Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 34. Garis Khatulistiwa


__ADS_3

Reyhan melirik jam ditangannya. Ia pun merapikan dokumen yang berserakan di mejanya. Pandangan reyhan mengarah ke arah meja yang berseberangan dengannya.


Gadis yang tampak tertidur dengan kedua tangan yang menjadi penyangga kepalanya. Reyhan pun tersenyum melihat istrinya berada disisinya.


Reyhan teringat akan paket yang tadi diterimanya. Pria itu pun membuka paket yang berupa dokumen tersebut. Tentu saja dokumen itu dikirim oleh orang suruhannya tadi. Dan Reyhan tentu tau sumber yang didapatnya selain cepat dapat diakui tepat kebenarannya.


Lembar demi lembar Reyhan membaca kertas tersebut. Tangannya mengepal dan matanya memerah. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang kini bersamanya melalui kehidupan yang begitu berat, dan menimbulkan trauma yang begitu mendalam baginya.


Ia pun meletakkan amplop tersebut ke dalam laci mejanya. Reyhan menghampiri Irene sembari mengusap rambut gadis itu.


"Mulai saat ini kau milikku, bersandarlah padaku dan biarkan aku yang menepis semua rasa takutmu itu" ujar Reyhan yang masih mengusap rambut Irene.


Perlahan Irene pun membuka matanya, gadis itu sedikit terlonjak kaget dan menepis tangan Reyhan yang berada di kepalanya


"Apa yang kau lakukan?" tanya Irene tergugup.


"Tidak apa-apa, aku hanya memastikan kapan terakhir kali kau mencuci rambutmu" kilah Reyhan.


Irene hanya terdiam, gadis itu bingung dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Reyhan.


"Ayo pulang, apa kau akan tetap tinggal disini?" tanya Reyhan.


"Tidak.. aku ingin pulang" ujar Irene yang segera bangun dan menyusul Reyhan yang sudah keluar terlebih dahulu.


...


Di tempat parkir, Irene menadahkan tangannya didepan Reyhan.


"Berikan kunci mobilmu, biar aku saja yang menyetir" ujar Irene.


"Kau yakin?" tanya Reyhan sedikit tak percaya.


"Tentu saja, walaupun sebentar aku pernah bekerja menjadi supir pengganti" ucap Irene.


"Ohh.. aku baru mengetahui ternyata kau multitalenta sekali"


"Tentu saja" tukas Irene sembari mengibaskan rambutnya.


Awalnya Reyhan hendak memberikan kunci mobilnya namun belum sampai diletakkan ke tangan Irene pria itu pun mengurungkan niatnya.


"Namun aku masih meragukanmu nona, aku tidak ingin si hitam tampanku ini menjadi buruk rupa karena ulahmu" cerca Reyhan yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Irene menghembuskan nafasnya perlahan.


"Sabar.. sabar.. jika suatu hari ada acara pelelangan maka kau yang akan aku lelang terlebih dahulu" gerutu Irene yang kemudian juga masuk ke dalam mobil.


...****************...


Di lain tempat, Aurel memegang tespek yang memperlihatkan bahwa ia positif hamil. Ada rasa bahagia dalam dirinya namun ada juga rasa pilu saat mengetahui apa yang kini sedang dialaminya.


Setetes air mata jatuh di pipi mulusnya, dengan cepat Aurel menghapusnya dan keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tamu. Dimana saat itu kedua mertuanya serta suaminya tengah menunggunya.


"Jadi.. apa keputusanmu Rasya?" tanya Abizar sedikit bernada tinggi. Bagaimana tidak pria yang dulunya selalu mengikuti perintahnya kini berubah 180 derajat dari biasanya.


"Aku memilih untuk melepaskan Aurel pa" satu kata yang membuat semua orang yang ada disana kecewa.


Abizar bangkit dari duduknya dan..


PLAKKK...


Satu tamparan dihadiahkan Abizar untuk putra sulungnya itu.


"Apa kau sudah gila berkata demikian? Apa kau tidak memandang wajah anakmu yang saat ini terlelap dikamarnya?!" ujar Abizar dengan emosi.


Irsya memegang tangan Abizar mencoba menenangkan suaminya itu, sedangkan Rasya hanya tertunduk diam. Dan Aurel memandang ke arah langit-langit agar air matanya tak jatuh.


"Maafkan aku mas jika aku bukanlah istri yang baik untukmu" hanya satu kalimat itu yang bisa diucapkan oleh Aurel. Mempertahankan juga rasanya percuma jika minimnya kepercayaan didalam sebuah rumah tangga.


"Apa alasanmu nak? mengapa kau sampai mencetuskan kata-kata yang hina itu" ujar Irsya sembari menitikkan air mata.


"Maafkan aku ma" sebuah jawaban ambigu yang diucapkan oleh Rasya.


Aurel segera bangkit dari tempat duduknya, wanita itu pun langsung memasuki kamar anaknya. Dilihatnya Arden dan Aretha tampak tidur dengan nyenyak. Air mata yang sedari tadi ditahannya pun tumpah begitu saja.


Aurel menuju ke ranjang tempat tidur Arden dan mengusap rambut anaknya itu dengan sayang. Setelah itu ia menuju ke ranjang Aretha, ia pun melakukan hal yang sama. Namun Aretha terbangun saat setetes air mata mengenai wajahnya.


"Bunda kenapa menangis?" tanya Aretha.


"Tidak nak, mata bunda hanya sedikit perih saja" jawab Aurel asal sembari menghapus air matanya.


Aretha bangun dari posisi tidurnya, ia pun segera meniup mata Aurel.


"Masih perih bunda?" tanya Aretha.

__ADS_1


Aurel hanya menggelengkan kepalanya, air matanya kembali jatuh. Aretha pun menghapus air mata bundanya itu.


"Terimakasih ya nak" ucap Aurel yang kemudian memeluk anaknya


"Sama-sama bunda"


...****************...


Irene baru saja mengambil bantal bersiap hendak tidur di bawah, namun Reyhan menarik bantal tersebut.


"Kau mau kemana?" tanya Reyhan.


"Tentu saja mau tidur" ujar Irene ketus.


"Tidur disini saja, lagi pula kasurku cukup luas untuk dua orang" ucap Reyhan.


"Apakah kau salah minum obat?" terkejut mendengar penuturan dari Reyhan.


"Bik Lastri sudah mengetahui bahwa kau dan aku tidak tidur dalam satu ranjang" ujar Reyhan mencoba mencari alasan.


"Benarkah? gawat baiklah kalau begitu mulai sekarang kita tidur satu ranjang" ucap Irene yang langsung meletakkan kembali bantalnya di atas tempat tidur milik Reyhan.


"Tapi kita harus buat kesepakatan terlebih dahulu" sambung Irene.


"Apa itu?"


"Bantal ini adalah pembatas jarak antara kau dan aku. Anggap saja ini garis khatulistiwa yang tidak boleh kau lewati. Jika kau melewatinya maka kau akan terkena hukuman" jelas Irene meletakkan bantal guling di tengah-tengah mereka.


"Hukuman apa?" tanya Reyhan.


"Keesokan harinya aku akan menjelaskan apa hukumanmu".


"Baiklah kalau begitu, tapi hukuman tersebut juga berlaku untukmu" ancam Reyhan balik.


"Tentu saja, dapat aku pastikan bahwa aku lebih berhati-hati dalam posisi tidurku" ucap Irene yang segera merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Reyhan


"Baiklah kita lihat saja siapa yang akan terkena hukuman besok" ujar Reyhan yang juga merebahkan dirinya membelakangi Irene.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2