Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 22


__ADS_3

"Reyhan..." gumam Aurel yang membeo dan melemparkan tatapan yang sedikit tak percaya.


Namun begitu pun juga dengan Reyhan, ia tidak pernah tahu jika ia akan bekerja dengan Aurel. Kinan yang bingung dengan situasi seperti ini membuatnya sedikit gusar.


"Saya permisi ke kamar mandi dulu, bu" cicit Kinan, Aurel pun hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan.


Aurel menyeret kakinya kembali ke tempat duduknya, Sedangkan Reyhan masih setia berdiri di tempat tadi.


"Silahkan duduk" ucap Aurel dengan nada bicara yang tegas.


Reyhan pun menuruti perkataan Aurel dan mengambil posisi yang berhadapan dengan Aurel.


"Saya baru tahu jika kamu bisa melukis. Sejak kapan? kemarin atau tahun lalu?" rentetan pertanyaan dilontarkan oleh Aurel.


"Aku sudah lam.."


"Oh tidak perlu dijawab karena itu bukan bagian dari interview kita siang ini" ujar Aurel yang menyerobot ucapan Reyhan. Reyhan hanya terdiam seraya mengangguk.


"Saya ingin melihat contoh hasil karyamu" ujar Aurel seraya menyilangkan kedua tangannya.


Reyhan pun mengeluarkan buku gambar yang berukuran A3 dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Aurel.


Aurel pun membuka selembar demi selembar buku tersebut. Saat pada lembaran terakhir, Aurel melihat lukisan setangkai mawar. Ia pun lama memandangi lukisan tersebut. Namun beberapa saat kemudian ia segera menutup buku tersebut dan mengembalikannya pada Reyhan.


"Dari yang saya lihat karyamu lumayan menarik, saya ingin kamu datang ke tempat saya besok. Setidaknya kamu mengecek dulu sebelum kamu menyanggupinya, Karena yang kamu lukis bukanlah selembar kertas ataupun kanvas, melainkan sebuah tembok besar yang kokoh" ujar Aurel panjang lebar.


"Maaf.." kata tersebut lolos begitu saja di bibir mungil milik Reyhan.


"Maaf atas insiden waktu itu" lanjutnya.


"Saya disini hanya untuk membahas masalah pekerjaan bukan masalah pribadi, saya harap kedepannya kamu harus lebih pandai membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan pekerjaan" ujar Aurel yang kemudian beranjak dari tempat tersebut.


Belum lama kemudian, Aurel pun berbalik sejenak.


"Besok saya tunggu jawaban dari kamu, sekiranya kamu tidak sanggup saya akan mencari pekerja yang lain" ucap Aurel yang kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.


Reyhan hanya melihat punggung wanita tersebut yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Perasaannya bercampur aduk saat bertemu dengan wanita itu. Ada rasa bahagia ada juga rasa sakit melihat perubahan dari Aurel.


Mata yang dulu melihatnya berbinar-binar, kini hanya menatapnya dengan tatapan angkuh. Jika dulunya Reyhan yang meninggalkan Aurel lebih dulu dan mengacuhkannya, kini ia yang ditinggalkan oleh Aurel dan diacuhkan oleh wanita tersebut.


.


.


.


Di dalam mobil, Aurel menatap kosong ke arah jalanan. Ia menyuruh Kinan untuk membawa mobilnya. Aurel membuka jendela kaca mobilnya, membiarkan angin menerpa wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau harus muncul lagi" ujarnya dalam hati.


Bagaimana pun juga rasa itu tetap ada. Terlalu munafik bagi Aurel jika dia berkata bahwa semua rasa pada Reyhan telah ia buang jauh. Penantian Aurel akan mengharap cinta dari Reyhan memakan waktu yang cukup lama.


Drrttt...


Ponsel Aurel bergetar, dilihatnya pesan singkat yang tak lain dari lelaki yang sudah menjadi kekasihnya saat ini. Aurel mengulas senyumnya saat membaca pesan dari Rasya, namun Aurel juga merasa bersalah pada Rasya. Pengorbanan Rasya juga terbilang besar untuk mendapatkan hatinya.


❤❤❤


Rasya duduk diruang tengah seraya membaca buku komik yang ada ditangannya ditemani dengan secangkir kopi beserta camilan. Walaupun usianya yang sudah hampir menginjak usia kepala tiga, namun tetap menjadi hobinya membaca komik. Bahkan sedari dulu lelaki berparas tampan ini mengoleksi hingga puluhan komik yang tersusun rapi di rak buku yang berada dikamarnya yang luas tersebut.


Pria tersebut mengawali kegemaran membaca melalui komik yang dikoleksinya. Jadi, tak heran jika dikamarnya terdapat banyak sebuah buku yang menemaninya dikala ia sedang senggang dan bosan.


