
Rasya yang baru saja pulang, langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah berpakaian lengkap, ia pun bergabung dengan ibunya yang berada di ruang tengah seraya menonton televisi.
"Nak, mama rindu Reyhan. Mama belum pernah sama sekali berkunjung ke kontrakannya" ucap Irsya seraya mengecilkan volume televisi.
"Ya sudah, kalau begitu kita kesana sekarang ma" ajak Rasya.
"Tapi kamu baru pulang kerja nak, mama takut kamu kelelahan" ucap Irsya.
"Tidak ma, aku senang jika kesana bersama mama dan papa" jelas Rasya.
"Papamu sudah tidur nak, mungkin lain kali dia akan mengunjungi Reyhan. Malam ini kamu berangkat sama mama saja" ujar Irsya.
"Oke ma, kalau begitu ayo kita kesana" seru Rasya antusias.
.
.
.
Rasya memarkirkan mobilnya tepat di depan gang, posisi yang sama saat ia berkunjung kemarin. Keduanya pun turun dari mobil dan menyusuri lorong yang menuju kontrakan. Lorong tersebut terbilang kecil, hanya motor yang dapat melewati tempat tersebut.
Saat keduanya sudah tepat di depan pintu. Rasya mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun mencoba mengintip dari celah jendela. Namun didalam tampak gelap.
"Ma, sepertinya Reyhan sedang tidak dirumah. Didalam tampak gelap" tebak Rasya.
"Benarkah?" tanya Irsya yang kemudian mengintip juga dari celah jendela. Dan ternyata benar, ruangan tersebut tampak gelap.
"Coba kamu telepon adikmu" ujar Irsya lagi.
Rasya pun meraba ponselnya di saku celananya, dan mencoba menelepon adiknya. Namun tidak ada jawaban. Bahkan ia mengulangi beberapa kali panggilan tersebut, hasilnya pun tetap nihil.
"Tidak dijawab ma" gumam Rasya.
"Kemana dia? mama tidak mau jika dia terlalu bebas" ujar Irsya.
"Reyhan bukan orang yang seperti itu ma, Rasya tahu kalau teman Reyhan semuanya baik" ucap Reyhan meyakinkan sang mama.
"Ya sudah kalau begitu, mari kita pulang" ajak Irsya yang berjalan mendahului Rasya.
❤❤❤
__ADS_1
Reyhan tampak fokus dengan pekerjaan barunya. Beberapa pasang mata mengarah padanya dan berdecak kagum melihat ketampanan seorang Reyhan Dimas Harfin. Tentu saja ketampanan tersebut ia dapatkan dari ayahnya.
Pegawai disana pun melakukan hal-hal yang konyol saat mereka santai. Ada yang berpura-pura lewat seraya melirik ke arahnya, dan ada pula beberapa yang langsung menyapa seraya memberikan minuman bersoda.
Namun Reyhan sedikit tersenyum dan berucap terimakasih. Sikap cuek yang diperlihatkannya kini tampaknya sudah menurun dari level 8 hingga level ke 5. Akan tetapi entahlah jika itu adalah Aurel.
Aurel yang mengawasi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bola matanya melihat kesana dan kemari. Ia pun melangkahkan kaki menuju lelaki yang pernah dicintainya dulu, kini entahlah ia pun masih bimbang dengan hatinya.
"Apa yang akan kau lukis disana?" tanya Aurel menghampiri Reyhan.
Reyhan pun terkejut, dan langsung berbalik memandang gadis yang kini tepat berada dibelakangnya.
"Apa tema yang akan kau angkat dari lukisanmu" ujar Aurel mengulangi ucapannya namun dengan pertanyaan yang berbeda.
"Cinta.. Aku memakai tema tersebut" timpal Reyhan dengan nada yang sedikit canggung.
Aurel pun mengangguk paham dengan ucapan pria yang ada dihadapannya.
"Tepatnya cinta dan sebuah pengorbanan" lanjut pria itu dengan raut wajah sendu.
"Bisakah kau menjelaskan lebih spesifik lagi? aku ingin tahu lukisan apa yang akan kau gambar nantinya" ujar Aurel yang sedikit berfikir.
"Apa kau tidak alergi dengan mawar?" tanya Aurel tiba-tiba.
Reyhan pun langsung terdiam sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Aku dan papa tidak alergi terhadap bunga mawar, bang Rasya dan mama yang alergi terhadap bunga tersebut" jelas Reyhan.
"Oh, I see. Baiklah silahkan lanjutkan pekerjaanmu, kau boleh pulang jam berapa pun karena akan ada satpam yang berjaga malam. Jadi kau tak akan sendirian di tempat ini" ujar Aurel dengan tegas dan melenggang pergi dari tempat tersebut menuju ke parkiran.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Aurel merebahkan dirinya. Ia masih teringat akan ucapan dari Reyhan tadi. Aurel kembali beranjak dari tempat tidur, dan membuka laci nakas yang tepatnya diurutan kedua.
Dilihatnya ulang tulisan-tulisan indah yang pernah menemaninya kala itu. Entah mengapa hatinya sedikit sesak saat membaca kalimat demi kalimat tulisan yang tertoreh di kartu ucapan tersebut.
"Apakah kamu orang itu?" gumamnya.
__ADS_1
❤❤❤
Drrttt... drrtt...
Getaran ponsel dari Aurel membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Aurel memicingkan matanya seraya meraba ponselnya.
"Morning honey.." ujar suara dari seberang telepon.
"Hmmm.."timpal Aurel dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.
"Bangun sayang, hari sudah siang. Apa kau tidak berangkat ke kantor?"
"Benarkah? sepertinya tidurku sangat nyenyak hingga aku bangun hampir jam 7" ucap Aurel.
Rasya pun terkekeh mendengar celotehan kekasihnya itu.
"Aku berencana mengajakmu untuk berangkat bersama. Tapi kamu belum siap, dan aku harus ke kontrakan Reyhan mengantar titipan dari mama" tutur Rasya.
"Kontrakan? Reyhan ngontrak?" tanya Aurel.
Rasya lupa jika kekasihnya ini tidak tahu jika adiknya tinggal dikontrakan saat ini.
"Iya" ucap Rasya.
"Sayang, aku tutup teleponnya karena aku harus menelepon Reyhan" ujar Rasya sedikit kelabakan.
Rasya pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak hanya tidak ingin jika Aurel nantinya bertanya lebih jauh lagi.
"Bodoh!" rutuk Rasya kesal seraya memukul stir mobilnya.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya, like, komen, dan votenya 😍😘
.
__ADS_1