
"Bagaimana ini, kita cuma berpura-pura kenapa malah disuruh nikah sungguhan" gerutu Irene.
"Masa depanku masih panjang, dan setidaknya aku meinkah dengan lelaki yang benar-benar menyukaiku. Apa kita harus jujur saja pada ibumu" oceh wanita itu lagi yang tampak terlihat gusar.
"Kau bisa tidak untuk menutup mulutmu itu, aku semakin pusing mendengar ocehanmu itu" ujar Reyhan yang tengah menyetir.
"Tapi aku takut, jangan-jangan ini adalah akal-akalanmu saja supaya aku menjadi istrimu kan" tukas Irene.
Reyhan menepikan mobilnya dan langsung mengerem mendadak. Seketika Irene pun tersentak kaget.
"Apa kau gila hah, jika kau ingin mati jangan mengajakku juga" tutur Irene kesal.
"Turun.." ucap Reyhan tiba-tiba.
"Apa kau waras? disini sepi dan tidak akan ada taksi yang lewat"
"Turun!" bentak Reyhan.
Irene pun hanya diam dan tak berani berkutik. Tampaknya pria yang ada disampingnya ini amat sangat tersulut emosi.
"Tapi.." cicit wanita itu yang sedikit takut.
"Jika kau terus saja mengoceh tidak jelas lagi maka aku tidak akan segan-segan menyeretmu keluar dari mobil. Aku tidak pernah berpikir untuk menikahimu, jika kau mengatakan bahwa masa depanmu itu penting aku pun juga lebih dari itu. Aku tidak bisa berfikir sedari tadi karena mendengarkan ocehanmu itu" ujar Reyhan panjang lebar, kini pria itu tampak meluapkan semua emosinya.
Irene hanya tertunduk sembari memainkan kuku jarinya. Kini nyalinya menciut saat mendapati wajah Reyhan yang mengeras karena emosi.
Setelah sedikit tenang, pria itu melajukan mobilnya kembali menuju kediaman Irene.
...
"Maaf soal yang tadi, aku sungguh tidak bermaksud untuk.." melihat Reyhan tampak acuh membuat Irene mengurungkan niatnya melanjutkan ucapannya tersebut.
"Terimakasih atas tumpangannya" ujar Irene yang kemudian turun dari mobil.
Reyhan tak berkata apapun, setelah Irene turun ia pun langsung melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Dasar lelaki gila, sinting, untung saja aku mau menolongmu" gerutu Irene sembari menghentakkan kakinya.
.
.
.
Reyhan memasukkan mobilnya ke dalan garasi. Dilihatnya suasana dirumahnya sudah mulai sepi karena Rasya dan Aurel tampaknya sudah kembali ke rumahnya.
Reyhan menuju ke kamarnya, pria itu merebahkan dirinya di kasur dan belum lama kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Entah langkah apa yang harus diambilnya kali ini. Jika ia berkata jujur bahwa Irene hanya sekedar orang yang tak dikenal, pastinya kedua orang tuanya akan kecewa dan bahkan ia akan dijodohkan dengan wanita pilihan mereka.
Namun jika pria itu lebih memilih untuk menikahi Irene, yang pastinya Reyhan pun tak mau seolah terjebak pernikahan dengan wanita yang baru saja ditemuinya.
"Akhhh entahlah.." gumam Reyhan seraya mengacak rambutnya.
...****************...
Di sebuah kasur yang berukuran king size, Rasya dan Aurel tampak berbalut dengan selimut. Malam ini merupakan malam yang panjang bagi keduanya, dimana kedua anak kembarnya itu sudah terlelap tidur karena bermain seharian.
"Mau nanya apa mas?" tanya Aurel dengan kepala yang menengadah menatap wajah tampan suaminya itu.
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan Reyhan?" tanya Rasya dengan tiba-tiba.
Aurel pun seketika mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Rasya.
"Mas.. berapa kali lagi aku bilang kalau aku sekarang menganggap Reyhan itu cuma sebagai adik tidak lebih" jawab Aurel.
"Tapi apakah kamu yakin bisa melupakan dia? ya mas tahu dari dulu jika kamu menyukai Reyhan sejak lama" gumam Rasya.
"Mas.. aku kini sudah bersamamu mas, menjadi milikmu, bahkan kita sudah memiliki Arden dan Aretha. Aku menyukai Reyhan itu dulu mas, sekarang aku mendedikasikan hidupku untukmu dan anak kita. Apa itu tidak cukup membuktikan bahwa aku mencintaimu? Apakah harus ada pertengkaran diantara kita seusai bercinta?" ujar Aurel yang mulai kesal, wanita itu pun berbalik membelakangi suaminya.
Rasya mendekap tubuh Aurel dari belakang, namun ada rasa takut jika nantinya Aurel akan kembali pada Reyhan karena kepulangan Reyhan. Memang itu adalah pemikiran yang bodoh, namun tak bisa dipungkiri saat mata Reyhan menatap ke arah istrinya ada tatapan pilu yang terpancar dari manik mata adiknya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, maafkan aku yang sudah bertanya seperti itu" yang kemudian mengecup punggung istrinya itu.
...****************...
Seperti biasanya, Irene berjalan kesana kemari untuk mencatat dan mengantarkan pesanan. Gadis itu mengerjakan pekerjaannya dengan begitu gesit.
Belum lama kemudian, ia menuju ke meja yang berada disudut ruangan. Disana terdiri dari 6 orang wanita-wanita yang memasuki usia lansia.
"Maaf Bu mau pesan apa?" ucap Irene dengan ramahnya.
Namun saat salah satu wanita disana mendongakkan kepalanya, Irene pun sukses membulatkan matanya.
"Tante Irsya.." cicitnya.
"Ehhh sayang, kamu kerja disini ya?" tanya Irsya.
"Iya tante" ujar Irene menyunggingkan senyumnya.
"Siapa dia?" tanya wanita yang berada disebelah Irsya.
"Ini loh jeng, dia ini calon menantu kami" ucap Irsya sembari tersenyum.
Mereka yang ada di meja tersebut pun hanya ber oh ria, sementara Irene entah harus berbuat apa. Irsya bahkan tidak segan-segan mengenalkan bahwa Irene adalah calon menantunya.
"Astaga apa yang harus aku lakukan. jika ada jurus menghilang. aku akan lebih memilih menghilang saat ini juga. Jika aku memiliki kantong Doraemon, aku akan menggunakan pintu kemana saja untuk lenyap saat ini juga. Tapi sayangnya aku cuma punya kantong kresek yang bisa memuntahkan semua janji manis seorang Arya" ujar Irene didalam hati.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya 🤗