Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 17. Pertanggung Jawaban


__ADS_3

Irene tengah menunggu kedatangan Reyhan sembari menendang-nendang batu yang ada dihadapannya. Belum lama kemudian ia pun melirik lagi arlojinya.


"Sudah lewat 10 menit, apa dia tidak akan datang?" ucap Irene.


"Apa mungkin ia sibuk?" lanjutnya yang kemudian mengusap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Reyhan, namun Reyhan tak kunjung menjawab teleponnya.


......................


Sedangkan sosok pria yang berada didalam mobil yang posisinya berseberangan dengan Irene tak kunjung keluar. Ia hanya mengamati gerak-gerik Irene sedari tadi.


"Ada apa denganku, haruskah aku menemuinya seperti ini" gumam pria tersebut sembari menatap amplop coklat yang diterimanya tadi.


Beberapa kali ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk dari wanita yang berada diseberang sana, namun Reyhan mencoba mengabaikannya.


Reyhan pun memberanikan diri untuk keluar dari mobil sembari membawa amplop tersebut. Perasaan takut kembali menyelimutinya, takut untuk mengatakan yang sebenarnya atau haruskah ia berbohong dengan sesuatu yang diterimanya kini.


Saat Irene menyadari keberadaannya, wanita itu pun menyunggingkan senyumnya sembari melambaikan tangannya.


Reyhan pun menghampiri wanita tersebut. Namun belum lama kemudian, Irene menarik Reyhan untuk berjalan memasuki sebuah kedai bakso yang berada tepat di sebelah bengkel tersebut.


"Hei kita mau kemana?" ujar Reyhan yang terkejut saat ditarik paksa oleh Irene.


Irene memberi kode sembari mengarahkan pandangannya ke kedai tersebut.


"Bukankah kau mengajakku untuk kesana" ucap Reyhan sembari menunjuk bengkel.


"Aku lapar, tidak mungkin aku memakan baut yang ada disana" ujar Irene yang memasuki kedai tersebut terlebih dahulu.


Reyhan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita tersebut. Ia pun mengambil posisi duduk berhadapan dengan Irene.


"Mengapa harus disini? mengapa tidak di resto?" Reyhan bergumam namun hal tersebut dapat tertangkap oleh indera pendengaran Irene.


"Aku mau mentraktirmu makan disini, di resto terlalu mahal" sahut Irene.


Beberapa saat kemudian, pesanan keduanya pun datang. Tak bisa dipungkiri bahwa aroma dari kuah bakso yang ada dihadapannya membuat ia menelan salivanya.


"Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu" ujar Reyhan yang mencoba mencicipi rasa makanan yang ada dihadapannya itu.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Irene.

__ADS_1


"Kalau begitu kau saja dulu" tukar Reyhan sembari melahap baksonya.


Irene tertegun sejenak, ia pun tersenyum saat melihat Reyhan begitu menikmati makanan yang terbilang murah tersebut.


"Apakah rasanya sangat enak?" tanya Irene sembari menahan tawanya.


"Tidak.. Aku hanya merasa sangat lapar saja" sahut Reyhan yang masih mengunyah makanannya.


"Tapi tulisan dikeningmu itu mengatakan bahwa ini sangat enak" ucap Irene terkekeh.


Keduanya pun kembali menyantap baksonya.


.


.


.


Setelah membayar makanannya, Irene dan Reyhan pun melangkah keluar dari tempat tersebut.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Reyhan.


"Apa yang ku lakukan?" Reyhan tampak terlihat bingung.


"Banyak sekali.. kau saja yang tidak menyadarinya" ujar Irene tersenyum.


"Aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kita. Kamu berhak menikah dengan wanita pilihanmu dan kamu juga berhak untuk hidup bersama wanita yang benar-benar kau cintai" jelas Irene panjang lebar.


Reyhan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sudah terlambat.." gumam Reyhan.


"Maksudmu?"


"Sepertinya sebuah kesalahpahaman diantara kita akan tetap berlanjut, dan kau harus mempertanggung jawabkannya dengan menjadi istriku" ucap Reyhan yang terlihat tak bersemangat.


"Semuanya belum terlambat, dan aku bisa menjelaskannya pada kedua orangtuamu" tukas Irene.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, jika kau menjelaskannya saat ini maka semuanya akan menjadi rumit" ujar Reyhan sembari menyodorkan amplop coklat yang diterimanya tadi siang.

__ADS_1


Irene pun menerima amplop tersebut dengan wajah bingung, perlahan ia pun membuka amplop tersebut yang didalamnya berisi sebuah undangan pernikahan dengan design yang mewah.


Ia pun belum mengerti sepenuhnya tentang undangan tersebut, namun saat membaca nama dirinya yang tertera menjadi mempelai wanita, Irene langsung membelalakkan matanya.


"Ini..ini.. bagaimana mungkin. Kau.." ujar Irene sembari menunjuk Reyhan.


"Itu bukan ulahku melainkan kejutan dari mama. Bukan kau saja yang terkejut aku pun juga terkejut saat menerima amplop yang berisi undangan itu. Dan bahkan dengan cepatnya undangan ini tersebar dimana-mana" jelas Reyhan yang sedikit frustasi.


"Tapi.. Bagaimana ini?"


"Mau tak mau kau harus menjadi istriku, jika tidak kau akan mempermalukan keluargaku" ujar Reyhan.


"Terimakasih untuk bakso tadi, itu membuat rasa stresku sedikit terangkat. Dan selamat malam calon istriku" ujar Reyhan dengan wajah polos yang dibuat-buat.


Pria itu pun langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan Irene yang masih tercengang ditempat itu.


"Apa dia bilang? calon istri? bagaimana aku bisa menjadi istrimu dalam waktu tiga Minggu. Itu pasti karena ulahmu kan" teriak Irene sembari melemparkan sendalnya ke arah mobil Reyhan yang sudah melaju.


.


.


.


Bersambung..




Jangan lupa untuk memberikan dukungannya berupa vote, komen, dan likenya🖤


Oh ya.. Aku mau minta pendapat kalian nih.


Untuk kisah cintanya David apa mau aku lanjut disini atau disebelah nih😅


Soalnya sekarang peraturan kontrak novel udah mulai susah. Kira-kira kalo aku lanjut disini takut ada yang komentar kepanjangan atau apalah😁


Harap maklum yak, aku nulis cuma buat bantu beli kuota🤭

__ADS_1


__ADS_2