Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 35. First Kiss


__ADS_3

Malam pun telah berganti pagi, sinar mentari masuk melalui celah jendela dan menerpa wajah Irene. Perlahan gadis itu membuka matanya, ia tertegun saat menatap wajah tampan yang tepat berada hanya beberapa centi dari wajahnya.


"Apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya.


Ia pun mencoba untuk menyentuh wajah Reyhan, namun ia mengernyitkan wajahnya saat sentuhan itu tampak nyata.


"Kau sedang tidak bermimpi saat ini" ujar suara berat pria yang disampingnya yang kemudian membuka matanya.


Irene pun langsung membulatkan matanya terlonjak kaget saat ia sadar bahwa kini mereka berada dalam posisi seintim ini. Dimana Irene yang sudah melewati batas yang dibuatnya dan tidak sampai disitu saja, posisi gadis itu pun kini memeluk Reyhan.


"Apa yang kau lakukan Irene" bermonolog dalam hati.


"Ternyata posisi tidurmu sangatlah.."


"Diam! tidak usah dilanjutkan lagi" Irene segera memotong ucapan Reyhan karena dirinya sangatlah merasa malu.


"Jangan lupa untuk menjalankan hukumanmu" ujar Reyhan.


"Apa hukumanku?"


"Untuk saat ini aku belum memikirkannya, tapi akan ku tagih setelah aku menemukan ide" jelas Reyhan


"Baiklah" ujar Irene yang kemudian bangkit dari tempat tidur tersebut menuju ke kamar mandi.


Reyhan hanya tersenyum melihat Irene yang sudah memasuki kamar mandi.


Flashback On:


Malam itu Reyhan sekejap tak tidur saat mendapati posisi Irene yang semakin dekat dengan dirinya.


Awalnya gadis itu meletakkan kakinya di atas kaki Reyhan. Reyhan pun terbangun dengan pelan ia memindahkan posisi kaki Irene seperti semula. Karena ia ingat dengan perjanjian Irene di atas kasur sebelum mereka tertidur.


Setelah memindahkan posisi kaki Irene, Reyhan kembali merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Irene. Namun belum lama kemudian, posisi tidur Irene tampaknya berulah lagi. Kini gadis itu memeluk Reyhan dari belakang.


Reyhan pun berbalik ke arah Irene, pria itu hendak memindahkan tangan Irene yang memeluk pinggangnya itu. Namun tampaknya gadis itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Tunggu, mengapa aku harus repot dengan posisi tidurnya? bukankah sah sah saja seperti ini. Memang perjanjian awal tidak saling menyentuh akan tetapi anggap saja ini sebagai bonusku" ujar Reyhan dalam hati.


Perlahan pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Irene. Sungguh ia merasa damai melihat wajah Irene saat tertidur. Reyhan pun memberanikan dirinya untuk mengecup kening istrinya itu. Namun tampaknya Irene sangat lelap dalam tidurnya hingga tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Reyhan.


Mata Reyhan pun beralih ke bibir mungil milik istrinya itu. Ia mendekatkan wajahnya menyentuh bibir Irene dengan bibirnya. Sentuhan tipis namun dapat membuat dada Reyhan berdegup tak karuan. Bagaimana pun juga ini yang pertama kalinya bagi Reyhan. Ciuman pertamanya diberikan oleh gadis yang tak lain adalah istrinya sendiri.


"Untung saja kau tertidur sangat lelap, jika kau mengetahui apa yang aku perbuat malam ini, mungkin saja kau akan membunuhku keesokan harinya" ucap Reyhan dalam hati.

__ADS_1


Flashback off


...****************...


Dikantor sama seperti kemarin, Irene hanya duduk berdiam diri di meja seberang sembari memperhatikan Reyhan bekerja.


"Sebenarnya kau mempekerjakan ku untuk apa?" tanya Irene yang merasa sedikit bosan.


"Untuk memperhatikan ketampanan ku" jawab Reyhan dengan mudahnya.


"Wah percaya diri sekali" ucap Irene.


