
Irene tampak kesal karena telah menunggu Reyhan sedari tadi didalam mobil. Setelah mencoba gaun pengantin, Reyhan dan Irene kembali ke mobil. Namun saat Irene telah masuk ke dalam mobil, Reyhan keluar dari mobilnya dan berkata pada gadis itu bahwa ia akan ke toilet sebentar.
Irene pun meraba ponselnya didalam saku, dan langsung menghubungi kontak Reyhan. Akan tetapi dering ponsel tersebut terdengar tak jauh darinya. Benar saja Reyhan meninggalkan ponselnya.
"Ckk.. Dia tidak membawa ponselnya" ucap Irene berdecak.
Irene membulatkan matanya saat melihat tulisan yang tertera di layar ponsel milik Reyhan.
"Gadis gincu?" gumam Irene.
Ia pun menarik spion mobil dan melihat lipstik yang menempel di bibirnya.
"Apakah pewarna bibirku terlalu mencolok? aku rasa tidak" ujarnya bermonolog.
...
Di lain tempat, Reyhan tengah mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu yang menambah aksen gagah seorang Reyhan.
"Apakah ada lagi selain ini?" tanya Reyhan pada desainer yang merancang tuxedo tersebut.
"Tidak ada lagi tuan Reyhan yang terhormat, ini adalah tuxedo yang ke sepuluh yang anda coba dan tuxedo yang anda coba sedari tadi merupakan rancangan terbaik" ucap desainer tersebut.
"Benarkah? apakah aku terlihat tampan dengan ini?" ujar Reyhan sembari melihat dirinya di pantulan cermin.
"Bukankah anda sudah tampan sejak lahir" jawab desainer tersebut.
"Hoho.. benarkah? baiklah aku akan memilih yang ini" ujar Reyhan yang terlanjur girang karena dipuji tampan.
Desainer tersebut hanya mengelus dadanya melihat tingkah salah satu langganannya itu. Tentu saja ia amat mengetahui selera tinggi Reyhan namun akan terbang jika pria itu di lempar dengan sebuah kata pujian.
.
.
.
Setelah menetapkan pilihannya, Reyhan pun melangkah pergi menuju ke mobilnya.
"Mengapa kau lama sekali"
"Apakah kau menungguku nona?" sembari memangku dagunya bersandar di kemudi.
__ADS_1
"Hentikan tingkah konyolmu itu membuat aku ingin muntah saja" cerca Irene.
"Silahkan muntahkan saja" ujar Reyhan yang langsung menghidupkan mesin mobilnya.
Irene hanya mendesis mendengar ucapan Reyhan yang amat menyebalkan itu.
"Oh iya, mengapa kau menamai kontakku seperti itu?" tanya Irene yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Gadis gincu?"
Irene pun mengangguk membenarkan ucapan Reyhan.
"Apakah kau ingat dengan mobil ini?" tanya Reyhan.
"Apa maksudmu aku tidak mengerti"
Reyhan pun menepikan mobilnya, ia keluar dari mobil tersebut dan memperagakan gerakan memajukan bibir sembari berkaca.
"Apa yang ia lakukan" ujar Irene bingung.
Setelah melakukan aksinya tadi, Reyhan kembali memasuki mobilnya.
"Apa kau melihatnya dengan jelas? begitu pun juga denganku waktu itu. Kau mengejutkanku dengan gerakan memajukan bibirmu setelah memakai lipstik" tutur Reyhan.
"Tepat didepan salah satu kedai kopi, dimana kau tampak bertengkar dengan seseorang, hari dimana kau akan lompat dari jembatan" ucap Reyhan lebih jelas.
Irene menutup wajahnya karena malu, ia ingat jelas kejadian tersebut bahkan saat dirinya merapikan make up serta menorehkan lipstik. Saat itu dirinya memang bercermin di mobil yang dikiranya kosong itu, dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa mobil tersebut adalah milik Reyhan.
"Astaga mengapa harus di mobil pria menyebalkan ini" gumam Irene merutuki dirinya.
Reyhan hanya tersenyum melihat ekspresi Irene yang menahan malu itu.
.
.
.
Reyhan memberhentikan mobilnya tepat di salah satu hotel mewah. Hotel tersebut ia sewa hanya untuk resepsi pernikahannya nanti. Hotel yang menyajikan pemandangan yang indah yang tak jauh dari pantai.
Tentu saja hal tersebut atas usul dari sang mama yang ingin menggelar pernikahan putra bungsunya tampak sedikit berbeda dengan putra sulungnya.
__ADS_1
Resepsi yang digelar outdoor tersebut merupakan ide dari Irsya yang juga memiliki selera tinggi, jadi wajar saja jika Reyhan bersifat begitu karena hal tersebut menurun dari sang mama.
Irene tak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat dekor yang tentunya baru setengah jadi tersebut. Ia sungguh tak menyangka jika pernikahannya akan digelar semewah ini.
Salah satu impian Irene yaitu menikah dengan tema yang menyatu dengan alam. Rupanya Tuhan telah mengabulkan salah satu impiannya itu.
"Kalian sudah fitting baju tadi?" tanya Irsya yang muncul tiba-tiba.
"Iya ma.." jawab Reyhan.
"Iya tante" ucap Irene.
"Hmmm.. tinggal menghitung hari kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami. Belajarlah memanggilku dengan sebutan mama" ujar Irsya sembari mengembangkan senyumnya, senyum yang mampu membuat Irene merasakan hangatnya sosok ibu, yang membuat Irene melangkah sejauh ini.
"Baiklah ma" ucap irene tampak masih malu-malu.
Irsya pun terenyuh saat Irene memanggilnya dengan sebutan itu, tangannya pun terangkat untuk membelai gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"Kalau begitu aku titip Irene dulu ya ma, ada urusan kantor yang belum aku selesaikan" ujar Reyhan.
"Dasar anak nakal, cepat selesaikan urusanmu dan lekas kembali kesini" ujar Irsya. Reyhan pun mengiyakan ucapan sang mama tersebut dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Ia membalikan badannya sekilas, melihat keakraban yang terjalin antara Irene dan mamanya. Reyhan pun mengulas senyumnya saat melihat Irene kembali ceria.
Bukan tanpa alasan Reyhan pergi dari tempat itu, pria itu hanya memberikan ruang untuk Irene berinteraksi dengan mamanya.
"Sebentar lagi kau tidak akan merasa sendiri lagi" gumam Reyhan yang kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.
.
.
.
Bersambung..
Terimakasih atas dukungan dari kalian😘
__ADS_1
Yang sudah baca sejauh ini, jangan lupa ya untuk memberikan ⭐⭐⭐⭐⭐ pada novel ini🖤