Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 27


__ADS_3

Aurel duduk disebuah resto seraya menunggu kedatangan Rasya. Siang ini Aurel ada janji untuk makan bersama dengan kekasihnya itu. Belum lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun telah tiba ditempat tersebut.


"Maaf aku sedikit terlambat" ujar Rasya yang melirik jam tangannya menandakan ia telat 10 menit.


Ia pun menarik kursi yang ada dihadapannya.


Aurel pun hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya barusan.


"Mari kita pesan makanan, aku sudah lapar" tutur Aurel seraya mengelus perutnya.


Keduanya pun langsung melihat buku daftar menu yang ada di meja itu dan memesan menu yang sama.


"Lain kali biarkan aku menjemputmu ditempat kerja, supaya kamu tidak terlalu jenuh untuk menunggu" tutur Rasya.


"Tidak!" cegah Aurel langsung.


"Aku tidak ingin merepotkanmu" lanjut Aurel.


Rasya pun menautkan kedua alisnya, bingung akan sikap yang diperlihatkan oleh Aurel barusan.


"Bukankah biasanya aku menjemputmu? hanya saja akhir-akhir ini kamu lebih memilih untuk bertemu diluar. Kita bertemu selalu membawa mobil masing-masing dan itu membuat kita tampak seperti orang asing" tutur Rasya lirih.


Aurel merasa tidak enak dengan apa yang baru saja diucapkan. Benar, ia amat takut jika Rasya mengetahui bahwa adiknya bekerja disana. Dan hal itu tentunya akan membuat Rasya sakit. Pelayan resto pun datang membawa menu yang tadi mereka pesan.


"Maaf, aku sedikit merasa stres karena pekerjaan akhir-akhir ini"


"Lupakan, aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman, sayang. Makanlah selagi hangat" ujar Rasya yang kemudian melempar senyumnya.


Tak berapa lama kemudian, keduanya pun telah menghabiskan makanannya. Setelah melakukan transaksi pembayaran, Rasya langsung menyusul Aurel yang lebih dulu menuju ke parkiran.


"Sayang, apakah kamu akan langsung kembali bekerja?" tanya Rasya.


Aurel menganggukan kepalanya.


"Sejujurnya aku ingin mengatakan sesuatu, sungguh ini mengganggu pikiranku" ujar Rasya.


"Apa itu?" tanya Aurel.


"Apakah ia akan jujur tentang semuanya" gumam Aurel dalam hati.


Hening..


Tak ada sepatah pun yang keluar dari mulut pria tersebut.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Aurel lagi yang masih menunggu.


"Aku.. Aku amat merindukanmu, dan itu sangat menggangguku" ujar Rasya seraya terkekeh pelan.


"Hmmm.. dasar! aku kira apa. Lagi pula jika itu mengganggumu, jangan pernah merindukanku" ketus Aurel kesal.


"Tapi aku ingin terus seperti itu, sayang. Biar pun itu menggangguku, sekalipun kamu masih ragu, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk itu" tutur Rasya.


"Sampai kapan?"


"Sampai aku lelah, sampai kamu pergi dan mengusirku untuk tidak menggangu kamu lagi" ujar Rasya lirih.


Keduanya pun terdiam lama, saling memandang namun dengan pikiran yang berkecamuk masing-masing.


"Baiklah, aku mau kembali menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda tadi. Kalau begitu aku duluan" ujar Aurel yang membuka suara dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Rasya pun menjawab perkataan Aurel dengan sebuah anggukan pelan. Ia hanya memandang laju mobil wanita yang menjadi kekasihnya, namun tak dapat digapai hatinya.


❤❤❤


Sore ini, Reyhan melakukan pekerjaannya seperti biasa. Sudah sekitar 25 persen lukisan yang ia buat disebuah tembok besar tersebut. Sesekali ia pun kembali melirik lift akses naik turun Aurel.


Semenjak kejadian pagi itu, Aurel tampak acuh. Bahkan biasanya ia mengecek sesekali hasil kerjanya, namun beberapa hari ini ia tidak pernah lagi mengawasi Reyhan.


Reyhan pun memundurkan kakinya tanpa sengaja. Bahkan ia lupa bahwa saat ini dirinya berdiri di sebuah tangga lipat yang berukuran 3 meter tersebut.


Sontak saja hal tersebut membuat Reyhan kehilangan kendali, dan langsung jatuh ke lantai.


Bukkhhh..


