
Reyhan baru saja mengemasi beberapa pakaian yang akan dia bawa. Sedari ia bangun pria itu tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamarnya.
"Apakah ia masih marah?" gumam Reyhan sembari membenarkan dasinya.
Ia pun melangkah keluar dari kamar tersebut dengan menyeret kopernya.
Dilihatnya Irene yang tengah meletakkan sarapan ke meja makan.
"Sarapan dulu" ucap Irene singkat.
"Aku memasukkan barang-barangku dulu" timpal Reyhan menarik kopernya menuju ke mobilnya.
Saat pria itu membuka bagasinya, ia terkejut koper milik Irene lebih dulu berada disana. Pria itu pun mengembangkan senyumnya.
Seusai meletakkan koper miliknya, Reyhan langsung menuju ke meja makan untuk bergabung bersama istrinya.
"Kau akan ikut denganku?" tanya Reyhan sembari menyendokkan makanannya.
"Tentu saja" timpal Irene.
"Bukankah semalam kau bilang bahwa kau tidak akan ikut denganku?"
"Kapan aku berkata seperti itu" timpal Irene.
Reyhan berusaha mati-matian untuk tidak tertawa didepan istrinya itu. Ternyata secepat itu ia melupakan ucapannya semalam.
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Bik Lastri langsung membukakan pintu. Tak lain ternyata tamu tersebut adalah Arya. Pria itu juga membawa koper untuk ikut bersama dengan adiknya itu.
Reyhan memicingkan matanya melihat Arya dengan santainya menunggu keduanya di ruang tengah.
"Wah ternyata.." ucapan Reyhan langsung dipotong oleh Arya.
"Anggap saja aku sedang berlibur" ujarnya dengan santai.
Meskipun berbeda ibu, namun Arya dan Irene memiliki sedikit persamaan.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang" ajak Reyhan yang sudah lebih dulu melangkah keluar.
Arya mengedarkan pandangannya.
"Dimana sekertarismu?" tanyanya sedikit pelan.
"Sudah ku duga kau memiliki alasan tertentu, kakak ipar" sahut Reyhan sebelum memasuki mobil.
"Nanti kita akan menjemputnya" tambah Reyhan kembali memasuki mobilnya diikuti oleh Irene.
...
Dua mobil saling beriringan menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Reyhan. Reyhan bersama istrinya berada di urutan depan, sedangkan Arya bersama sekertaris Reyhan mengikuti mobil yang dikendarai oleh Reyhan.
__ADS_1
Arya sesekali melirik sang sekertaris yang ada disampingnya. Gadis berwajah cantik, bersurai panjang, serta berkulit putih sedikit pucat ini cukup menarik perhatian Arya.
"Ehmmm... Sedari tadi kita belum saling memperkenalkan diri, Nona. Siapa namamu?" tanya Arya sedikit berbasa-basi.
"Oh ya, aku Rania. Siapa namamu?" tanya sekertaris tersebut.
"Aku Arya, kakak ipar atasanmu" jelas Arya.
Rania pun mengangguk mengerti.
...
Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, Reyhan mencari sebuah penginapan yang tak jauh dari lokasi tersebut.
Penginapan yang hanya memiliki dua kamar kecil, maklum saja karena tempat tersebut adalah merupakan desa terpencil dan sangat jauh dari hiruk pikuk kota.
Irene meletakkan barang-barangnya bersamaan dengan Rania. Kedua gadis itu dibuat sekamar, sedangkan Reyhan satu kamar dengan kakak iparnya itu.
Keduanya beristirahat sebentar, dan bangun saat hari menjelang malam.
Tokkk .. tokkk..
Irene segera membuka pintu saat mendengar suara ketukan tersebut. Dilihatnya suaminya itu bersama abangnya dari balik pintu.
"Ayo kita berjalan-jalan sembari menghirup udara segar" ucap Reyhan.
"Tunggu sebentar" ujar Irene yang kembali menutup pintunya.
Setelah Irene dan Rania keluar dari tempat tersebut, dengan sengaja Reyhan mengajak Irene bersamanya ke arah yang berbeda membiarkan Arya dan Rania untuk leluasa berbincang.
