Jangan Pergi

Jangan Pergi
episode 48


__ADS_3

Alea menatap Alviro yang baru saja keluar dari kantor pengadilan menuju ke parkiran.


Ya, hari ini mereka telah resmi bercerai. Alviro kali ini tidak main-main dengan perkataannya waktu itu.


Alea melangkahkan kakinya menghampiri Alviro, senyum perih terpatri diwajahnya. Ia berusaha keras untuk menahan tangisnya dihadapan suaminya itu, ralat ! mantan suaminya.


Alviro juga menatap Alea dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan sedih bercampur kecewa ia perlihatkan kepada sang mantan istri. Bagaimana tidak? ketika ia sudah mulai membuka hati untuk wanita yang saat ini sedang berjalan kearahnya, dan mulai sekarang ia juga harus melepaskannya.


Namun Alviro sadar jika semua itu sepenuhnya atas kesalahannya. Alea sudah cukup sabar menghadapi sikap egoisnya selama ini, wajar saja jika ia lelah karena terus merasa tersakiti.


Dengan perlahan Alviro juga menghampiri Alea, entah mengapa kakinya terasa sangat berat untuk lebih cepat melangkah menghampiri wanita yang sudah mengisi hari-harinya walaupun sejenak.


Kini mereka telah saling berhadapan dan menatap satu sama lain.


"apakah kamu bahagia Alea karena apa yang kamu minta telah terpenuhi ?" ujar Alviro seraya tersenyum miris.


Alea hanya tersenyum.


"baguslah jika seperti itu" ujar Alviro.


"mas. . terimakasih" tukas Alea.


"terimakasih untuk apa? untuk perceraian ini maksudmu? " ucap Alviro.


Alea menggelengkan kepalanya.


"terimakasih sudah bersedia menjadikanku istrimu" ujar Alea yang berusaha keras menahan tangisnya.


"dan maaf karena aku telah gagal untuk menjadi istri yang baik bagi . ." ucapan Alea langsung terputus karena tiba-tiba saja Alviro menariknya kedalam pelukannya.

__ADS_1


Alea merasakan bahunya basah karena tetesan air mata Alviro, hal tersebut tentu saja membuat air matanya jatuh.


"aku. .aku yang harusnya minta maaf Alea, aku lelaki bajingan yang tidak pantas untukmu" ujar Alviro seraya melepaskan pelukannya.


"setelah ini menikahlah dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu dan membuatmu bahagia" ucap Alviro seraya mengusap air mata Alea.


Alviro dengan perlahan melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Alea. sesekali ia menoleh ke arah wanita yang telah mengisi kehidupannya itu.


"kamu juga harus bahagia mas" teriak Alea melambaikan tangannya kearah Alviro seakan kata tersebut adalah kata terakhir yang didengarnya dari Alea


Alviro memasuki mobilnya dan menatap punggung Alea yang telah berbalik meninggalkannya.


"beginikah rasanya sebuah perpisahan" ucap Alviro sambil menggigit bibirnya menahan perih yang membuat dadanya sesak.


Alviro pun menghidupkan mesin mobilnya menuju jalanan.


Alea yang sedang berada di dalam taksi tak henti-hentinya menitikkan air mata.


Entah mengapa kali ini ia merasa wanita paling malang didunia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Alviro menghempaskan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size miliknya.


Drrrttttt. .


Ponselnya bergetar dilihatnya id pemanggil yang tidak lain adalah Clara.


Alviro pun melemparkan ponselnya ke sembarang tempat.


Hari ini ia benar-benar lelah dan butuh waktu untuk beristirahat.


Belum lama kemudian bel rumahnya berbunyi. Alviro menebak bahwa orang yang tengah menekan bel rumahnya tersebut pasti wanita yang selalu membuatnya muak yang tidak lain tidak bukan adalah Clara.


Berulangkali bel rumahnya berbunyi namun Alviro lebih memilih menulikan telinganya, karena ia tidak ingin terusik dan ingin menikmati momen kegalauannya sendiri. Beberapa hari yang lalu Alviro menyuruh Regita untuk menarik bik Ijah kembali bekerja dirumah mamanya. Alhasil kini ia menghuni rumah ini sendiri ditemani bayang-bayang Alea.


Clara yang sedari tadi menekan bel rumah Alviro terlihat kesal. Pasalnya akhir-akhir ini Alviro tampak menjauhinya.


Mendengar kabar perceraian Alviro sungguh membuatnya senang karena tidak akan ada lagi wanita yang menjadi penghalang baginya.


Namun jika dilihat sikap Alviro yang terus mengacuhkannya seperti ini tentu saja membuat Clara menjadi stres.


"Vi. . buka pintunya. ." teriak Clara yang tidak mendapatkan respon dari Alviro.


Percuma saja Clara merasa senang dengan perceraian Alviro jika ia dihadapkan dengan sikap Alviro yang tak memperdulikannya.


"sungguh. . sikapmu yang seperti itu membuatku cepat menua" gumam Clara kesal dan melenggang pergi.


Terimakasih atas dukungannya dengan memberikan vote.


dan terimakasih juga untuk semua readers yang telah meluangkan waktunya membaca novel ini.

__ADS_1


like dan komen yah😉


salam manis RPS😊


__ADS_2