Reyhan hanya membalasnya dengan tersenyum simpul.


"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, setelah ini mari kita mencari udara segar" ujar Reyhan.


...


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, kini Reyhan dan Irene tengah berada di sebuah coffe shop. Seperti biasanya Reyhan memesan americano dan iced tiramisu latte.


Sembari menikmati minuman yang dipesannya, keduanya pun menyukai tempat tersebut karena tampak sejuk dan asri.


"Apakah kau menyukainya?" tanya Reyhan.


Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Setelah ini kita kemana?" tanya Reyhan.


"Mau kemana lagi, yang pastinya kita kembali ke kantor bukankah ini jam kerjamu?" ucap Irene


Reyhan pun segera merogoh ponselnya, pria itu tampaknya tengah menghubungi seseorang.


"Batalkan semua jadwal saya hari ini" setelah mengeluarkan satu kalimat tersebut Reyhan pun segera menutup teleponnya.


"Hei, aku tidak mau mengganggu jam kerjamu. Ayo kita kembali ke kantor" ucap Irene sembari menarik tangan Reyhan.


Reyhan menatap tangannya yang digenggam oleh Irene. Irene yang baru saja sadar pun segera melepaskan genggamannya.


"Sekertarisku itu sangat gesit menjalankan perintahnya, dan pastinya dia sudah mengatur ulang jadwalku nanti. Ayolah kau tidak perlu khawatir akan hal itu" ujar Reyhan yang melangkah terlebih dahulu menuju meja kasir.


"Hei tunggu.." ujar Irene yang menyesap habis minumannya.


"Setidaknya aku menghabiskan dulu minumanku, apakah ini cara orang kaya menghamburkan uang" gumam Irene yang kemudian menyusul Reyhan.

__ADS_1


...


Kini keduanya berada didalam mobil, Reyhan tengah menghidupkan mesin mobilnya sedangkan Irene sedari tadi terus bertanya kemana tujuannya setelah ini. Reyhan pun hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu melepas sabuk pengamannya dan kemudian mencondongkan badannya mendekati Irene.


"Hei kau mau apa?" tanya Irene sembari menutup matanya.


"Apa yang kau pikirkan nona, sedari tadi kau selalu bertanya hingga kau lupa memasang sabuk pengamanmu" ucap Rasya yang membantu memasang sabuk pengaman Irene.


Irene pun membuang mukanya menahan rasa malu karena berpikiran yang tidak-tidak tentang Reyhan.


Reyhan melihat istrinya dengan wajah memerah membuatnya menahan tawa. Setelah memasang kembali sabuk pengaman miliknya, pria itu pun langsung melajukan mobilnya.


Disepanjang perjalanan, Irene hanya diam sembari melihat ke arah luar.


"Mengapa kau diam saja?" tanya Reyhan.


"Sebaiknya kau mengemudi dengan benar jika ingin selamat dalam perjalanan" ketus Irene


Reyhan tertawa mendengar hal tersebut, tentu saja pria mengetahui alasan Irene terdiam seperti itu. Tentunya gadis itu masih malu dengan pikiran kotornya tadi.


Belum lama kemudian ponselnya pun berbunyi. Reyhan segera menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo ma.."


"Nak.. Rasya nak.. Rasya ingin berpisah dari Aurel" ujar Irsya dengan suara bergetar dari seberang telepon.


Setelah mendengar satu kalimat tersebut Reyhan pun melepaskan ponselnya dari genggamannya. Pria itu pun segera memutar balikkan mobilnya.


Irene terkejut saat Reyhan mendadak memutar balikkan mobilnya.


"Kota pergi lain kali saja, ada hal yang lebih penting yang harus ku urus" ujar Reyhan


Terlihat dari ekspresi wajahnya bahwa pria itu kini tengah menahan amarahnya. Reyhan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Irene yang biasanya banyak bicara menjadi takut untuk menegur suaminya untuk berhati-hati saat melihat Reyhan yang bak kesetanan tersebut.




.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2