamu akan benar-benar mempercayaiku Aurel, bahkan masalahmu saja kamu pendam sendiri" ujar Rasya dalam hati.
Rasya melangkah beberapa langkah, dan ia pun berbaring di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
Aurel hanya menggelengkan kepalanya, melihat Rasya yang tampak nyaman sembari mengotak-atik ponselnya tanpa mengeluarkan kata sepatah pun.
"Bagaimana kamu mengetahui aku berada disini?" tanya Aurel.
Hening.. tak ada jawaban dari Rasya. Ia tak mendengarkan ucapan Aurel karena sibuk menonton sebuah video yang berada di ponselnya.
"Rasya.. kamu tidak mendengarkanku?"
"Melalui telepati" jawab Rasya yang tampak acuh.
"Kamu sedang melihat apa? atau jangan-jangan.." ujar Aurel yang mulai berfikiran yang tidak-tidak.
"Hei.. Aku tidak seperti itu" sanggah Rasya yang langsung dengan posisi duduk.
"Jika kamu tidak percaya, coba saja untuk melihatnya sendiri" ujar Rasya.
Aurel pun langsung mengambil posisi duduk di dekat Rasya dan melihat video apa yang tonton oleh Rasya.
Aurel melihat dengan seksama, sesaat kemudian ia pun menjatuhkan air matanya. Sebuah perjuangan seorang ayah untuk menafkahi keluarganya.
"Kamu tahu, bapak tersebut melakukan suatu kebohongan besar. Saat ia ditanya oleh sang anak apakah sang ayah tidak merasa lapar, dan jawab bapak tersebut tidak, ia sudah merasa kenyang. Padahal saat itu bapak tersebut amat kelaparan" ujar Rasya bercerita sedikit mengenai video yang ditontonnya.
"Ada kalanya orang tua menyimpan suatu kebohongan besar hanya untuk membuat anaknya bahagia. Dan lihatlah, saat bapak itu mengatakan tidak lapar, anaknya dengan lahap memakan makanan yang diberikan oleh orang tuanya" tutur Rasya yang mempunyai maksud tersembunyi.
Ia sengaja melakukan hal tersebut hanya untuk menyadarkan Aurel. Bisa jadi urusan keluarga, Rasya belum berhak untuk ikut campur. Namun dengan melalui hal tersebut, setidaknya Rasya sudah memberi pencerahan sedikit pada Aurel.
"Aku ingin pulang" ucap Aurel seraya tersedu.
"Antarkan aku pulang" rengek Aurel.
Rasya pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mengantarkan Aurel ke rumahnya. Di mobil, Aurel menangis karena merasa tertampar dengan video yang baru saja dilihatnya.
Rasya mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan wanita itu.
Setelah sampai dirumahnya, Aurel langsung turun dari mobil. Ia pun dengan setengah berlari menuju rumah. Dilihatnya papa dan mamanya menunggu kedatangannya di ruang tengah.
Aurel melepaskan tas tangan yang dibawanya, dan langsung berhambur ke pelukan kedua orang tuanya.
"Maafin Aurel ma, pa.." ujar Aurel dengan tersedu.
"Iya nak, papa dan mama juga minta maaf" ujar Alviro merengkuh putrinya serta Istrinya.
Kemudian Alviro pun mengarahkan pandangannya pada Rasya. Ia menyunggingkan senyumnya tanda terimakasihnya pada pria tersebut. Rasya yang tahu kode dari Alviro pun langsung menganggukkan kepalanya seraya tersenyum simpul.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih yang sudah membaca sejauh ini😘 Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya ya🤗
Votenya jangan lupa biar makin mahir😌😂✌
__ADS_1
salam manis Ryn