Belum lama kemudian, Abizar bergabung dengan putra sulungnya itu. Ia mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Rasya.


"Apa kamu sudah mengunjungi adikmu?" tanya Abizar seraya membetulkan posisi kacamatanya.


"Sudah pa" timpal Rasya singkat.


"Bagaimana kondisinya? Apakah dia menyukai tempat tersebut? Apakah rumah dihuninya lebih nyaman? Apa dia tidak meninggalkan sarapannya?" rentetan pertanyaan pun lolos begitu saja dari mulut sang papa.


Rasya pun langsung menutup buku komik yang ada ditangannya, dan meletakkannya di atas meja.


"Bagaimana jika akhir pekan ini kita mengunjungi Reyhan?" ujar Rasya seraya tersenyum.


"Pa.. Rasya tahu kalau papa marah sama Reyhan, kecewa karena dia pindah rumah. Tapi tujuan Reyhan itu baik pa. Rasya malahan merasa malu dari Reyhan. Umur Rasya lebih tua dari Reyhan, tapi pemikiran Reyhan jauh lebih mandiri dibandingkan Rasya" tutur Rasya panjang lebar.


Abizar hanya terdiam seraya mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Rasya.


"Niat Reyhan baik pa, bukan untuk niat jahat. Kelak pada akhirnya baik aku ataupun Reyhan akan menikah, tentunya kita bakalan pisah dengan papa sama mama pada akhirnya" jelas Rasya seraya merangkul papanya.


Abizar pun menatap putranya seraya mengangguk paham dan mencoba memahami keputusan putra bungsunya itu.


❇❇❇


"Berhenti nggak sih jahilin gue!" seru Vanesha yang berada tidak jauh dari kampusnya.


Vanesha geram hari ini dengan tingkah Dito. Pasalnya, lelaki yang memiliki wajah cukup tampan ini mengumbar pesonanya ke banyak wanita. dan hal tersebut membuat wanita berwajah imut ini kesal.


Bagaimana tidak? Dito, pria itu akhir-akhir ini bersikap manis terhadap Vanesha namun ia juga bersikap sama dengan wanita lain. Hal itu yang membuat Vanesha kesal. Seperti diberikan sebuah harapan palsu oleh seorang Dito Nareswara.


"Lo kenapa siang ini marah-marah terus?emang salah gue apa?" tanya Dito yang tampak bingung.


"Atau jangan-jangan Lo lagi PMS ya?" imbuh Dito yang membuat kemarahan seorang Vanesha berada di level tertinggi.


BRUKHHH...

__ADS_1


Satu tendangan mengenai tulang kering Dito. Dito pun memegang kakinya yang di tendang oleh gadis tersebut.


"Awww.." ringis Dito yang masih memegangi kakinya.


Vanesha tidak menghiraukan Dito yang sedang kesakitan, ia lebih memilih meninggalkan pria tersebut.


"Gue sumpahin lo bakalan jatuh cinta sama gue" seru Dito, beberapa pasang mata pun memandang ke arahnya. Sontak saja hal tersebut membuat dia malu.


Vanesha yang masih menyeret kakinya itu mendengar ucapan Dito samar-samar. Namun ia tidak sedikitpun menghiraukan pria tersebut.


"Gue udah jatuh cinta, tapi dasar lo nya aja yang nggak peka" gumam Vanesha melanjutkan langkahnya.


Belum lama kemudian, ia pun melihat sosok Reyhan yang berjalan menuju taman yang berada di depan kampus tersebut.


"Hei Reyhan" ujar Vanesha seraya berlari kecil menghampiri lelaki tersebut.


"Hei.." timpal Reyhan.


Reyhan duduk si salah satu bangku yang berada di tempat tersebut, dan mengeluarkan kertas gambar yang berukuran A3 itu.


"Mau buat apa?" tanya Vanesha yang sedikit bingung.


"Cari inspirasi, buat bahan kerjaan gue nantinya" ujarnya seraya menorehkan arsiran pada kertas tersebut.


"Emang lo udah dapat kerjaan?" tanya Vanesha lagi.


Reyhan menimpalinya dengan sebuah anggukan.


"Dimana?" tanya Vanesha lagi.


"Shopie Apparel" jawabnya singkat.


"Bukannya itu tempat kak Aurel? wah keren. Jangan-jangan lo jodoh sama kak Aurel" ucap Vanesha yang antusias.


"Iya jodoh, dia jodohnya orang lain" jawab Reyhan yang tentu saja ditertawakan oleh Vanesha.


Ingin rasanya Reyhan mengaminkan ucapan Vanesha barusan, namun kenyataannya seakan menamparnya keras dan menyadarkannya bahwa wanita itu telah berbeda.


Bersambung...





.

__ADS_1


__ADS_2