
Rasya baru saja keluar dari kamar mandi. Ia pun mengeringkan rambutnya kemudian duduk di pinggir kasur.
Rasya meraih ponselnya yang berada diatas nakas tidak jauh dari tempat tidurnya. Ia kembali mrmbaca pesan singkat yang dikirimkan oleh ayah Aurel kemarin. Usai mengeringkan rambutnya, Rasya pun beranjak dari duduknya dan langsung mengenakan switernya.
.
.
.
Aurel mengurung dirinya didalam kamar. Meskipun terlihat sedang baik-baik saja, namun sesungguhnya hatinya itu masih merasa sakit. Bagaimana tidak? Aurel sangat mendambakan Reyhan bahkan bertahun-tahun lamanya.
Ia juga tahu, jika Reyhan selama ini sering mengabaikannya bahkan bersikap dingin padanya. Akan tetapi, entah mengapa ucapan Reyhan yang tanpa sengaja tertangkap oleh telinganya kemarin, sukses membuat jantung Aurel serasa terhujam.
"Mana mungkin gue suka sama tante-tante, dia aja yang selalu ngejar gue, dan gue nggak suka sama cewek yang begitu" Ucapan yang cukup membuat dada Aurel sesak dan membuat harapannya pupus seketika.
Tettt.. Tettt.. Tettt..
Bel rumah berulang kali berbunyi sedari tadi. Aurel pun langsung turun dan membukakan pintu untuk tamu tersebut.
Betapa terkejutnya Aurel saat mendapati Rasya yang tengah berdiri seraya membawa setangkai mawar merah, serta kartu ucapan yang biasa Aurel terima setiap paginya.
Aurel pun menutup mulutnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia pun mengambil kartu ucapan yang berada di tangan Rasya.
it's me
Bibir Aurel pun bergetar hebat setelah membaca tulisan singkat yang tertoreh di kartu ucapan tersebut.
"Rasya.." gumam Aurel dengan mata yang berkaca-kaca. Dan kemudian ia pun langsung memeluk pria yang ada dihadapannya itu. Ia tumpahkan semua air mata di bahu kekar pria tersebut.
"Kenapa Lo baru muncul sekarang? Lo harusnya tahu kalau Gue udah terlalu lama menunggu" ucap Aurel terisak seraya memukul pelan dada Rasya.
Rasya membeku, sungguh ia terkejut dengan perlakuan Aurel yang tiba-tiba saja memeluk dirinya. Bahkan wanita ini menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
Apakah ini yang dinamakan takdir? kesabaran dalam sebuah penantian yang berbuah manis. Rasya ingin seperti ini selamanya. Jika perlu, biarkan saat ini ia menjadi manusia jahat yang dikuasai rasa egoisnya yang tinggi. Egois atas besarnya rasa cintanya pada Aurel.
"Apa gue udah terlalu lama buat Lo nunggu?" pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari bibir Rasya. Aurel pun mengangguk secara perlahan.
"Rel, tolong izinin gue untuk mencintai Lo. tolong terima cinta gue" ujar Rasya memberanikan dirinya mengungkapkan isi hatinya.
Aurel pun kembali menganggukan kepalanya. Dengan perasaan membuncah, Rasya langsung membalas pelukan Aurel. Ia pun merengkuh erat tubuh mungil gadis tersebut.
Benar saja, saat ini ia merasa sangat bahagia atas cintanya yang terbalaskan. Ralat! cintanya yang tanpa sengaja terbalaskan.
Belum lama kemudian..
Hatchimm.. Hatchimmm...
Aurel pun langsung melepaskan pelukannya. Dilihatnya hidung Rasya yang sudah mulai memerah.
"Astaga.." ucap Aurelyang langsung mengambil bunga mawar tersebut dari tangan Rasya.
"Kamu alergi sama bunga mawar, tapi sok romantis ngasih bunga mawar segala" ujar Aurel.
Rasya yang sedari tadi menggosok hidungnya seraya tersenyum. Bahkan kini Aurel mengubah panggilan yang biasanya 'Lo' berubah menjadi 'Kamu'.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Aurel.
"Ngga apa-apa kok" timpal Rasya.
"Ya udah, kamu duduk disini, aku buatin minum dulu" ujar Aurel yang langsung melangkah pergi.
Rasya pun menuruti kata-kata Aurel. Ia duduk di kursi teras sembari menunggu Aurel yang membuatkan minuman untuknya.
Belum lama kemudian, Aurel datang seraya membawa nampan yang berisi secangkir teh serta cemilan.
"Bi Inem mana? Aku nggak lihat Bi Inem dari tadi" tanya Rasya.
__ADS_1
"Kayaknya udah tidur" sahut Aurel.
"Kamu nggak nanyain Mama sama Papaku?" sambung Aurel.
"Om sama Tante kan lagi keluar kota" ucap Rasya seraya menyesap tehnya.
"Bentar, kamu tahu dari mana kalau Mama sama Papaku lagi di luar kota?" ujar Aurel mengerutkan keningnya.
"Ya tahu aja" timpal Rasya singkat.
"Atau jangan-jangan papa yang udah ngabarin kamu duluan? Papa selalu begitu" ujar Aurel seraya melipat kedua tangannya.
"Lagian kenapa kalau Om Alviro ngasih tahu aku? niat dia baik kok, nggak mau anak gadisnya kenapa-kenapa. Dan mulai sekarang, aku yang bakalan jagain kamu karena kamu milik aku" tutur Rasya panjang lebar seraya mencubit hidung Aurel.
"Wahh.. aku baru tahu ternyata Rasya Rahardian Harfin masuk ke dalam daftar manusia yang lebay" ujar Aurel seraya memegang hidungnya yang memerah akibat ulah Rasya.
Mereka berdua pun terkekeh. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya, di isi dengan berbagai candaan serta gelak tawa bak remaja yang baru saja dilanda asmara.
Namun, tanpa keduanya sadari, sedari tadi sosok pria yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia pun mengepalkan tangannya saat melihat kedekatan antara Rasya dan Aurel.
"Mengapa rasanya sakit sekali" gumam pria tersebut seraya memegang dadanya.
.
.
Bersambung...
Terimakasih sudah membaca. jangan lupa untuk like, komen, dan votenya ya sayang-sayangku 😘
__ADS_1
salam manis Ryn