
Irene duduk bertopang dagu di teras rumah. Semenjak ia di pecat dari pekerjaannya sungguh ia merasa bosan. Bagaimana tidak? gadis itu sudah terbiasa mengisi hari-harinya dengan bekerja, namun semenjak menjadi nyonya Reyhan gadis itu hanya berdiam diri di rumah.
Beberapa kali Irene mencari pekerjaan tanpa sepengetahuan Reyhan, namun penolakan yang selalu ia dapat. Tentu saja semua itu adalah campur tangan dari Reyhan. Pria itu diam-diam menyewa mata-mata hanya untuk mengawasi istrinya itu.
...
Di lain tempat, Reyhan yang tengah mengotak-atik ponselnya tanpa sengaja membuka galeri foto yang ada di ponselnya. Pria itu bukanlah pria yang senang ber-selfie, ia hanya memiliki beberapa foto yang ada di ponselnya.
Reyhan menggeser layar ponselnya membuka satu persatu foto yang ada disana. Tangannya pun terhenti saat ia tanpa sengaja menemukan foto Irene ada diponselnya. Foto dimana pertama kali pertemuan mereka, Irene yang berfoto dengan menggunakan ponselnya hanya untuk sebagai jaminan hutangnya pada Reyhan.
Pria itu pun mengembangkan senyumnya saat mengingat hal tersebut. Ia pun mengganti wallpaper yang semula default menjadi foto Irene. Pria itu mengusap layar ponselnya sembari memandangi wajah Irene.
Entah apa istimewanya Irene sampai Reyhan rela mengawasinya, bahkan ia pun merasa tidak mencintai gadis yang saat ini menyandang status sebagai istrinya itu. Namun tanpa Reyhan sadari bahwa Irene kini sudah menjadi dunianya, gadis yang mampu menghilangkan rasa letihnya hanya dengan menatap wajahnya yang terlelap serta mendengar dengkuran halusnya.
...****************...
Irene tampak bingung saat melihat ayah mertuanya tengah menarik sebuah koper, tentu saja diiringi dengan ibu mertuanya.
"Nak, mama dan papa akan tinggal di rumah Rasya untuk sementara waktu. Rasya dan Aurel akhir-akhir ini sedikit sibuk. Kasihan dengan Arden dan Aretha tidak ada yang mengurusnya" ujar Irsya.
"Tapi Reyhan belum pulang ma"
"Nanti kami akan mengabarinya lewat telepon" timpal Abizar.
"Ya sudah kalau begitu mama sama papa pergi dulu ya, Bik Lastri saya titip mereka berdua" ucap Irsya sembari mengerjapkan matanya beberapa kali seolah memberi kode yang hanya mereka berdua dan Tuhanlah yang tahu.
"Siap Bu" timpal Bik Lastri.
Irene dan Bik Lastri pun mengantarkan kepergian kedua mertuanya itu. Saat mobil hendak berjalan, Irsya membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Irene. Irene pun membalas lambaian tangan mertuanya itu.
Seusai kepergian mertuanya itu, Irene kembali masuk ke dalam rumah. Gadis itu kemudian duduk di kursi ruang tengah sembari mengotak-atik ponselnya. Dari bermain game hingga membuka sosial media yang ada disana.
"Akhh.. aku merasa sangat bosan" gumam Irene sembari meletakkan ponselnya.
Ia pun mengetikkan pesan singkat kepada suaminya hanya untuk memberitahukan tentang kedua mertuanya itu, namun tampaknya Reyhan sedang sibuk hingga pria itu tidak membuka pesan WhatsApp darinya.
Irene pun bangkit dari tempat duduknya, mencari keberadaan Bik Lastri di dapur. Dilihatnya Bik Lastri tampak meletakkan piring yang baru saja di cucinya.
"Apakah Bik Lastri sibuk?" tanya Irene.
Bik Lastri sempat terkejut dengan kemunculan Irene yang tiba-tiba.
"Tidak nyonya, ada yang bisa bibi bantu?" tanya Bik Lastri.
"Temani saya ke suatu tempat Bik" ujar Irene.
Setelah mengatakan hal tersebut, Irene pun berjalan ke kamar mengganti pakaiannya begitu pula dengan Bik Lastri.
Setelah keduanya siap, mereka pun segera menuju ke arah jalanan dan langsung menaiki taksi yang lewat didepan rumahnya.
__ADS_1
Awalnya Bik Lastri tampak bingung kemana nona mudanya akan membawanya. Namun belum lama kemudian mobil pun terhenti disebuah pasar swalayan.
Irene pun tak segan-segan merangkul tangan Bik Lastri hanya untuk berjalan bersamaan. Sepintas mereka berdua tampak seperti ibu dan anak.
