Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 37


__ADS_3

Didalam mobil, Aurel dan Rasya tampak berbincang-bincang. Seperti biasa, pria itu selalu mengantarkan Aurel saat berangkat bekerja dan akan menjemputnya saat Aurel pulang.


Beberapa kali Aurel kekeh untuk membawa mobil sendiri agar tidak terlalu merepotkan Rasya, namun Rasya menolaknya. Dan kedua orang tua Aurel pun sangat setuju jika Aurel berangkat bersama Rasya. Alhasil gadis itu pun menuruti kehendak kedua orang tuanya itu.


"Mama sama papa ngundang kamu makan malam dirumah" ucap Aurel seraya melayangkan pandangannya pada pria yang memegang setir disampingnya.


"Makan malam?"


"Iya.. Kemarin mama sempat bilang ke aku, nanti malam suruh kamu ke rumah" ujar Aurel yang mengulangi perkataannya.


"Jam berapa?" tanya Rasya yang pandangannya fokus ke depan, sesekali pria itu melirik kekasihnya.


"Jam 8 malam" sahut Aurel


"Baiklah, aku akan tiba disana sebelum jam 8" ujar Rasya sembari mengerlingkan matanya ke arah Aurel.


Aurel pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rasya.


❤️❤️❤️


Alea sibuk menyiram bunga di halaman belakang rumahnya. Hal yang menjadi rutinitasnya setiap pagi.


Drrrtttt..


Ponsel Alea bergetar, ia pun meletakkan teko penyiram tanamannya dan mengusap layar ponsel mengangkat panggilan video masuk.


"Hai sepupuku yang cantik" ujar suara yang terdapat dari seberang telepon.


Mendengar hal tersebut membuat Alea mencebikkan bibirnya.


"Ada perlu apa kau meneleponku sepagi ini Steve?" tanya Alea dengan sedikit angkuh.


Steve pun tertawa.


"Jangan bersikap dingin seperti itu sepupuku, ayolah kau seperti tidak tahu perbedaan waktu di Indonesia dan New York saja" ucap Steve.


"Oke, aku tidak ingin berdebat denganmu Steve" tukas Alea.


"Berhentilah untuk bermuka sinis seperti itu, dirimu tidak muda lagi sepupuku" cerca Steve disambung dengan tawa membahana.


"Hei, kau juga tidak muda lagi Steve. Berhentilah memancing kemarahanku" ujar Alea.


"Diriku semakin tua semakin menggoda, lihatlah temanmu kelelahan karena kami menghabiskan malam yang panjang bersama" ujar Steve mengarahkan kamera ponselnya pada wanita tengah terlelap disampingnya. Tidak lain merupakan istrinya, Alice.


"Dasar kau si tua bangka" umpat Alea yang kemudian terkekeh.


"Dimana ipar dan keponakan cantikku?"


"Keduanya bekerja Steve" sahut Alea.


"Katakan pada iparku untuk tidak terlalu bekerja keras, dan sampaikan salamku pada keponakan cantikku. Lain waktu aku akan menelepon lagi karena malam ini aku terlalu lelah dengan pergumulanku" ucap Steve terkekeh, dan dapat dipastikan wanita itu akan meneriakkan suara lantangnya

__ADS_1


1 detik..


2 detik..


"STEVE..!!"


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Aurel duduk di teras sembari menunggu kedatangan kekasihnya itu, karena malam ini mereka telah memasang janji untuk dinner bersama keluarga Aurel.


Belum lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun muncul kedatangannya. Setelah memarkirkan mobilnya, Rasya menghampiri Aurel sembari membawa parsel buah-buahan ditangan kirinya dan tangan kanannya membawa sebuket bunga anyelir yang berwarna merah dan putih.


"Ini untukmu" ucap Rasya memberikan bunga tersebut pada Aurel.


Aurel pun menerima bunga dari Rasya seraya mengulas senyumnya.


"Maaf aku tidak bisa memberikan mawar, karena aku tidak mau jika harus bersin dihadapan kedua orang tuamu nanti" ujar Rasya.


"Aku juga suka bunga ini" ucap Aurel.


Bunga anyelir merah dan putih secara khusus mencerminkan cinta. Anyelir merah melambangkan cinta yang mendalam dan anyelir putih melambangkan cinta yang abadi.


Aurel langsung mengajak Rasya memasuki rumahnya. Saat melihat Alviro dan Alea, Rasya langsung meraih punggung tangan kedua orang tua Aurel untuk menyalaminya.