"Mengapa kita tidak bergabung saja bersama mereka?" tanya Irene.
"Biarkan saja, abangmu butuh waktu berdua untuk memulai pendekatannya" sahut Reyhan terkekeh.
"Kau menjodohkannya dengan abangku?"
"Tentu saja, aku tidak ingin melihat kakak iparku melajang selamanya" ujar Reyhan sembari mengacak rambut Irene.
Irene pun kembali mengembangkan senyumnya.
...
Irene dan Reyhan kembali ke penginapan setelah cukup lama berjalan-jalan sembari menikmati makan di luar.
Jarak dari penginapan cukup jauh, namun tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Reyhan panik, ia pun langsung melepaskan jaketnya dan ditutup ke atas kepala Irene, kemudian berteduh di bawah pohon yang rindang.
Reyhan terlihat sangat cemas, pria itu takut jika trauma Irene kembali kambuh. Jika didalam rumah, mungkin Reyhan dapat mengatasinya. Namun berbeda dengan sekarang, keduanya tengah berada di luar dan masih sedikit jauh dari penginapan.
Irene menatap Reyhan, pria itu meletakkan kedua tangannya di telinga istrinya itu. Sembari terus merapalkan doa dalam hatinya, bibirnya tak pernah berhenti berucap.
__ADS_1
"Ada aku disini, aku akan melindungi mu" kata tersebut terus diucapkan oleh Reyhan.
Namun Irene menunjukkan raut wajah yang sebaliknya. Ketakutan yang biasanya terpatri diwajah cantiknya kini tak lagi terlihat.
"Aku baik-baik saja" ucap Irene sembari tersenyum.
Ia pun berlari ke tengah sembari menadahkan wajahnya menikmati rintikan hujan yang membasahi tubuhnya.
Reyhan terkejut melihat perubahan pada istrinya itu. Tak lama kemudian Irene menarik tangan Reyhan, mengajaknya untuk menikmati air hujan bersamanya.
"Kau.."
"Aki tidak takut lagi dengan hujan, aku menyukainya. Semua itu karena kau.." ucap Irene.
"Kau selalu menenangkan ku, memberikan semua hal yang manis untukku, menepis semua rasa takutku. Kau menyembuhkan lukaku dengan cara yang indah" tukas Irene matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu, Reyhan"
Tanpa aba-aba, Reyhan langsung membawa Irene ke dalam pelukannya. Mendekap gadis itu dengan sangat erat seolah takut jika nantinya ia akan kehilangan Irene.
Reyhan pun membingkai wajah Irene, mengecup bibir istrinya itu dibawah rintik hujan. Irene memejamkan matanya, menikmati momen bersama suaminya itu.
Dari kejauhan Arya berjalan sembari mencari dua pasutri tersebut sembari mengenakan payung, dan payung satunya lagi akan diberikannya pada adiknya itu.
Namun saat melihat Reyhan dan Irene tampak bermesraan sembari hujan-hujanan, membuat pria itu mengumpat kesal.
"Jika tahu keadaannya seperti ini, aku tidak akan berjalan kesini sembari mengantarkan payung. Sungguh sangat tidak sopan untuk pria lajang sepertiku, membuatku sakit mata saja" celoteh Arya yang mengurungkan niatnya dan kembali ke penginapan.
Jedder...
Suara gemuruh begitu kuat hingga kedua orang yang tengah kasmaran itu sedikit terkejut. Mereka pun saling bertatapan dan kemudian tersenyum.
"Mari kita pulang istriku, kita lanjutkan nanti saja. Aku tidak mau mati sia-sia tersambar petir dalam keadaan masih perjaka" goda Reyhan. Perkataan Reyhan tersebut sukses melukis semburat merah diwajah istrinya itu.
.
.
.
Bersambung..
Ini nih si tukang merajuk yang nggak ada obat.
Dan yang ini si babang spesies langka, takut mati dalam keadaan perjaka😂
__ADS_1
Jangan lupa selalu meninggalkan jejaknya lewat vote, like, serta komennya♥️