Semua orang yang ada disana pun mencoba membantu Reyhan. Ada yang mencoba untuk memberitahukan kepada atasan mereka, dan ada pula yang melihat Reyhan dan memberikannya air minum.


Saat mendengar kabar tersebut, dengan cepat Aurel bergegas menuju lift. Lift pun terbuka dan Aurel sedikit berlari menghampiri Reyhan.


Dilihatnya luka pada bagian kaki kiri, siku, dan keningnya.


"Tolong bantu saya bawa dia ke mobil. Saya akan membawanya ke rumah sakit" perintah Aurel kepada salah satu staf lelaki disana.


"Jangan, tolong jangan membawaku kesana" cicit Reyhan seraya meringis kesakitan.


"Lukaku tidak parah, dan ini hanya luka lecet saja" lanjutnya.


"Tapi setidaknya kamu harus cepat ditangani, takutnya ada tulang yang retak" ujar Aurel.

__ADS_1


"Tolong.. jangan membawaku kesana" ucap Reyhan dengan memohon.


"Bawa dia ke ruangan saya" perintah Aurel.


Salah satu pegawai yang bergender laki-laki pun langsung menggendong Reyhan dan membawanya menuju ruangan Aurel. Pegawai tersebut meletakkan Reyhan di salah satu sofa panjang yang ada disana.


"Silahkan lanjutkan pekerjaanmu" ucap Aurel pada pegawai tadi. Pegawai tersebut pamit undur diri dan langsung keluar dari ruangan itu.


Tinggallah kini Aurel dan Reyhan saja. Aurel menuju lemari penyimpanan tempat ia menyimpan segala keperluan mendadak, termasuk kotak P3K. Ia pun mengambil kotak P3K tersebut.


Dengan cekatan Aurel membersihkan dan mengobati luka Reyhan. Sesekali Reyhan meringis menahan perih saat Aurel memberikan cairan alkohol untuk mensterilkan lukanya. Setelah semuanya selesai, ia pun menggunting perban secukupnya dan menempelkan plaster di kedua sisi tiap luka Reyhan, karena luka ukuran luka tersebut tidak terlalu besar.


"Apa kau tidak bisa berhati- hati dalam bekerja" ujar Aurel sedikit kesal.


"Maaf.." gumam Reyhan.


"Bagaimana jika tulangmu patah, bagaimana jika kepalamu terbentur hebat, dan kau tetap bersikeras tidak ingin dibawa ke dokter" racau Aurel, tersirat raut panik diwajah gadis itu.


Reyhan pun semampunya untuk menarik tangan gadis itu, Aurel pun terduduk disamping Reyhan. Dengan pelan. Reyhan mencoba memeluknya, tangis Aurel pecah saat dalam pelukan pria itu. Ia mencoba menenangkan gadis tersebut.


"Maafkan aku, aku terlalu ceroboh hingga kurang berhati-hati" ujar Reyhan.


Ia pun melonggarkan pelukannya, dihapusnya air mata yang ada diwajah gadis tersebut.


"Maafkan juga atas sikapku yang kemarin-kemarinnya telah membuatmu terluka, aku sadar jika aku sosok lelaki pengecut yang hanya bersembunyi dibalik ketakutanku" lanjutnya lagi.


"Baiklah, aku maafkan semua sikapmu serta kebodohanmu hari ini" ujar Aurel.


Aurel pun beranjak dari tempat duduknya dan hendak kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun ucapan Reyhan secara tiba-tiba menghentikan pergerakannya.


"Bisakah kau mengajariku arti sebuah kedewasaan dan cinta? berikan aku tiga kencan saja untuk mengetahui semuanya, ku mohon." ucap Reyhan tiba-tiba.




Bersambung...


Hai..hai.. maaf ya aku telat ngirim naskahnya karena aku sempat blank kemarin. Harusnya aku udah kirim jadi ke tunda 😳.


Aku liat sekarang banyak penggemar Reyhan ketimbang Rasya🤔 kira-kira apa yang kurang dari suami haluku😆. Aku belum bisa mastiin ya nantinya Aurel sama siapa, yang pasti masih abu-abu. Siapa tahu nanti si Aurel aku jodohin ama kang cilok didepan komplek dan babang Rey sama Rasya buat akiuuu wkwkwk. Untuk pict aku pasang setelah yang ini lolos, biar nggak kelamaan nunggunya.


ikutin terus yak ceritanya, jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak kalian😚

__ADS_1


salam manis Ryn❤


__ADS_2