"Maaf tante, saya cuma bawa ini saja" ujar Rasya seraya menyerahkan parsel yang berisi buahan ditangannya.


"Ya ampun tidak perlu repot-repot nak" ucap Alea.


"Ayo kita makan, nanti makanannya keburu dingin" ajak Alea.


Mereka berempat pun menuju ruang makan. Dilihatnya hidangan lengkap tersaji di atas meja. Spesial untuk menjamu calon menantu.


Rasya menarik kursi yang bersebelahan dengan Aurel, dan diseberang meja ditenpati oleh Alviro dan istrinya.


"Silahkan dicicipi makanannya" ujar Alviro.


"Iya om" sahut Rasya disertai dengan anggukan.


Rasya pun mengambil salah satu makanan dan mencicipinya.


"Enak?" tanya Alea.


"Enak tante" timpal Rasya.


Mereka pun menyantap hidangan tanpa bersuara. hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar diruangan tersebut.


"Kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Alviro tiba-tiba yang baru saja menyudahi makannya.


"Ehh itu.." Rasya tergagap. Ia pun mengarahkan pandangannya pada Aurel.


"Segera.. jawab segera" gumam Aurel dalam hati mengharapkan jawaban demikian dari Rasya.

__ADS_1


"Belum untuk saat ini om, Rasya belum kepikiran sampai kesitu. Rasya mau mengenal Aurel lebih jauh om, supaya nantinya Rasya mengerti apa yang disukai Aurel dan apa yang tidak disukai Aurel" jawab Rasya dengan lugas karena ia tahu jika Aurel belum siap untuk membicarakan soal pernikahan.


Alviro mengangguk paham dengan jawaban yang diberikan Rasya.


"Belum saat ini? lantas kapan ia akan menikahiku? memangnya dia pikir umurnya masih tujuh belas" ucap Aurel dalam hati, kemudian ia meraih air minum yang ada dihadapannya dan menenggaknya hingga tandas guna meredamkan emosinya atas ucapan yang baru saja didengarnya.


Alviro melirik anak gadisnya, sedangkan Rasya memandang dengan tatapan terkejut.


.


.


.


Seusai makan malam, mereka pun duduk dikursi tengah sembari menonton televisi. Alviro dan Alea tampak berbicang-bincang dengan Rasya, sementara Aurel duduk sedikit menjauh sembari memangku piring yang berisi potongan buah mangga.


Sesekali Rasya mengarahkan pandangannya pada Aurel. Entah mengapa gadis itu tampak marah padanya. Rasya pun tak tahu dimana letak kesalahan yang telah ia perbuat.


"Apa kamu akan memakannya hingga perutmu meledak nak?" ucap Alea dengan sedikit penekanan pada putrinya.


Aurel pun terkejut saat mendapati dirinya telah menghabiskan dua piring potongan buah tadi. Dengan sedikit menahan malu Aurel meletakkan piring yang satunya lagi yang dipangkunya ke atas meja.


"Maaf ma, Aurel khilaf" ucap Aurel seraya memainkan puppy eyesnya.


Alea dan Alviro hanya menggelengkan kepala, sementara Rasya menahan tawa mati-matian melihat tingkah kekasihnya itu. Dan satu hal lagi yang ia ketahui tentang Aurel, kekasihnya itu akan melimpahkan semua kekesalannya melalui makanan.


Tak terasa malam mulai larut, Rasya berpamitan pulang dengan kedua orang tua Aurel.


Aurel pun mengantarkan kekasihnya itu menuju mobilnya.


"Apa kamu marah denganku?" tanya Rasya seraya meraba kunci mobil disaku celananya.


"Kamu pikir saja sendiri" timpal Aurel sembari bersedekap.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang" ucap Rasya yang kemudian masuk ke dalam mobilnya. Belum lama kemudian, Rasya menurunkan kaca mobilnya.


"Apa salahku?" ujar Rasya mengulangi pertanyaannya tadi.


"Kamu pikir saja sendiri" ucap Alea acuh tak acuh.


Oke, kali ini Rasya menyerah. Memang seorang lelaki sangat butuh kepekaan yang tinggi menghadapi pasangannya. Kini ia sadar, bahwa lebih mudah menebak soal matematika dibandingkan menebak apa yang diinginkan oleh seorang wanita.


.


.


.



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2