Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 63. Rasa Yang Lebih Manis


__ADS_3

Irene tampak sedang sibuk menikmati ice cream semangkuk ukuran besar yang dibeli Reyhan di sebuah toserba. Reyhan tersenyum sekilas saat melihat ke arah istrinya itu.


"Kau mau suamiku?" tawar Irene.


Reyhan menggeleng sembari menyunggingkan senyumnya.


"Aku tidak ingin hanya aku saja yang menikmatinya, bukalah mulutmu" perintah Irene sembari menyodorkan sendok yang berisi ice cream ke mulut suaminya.


Reyhan pun mengikuti instruksi istrinya itu, menikmati ice cream dari tangan istrinya.


"Enak?" tanya Irene.


"Tentu saja" timpal Reyhan.


Irene pun kembali memasukkan ice cream ke mulutnya, dan tak lama kemudian gadis itu kembali hendak menyuapi suaminya.


Namun Reyhan tak kunjung membuka mulutnya, justru pria itu menepikan mobilnya.


"Mengapa kita berhenti disini?" gumam Irene yang sedikit keheranan.


"Jika kau masih ingin menyuapiku, maka kita harus berhenti dulu sejenak" ujar Reyhan.


"Apakah aku mengganggumu mengemudi?" tanya Irene.


"Tidak, aku hanya ingin menikmati ice cream ini dengan cara yang lebih manis" ujar Reyhan.


Irene hanya mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu. Reyhan pun mengambil sendok yang dipegang oleh Irene, kemudian menyendokkan ice cream tersebut dan tiba-tiba saja menyuapi istrinya itu dengan ice cream tersebut.


Namun dengan jahilnya, Reyhan membuat sudut bibir Irene berantakan dengan ice cream. Baru saja tangan Irene hendak meraih tissue untuk membersihkan mulutnya, namun Reyhan mencegah tangan istrinya itu lebih dulu.


Pria itu pun membersihkan sisa ice cream tersebut dengan bibirnya.


"Rasanya lebih manis dari pada ice cream tadi" ucap Reyhan usai melakukan aksinya.


"Dasar pria mesum!" cerca Irene dengan semburat merah dikedua pipinya. Sungguh menggemaskan melihat bumil yang satu ini jika sedang tersipu malu.

__ADS_1


"Dayaku sudah terisi penuh, sekarang aku bisa mengemudikan si hitam tampan dengan tenang" ucap Reyhan yang kembali menyalakan mobil yang diberi julukan si hitam tampan olehnya.


...****************...


Hari demi hari pun telah berlalu, tak terasa kini perut Irene semakin lama semakin membesar. Bahkan dalam posisi berbaring saja, Irene sudah merasa tak nyaman.


"Ada apa istriku?" tanya Reyhan terbangun dari tidurnya karena mendapati istrinya itu tampak gelisah.


"Maafkan aku sayang, aku sudah mengganggu waktu tidurmu. Aku hanya merasa sedikit tak nyaman berbaring menghadap kesana dan kemari" jelas Irene yang kini dalam posisi duduk.


"Apakah besok sudah jadwal untuk check up?" tanya Reyhan.


Irene pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Baiklah, besok aku akan menemanimu untuk check up ke dokter"


"Tidak usah sayang, kau harus bekerja. Biar nanti Bi Lastri yang akan menemaniku ke dokter" sanggah Irene.


"Pekerjaanku sudah tidak terlalu banyak, mulai besok aku akan menjagamu dirumah. Kerjaanku bisa aku selesaikan dirumah" jelas Reyhan.


"Kamu adalah hal yang lebih penting dari segalanya, istriku. Selama ini kau selalu memaksaku untuk bekerja namun fikiranku selalu tertuju padamu. Jadi, biarkan aku menjagamu" ujar Reyhan.


"Maafkan aku yang selalu merepotkan mu" ucap Irene.


"Ssssttt.. menjagamu adalah tanggung jawab utama untukku sebagai seorang suami" ujar Reyhan mengecup puncak kepala istrinya.


"Sekarang kita tidur ya" ajak Reyhan.


Irene pun kembali berbaring menghadap Reyhan. Tangan Reyhan mengusap puncak kepala istrinya itu dan satunya lagi mengusap anak yang ada dalam perut Irene.


"Nak, jangan nakal ya didalam sana. Jangan membuat mamamu kelelahan" ujar Reyhan yang mencoba mengajak anaknya itu berbicara.


Irene pun tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Tak lama kemudian rasa kantuk pun menyerangnya. Perlahan Irene pun menutup matanya dan terlelap dalam tidurnya.


"Selamat tidur, istriku" ucap Reyhan sembari mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. Pria itu pun kembali memejamkan matanya dan larut ke dalam mimpinya.

__ADS_1


...****************...


Reyhan memperhatikan gerakan buah cintanya bersama Irene di layar monitor. Entah mengapa rasa haru menyelimuti dirinya. Tak sabar rasanya ingin melihat sang buah hati yang diduga bergender perempuan itu.


Sang dokter pun menjelaskan bahwa sang bayi yang berada didalam kandungan Irene sehat. Dokter pun memberikan beberapa saran terkait masalah keluhan yang dihadapi Irene dengan usia kandungan menginjak tujuh bulan.


Reyhan memasang telinganya dengan seksama, mendengarkan saran dokter tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan, keduanya pun hendak pulang ke rumah.


Namun Irene mengajak suaminya itu untuk berbelanja keperluan baby mereka. Tentu saja Reyhan akan menuruti apa kata istrinya itu.


Keduanya tampak memilah keperluan bayi dari pakaian, kereta dorong, dan bahkan keperluan yang lainnya lagi.


Setelah puas berbelanja, keduanya pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


...


Reyhan menerapkan saran dokter tadi. Sebelum tidur pria itu dengan cekatan menyiapkan air hangat untuk merendam kaki istrinya itu.


Reyhan pun memijat kaki sang istri yang akhir-akhir ini sering merasa keram. Dan paginya ia mengajak sang istri berjalan-jalan di halaman belakang tanpa memakai alas kaki. Semua saran dokter pun ia terapkan tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.


Kini keduanya tengah bersantai di ruang tengah. Reyhan yang mengotak-atik iPadnya untuk mengecek beberapa email yang masuk. Sementara Irene tengah membaca sebuah buku sembari berbaring dipangkuan suaminya itu.


Setelah selesai mengecek email satu persatu, Reyhan pun kembali meletakkan Ipad-nya. Dilihatnya Irene yang sudah menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya tadi.


Reyhan pun mengambil buku yang menutupi wajah istrinya itu dan diletakkannya diatas meja. Dipandangnya dengan seksama istrinya yang tengah terlelap sembari mulut yang sedikit ternganga.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu kesusahan" ujar Reyhan tangannya pun tergerak mengusap puncak kepala istrinya itu.


.


.


.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2