
"dari mana saja kamu!" ujar Alviro dengan rahang yang mengeras.
Alea menulikan telinganya dan berlalu dari hadapan Alviro, namun Alviro langsung menarik paksa tangan Alea.
"lepasin aku mas" ujar Alea meringis kesakitan.
"aku tanya dari mana saja kamu pulang selarut ini!" Alviro tampak emosi.
"bukan urusan kamu mas" tukas Alea.
"apa kamu bilang, oh. . apakah ini yang kamu inginkan Alea pulang kesini hanya untuk menikmati waktu dengan lelaki bajingan itu?" ujar Alviro.
"tutup mulutmu mas dia bukanlah lelaki bajingan kamu lah yang bajingan! " ujar Alea dengan tatapan nanar.
"oh. . jadi sekarang kamu memilih membela lelaki lain daripada aku?" ucap Alviro
"seharusnya aku yang mengucapkan kalimat tersebut mas, kamu lebih memilih wanita itu dibandingkan aku mas. aku juga berhak menentukan hidupku mas" tukas Alea
"apakah ini alasanmu ingin bercerai dariku Leah? baiklah mulai besok aku akan mengurus surat perceraian kita" Alviro langsung menghempaskan tangan Alea dan pergi meninggalkannya.
Didalam mobil, Alviro tampak terbakar oleh emosinya. Ia pun memukul setir yang ada dihadapannya berkali-kali.
Matanya pun memerah dan kemudian mengeluarkan cairan bening
"sungguh ini amat menyesakkan bagiku Leah" gumam Alviro.
Alea menutup pintu rumahnya. Rasa sedihnya sudah tak terbendung lagi. Ia pun luruh ke lantai seolah pertengkarannya dengan Alviro sangat menguras tenaganya.
Kata perceraian yang diucapkan Alviro tadi begitu menyakitkannya. Entah mengapa disaat Alviro akan mengabulkan permintaannya justru amat menyakitkan baginya.
Takdir sungguh tak berpihak kepadanya
Alea terbangun dari tidurnya, ia pun merasa agak pusing karena menangis semalam.
Alea pun langsung beranjak dari tidurnya melakukan aktivitas seperti biasanya.
Alea keluar dari rumahnya hendak berangkat bekerja. tiba-tiba. .
Tinn. .Tinnn. .
Alea menangkap bunyi klakson mobil. Alea pun langsung mencari sumber suara tersebut.
Dilihatnya Abizar yang duduk didalam mobil sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Alea langsung menghampiri Abizar.
"mas Abi. . ada apa mas?" tanya Alea
"gak apa-apa kok Leah. Ayo masuk kita berangkat bareng" tukas Abizar.
__ADS_1
"tapi mas tempatnya deket kok gak jauh aku jalan kaki aja" ujar Alea.
"ya udah kalau gitu" ujar Abizar keluar dari mobilnya.
"ayo kita berangkat jalan kaki" lanjut Abizar.
"maksud mas mau nemenin saya jalan kaki sampai ketempat kerja?" tanya Alea tampak heran.
Abizar pun menganggukan kepalanya.
" terus mas Abi berangkat kerjanya gimana kalau mobilnya ditinggal mas, klinik mas Abi kan lumayan jauh" tanya Alea tampak bingung.
"aku antar kamu kerja dulu terus aku balik lagi kesini buat jemput mobilku, jadi aku berangkatnya tetap naik mobil" ujar Abizar dengan polosnya.
Alea pun langsung tertawa mendengarkan penuturan Abizar yang amat konyol itu.
"mas kenapa jadi serumit itu" ujar Alea terkekeh.
"kamu yang membuatnya menjadi rumit Leah" tukas Abizar.
Mereka berdua pun langsung tertawa.
"jadi gimana nih?" tanya Abizar menaikan alisnya sebelah.
"ya udah deh aku kalah, aku ikut mas" tukas Alea dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
"yesss..!!" seru Abizar sambil mengepalkan tangannya.
Abizar langsung membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Alea memasuki mobilnya.
Abizar melajukan mobilnya menuju tempat kerja Alea.
Abizar memberhentikan mobilnya tidak jauh dari tempat Alea bekerja. Tidak memakan waktu lama karena jarak yang mereka tempuh dari rumah Alea tidaklah jauh.
"makasih ya mas" ujar Alea langsung turun dari mobil.
Abizar menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Alea pun langsung memasuki tempat kerjanya.
Dilihatnya Tiara tampak memperhatikannya.
"Leah. . itu siapa?" tanya Tiara menunjuk ke Abizar yang melajukan mobilnya.
"temen aku namanya mas Abizar" jawab Alea.
"ya ampun Alea. . cakep banget, kalau aku belum nikah aku mau dijodohin tuh sama temen kamu" ujar Tiara tersenyum penuh makna.
"oh ya, apakah suami kamu gak marah kamu dianter sama cogan itu?" sambung Tiara.
__ADS_1
Alea menanggapi ucapan Tiara dengan tersenyum perih.
"aku mau lanjutin pekerjaan aku dulu" ujar Alea yang mengalihkan pembicaraan dan langsung meninggalkan Alea.
Tiara pun tampak bingung melihat sikap Alea yang tiba-tiba saja berubah.
"aneh sekali, tunggu kayaknya aku pernah liat si Abizar deh tapi dimana yah?" gumam Tiara.
Alviro sedari tadi berkutat dengan laptopnya tanpa menghiraukan kehadiran Clara.
semenjak Alviro berkata ingin menikahi Clara, Alviro selalu saja direpotkan dengan Clara.
Mulai dari permintaan konyolnya sampai tingkahnya yang sungguh memuakkan menurut Alviro.
tokkk. .tokkk. .
Roland pun menampakkan dirinya.
"rapat akan segera dimulai pak" ujar Roland.
"baiklah" tukas Alviro sambil menutup lembar kerjanya.
Alviro pun beranjak dari tempat duduknya.
"Vi. . kamu ninggalin aku gitu aja, dari tadi aku nungguin kamu tapi kamu gak ngomong sepatah kata pun denganku bahkan tidak menjawab sapaanku" ujar Clara yang tampak sudah jengah.
"aku sibuk!! kamu tau kalau aku sedang bekerja, sebaiknya kamu pulang dan jangan ganggu aku dulu" teriak Alviro yang langsung meninggalkan Clara.
tentu saja semua mata saat ini menuju ke arah Clara. teriakan Alviro barusan membuat Clara menjadi pusat perhatian.
"hahaha" Roland yang sedang berada didekat pintu menertawai Clara.
Clara melirik Roland dengan tatapan sinis.
"mau ketawa tapi takut dosa" ujar Roland menggelengkan kepalanya seraya melangkah pergi.
Apa?
Apakah Clara tidak salah dengar ucapan Roland barusan.
Bukankah Roland sedari tadi sudah menertawainya.
"dasar pria gila" ujar Clara menggeram kesal.
terimakasih sudah membaca😊. jangan lelah ya untuk mengikuti kusah selanjutnya.
dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
like dan komennya 😅
__ADS_1
salam manis RPS😊