Irene pun mengambil troli yang ada tak jauh dari meja kasir. Gadis itu memasukkan banyak jenis makanan ringan serta minuman bersoda.
Irene pun bertanya pada Bik Lastri apa yang di inginkannya, wanita paruh baya itu menolak tawaran Irene namun Irene tetap saja memasukkan barang kebutuhan Bik Lastri ke dalam troli.
Setelah selesai berbelanja, gadis itu pun mengajak Bik Lastri untuk pergi mencari tempat makan. Dan hari itu Irene pun menghabiskan waktunya hanya untuk berkeliling bersama Bik Lastri.
Hari pun sudah mulai gelap, Irene terkejut saat memeriksa ponselnya terdapat 10 panggilan tak terjawab dari Reyhan. Irene pun segera menelepon suaminya itu.
"Maaf aku tidak tahu kau meneleponku. Aku mengaktifkan mode silent" ujar Irene.
"Tampaknya kau sangat bersenang-senang hari ini"
"Aku merasa bosan dirumah" ucap Irene.
"Apa saja isi plastik besar yang kau bawa?"
"Oh ini aku membeli beberapa makanan ringan. Ehh tunggu.. bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Irene tampak terkejut.
"Nyonya.. maaf bukannya itu mobil tuan Reyhan?" ucap Bik Lastri sembari menunjuk mobil berwarna hitam yang ada di seberang jalan.
Irene pun memutuskan panggilan teleponnya, dan benar saja pria yang baru saja keluar dari mobil tersebut adalah suaminya.
"Pulang atau masih ingin berkeliling?" tanya Reyhan.
"Pulang.." ucap Irene singkat.
Ketiganya pun segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumah.
.....
Irene tengah duduk di sebuah gazebo yang terdapat di halaman depan rumah. Gadis itu tampak menikmati makanan ringan yang di belinya bersama Bik Lastri tadi.
Reyhan tampak tersenyum melihat Irene, namun saat mata Irene memandang ke arahnya pria itu pun langsung memasang raut wajah seperti biasanya. Ia pun berjalan menghampiri Irene.
Saat Irene tampak lengah, Reyhan dengan usilnya mengambil makanan ringan yang ada di tangan Irene.
"Hei kembalikan itu milikku" seru Irene sembari memberengut kesal.
"Hmmm seleramu lumayan aneh" ujar Reyhan mencicipi cemilan milik Irene
Irene hanya memperhatikan Reyhan yang mengatakan cemilannya itu aneh, namun pria itu tak berhenti untuk memakannya.
"Sepertinya ucapan dengan lidahmu tampak tidak sinkron, jika rasanya aneh mengapa kau hampir menghabiskannya" gerutu Irene kesal merebut kembali makanannya.
"Bersikaplah sedikit sopan, aku adalah suamimu" ucap Reyhan memperingati.
__ADS_1
"Aku adalah suamimu" ujar Irene mengulangi ucapan Reyhan dengan nada mengolok.
"Ssstt.. kau ini" tukas Reyhan melipat kedua tangannya.
"Aku yakin mantan pacarmu yang berada di cafe itu sangat tertekan batin menghadapimu, maka dari itu dia memilih gadis lain" cerca Reyhan.
"Biarkan saja dia memilih wanita lain, setidaknya itu dapat membuktikan bahwa dirinya adalah pria yang tidak baik" timpal Irene dengan santainya.
"Lantas bagaimana denganmu? bisa jadi kau bahkan tidak pernah berpacaran" Ejek Irene balik.
"Omong kosong macam apa itu, bahkan ada wanita cantik yang dulunya mengejarku" Reyhan tak sadar bahwa ia mengucapkan kalimat itu.
"Hal itu cukup membuktikan bahwa kau tidak berguna menjadi seorang pria, lantas bagaimana nasib wanita itu? apakah kau juga menyukainya?" selidik Irene.
Reyhan pun menganggukkan kepalanya.
"Mengapa kau tidak menikahinya saja"
"Dia sudah bahagia dengan pria pilihannya" jawab Reyhan.
"Dan sekarang apa kau masih berharap padanya?" selidik Irene lagi.
Reyhan pun terdiam, pria itu mengarahkan pandangannya ke depan tanpa menjawab sepatah katapun.
"Maaf, aku terlalu lancang untuk bertanya hal itu. Diantara kita masih ada privasi yang harus di jaga, baik itu dirimu ataupun diriku" ujar Irene.
Reyhan hanya diam dan kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku duluan tidur, mataku sudah terasa berat" ujar Irene bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu.." cegah Reyhan.
Irene pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Reyhan.
"Selamat tidur" ucap Reyhan sedikit gugup.
Irene hanya membalasnya dengan tersenyum, dan gadis itu pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa untuk like, komen, dan vote🖤
__ADS_1