
Panggilan video call pun tersambung, tanpa aba-aba lagi Reyhan langsung memperlihatkan testpack yang ada ditangannya pada mamanya itu.
"Apa itu?" tanya Irsya yang awalnya tak terlalu jelas, namun saat melihatnya dengan seksama, Irsya pun menutup mulutnya.
"Irene hamil?" tanya Irsya memastikan lagi.
"Iya, ma. Mama akan mendapat cucu lagi" ucap Reyhan antusias.
Raut wajah bahagia pun terpatri diwajah Irsya. Tak dapat dipungkiri bahwa wanita itu teramat senang mendapat kabar baik dari Reyhan.
"Pa.. ayo kita mengunjungi Reyhan. Mama sudah tidak sabar ingin menyapa Reyhan junior" seru Irsya sembari berjalan menghampiri suaminya itu.
Irsya pun mengarahkan layar ponsel yang panggilannya masih terhubung dengan Reyhan. Reyhan pun memberitahukan kabar tersebut pada sang papa. Tentu saja papanya sangat bahagia mendengar hal itu.
Mereka pun berencana untuk mengunjungi Reyhan, namun Abizar memilih untuk tidak malam ini. Setidaknya mereka akan membawa Rasya serta Aurel untuk ikut.
...
Setelah menghubungi kedua orang tuanya, Reyhan juga segera memberitahukan hal tersebut pada mertuanya. Tentu saja obrolan kali ini akan sedikit pecah, karena sang kakak ipar yang ikut andil dalam percakapan tersebut.
Irene hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan abangnya itu terkadang saling mengolok, kadang pula saling mendukung. Malam ini Reyhan benar-benar heboh atas kehamilan Irene.
Pandangannya pun kembali tertuju pada perutnya.
"Terima kasih ya nak. Berkat kehadiranmu, semua orang merasa sangat bahagia. Sehat terus didalam sana" ujar Irene dalam hati seraya mengusap perutnya.
...****************...
Pagi ini Irene kembali memuntahkan isi perutnya. Namun kali ini karena pasal parfum yang dikenakan oleh suaminya itu.
"Jangan mendekat!" cegah Irene sembari menutup hidungnya. Reyhan pun menghentikan langkahnya untuk menghampiri istrinya itu.
"Maafkan aku, tapi kau harus menjaga jarak tiga meter dariku. Aroma parfum yang kau pakai membuatku pusing" jelas Irene.
"Tapi sayang .."
"Tolong suamiku" ujar Irene menyela ucapan Reyhan.
Reyhan rasanya ingin merutuki kebodohannya. Jika saja ia tahu istrinya itu saat ini tidak menyukai wewangian dari parfum yang dipakainya, Reyhan tidak akan langsung menyemprotkan ke tubuhnya. Bisa saja ia memakainya di kantor. Namun akibat kebodohannya kali ini, pria itu tak mendapat vitamin penyemangatnya pagi ini.
"Baiklah, kalau begitu kau beristirahat yang cukup istriku. Jika kau masih merasa pusing, hubungi aku segera. Aku akan menyuruh dokter Mira untuk memeriksamu kembali" ucap Reyhan panjang lebar.
"Tidak usah, suamiku. Lagi pula ini hanya efek dari morning sickness" ujar Irene yang masih mengapit hidungnya dengan kedua jarinya.
Melihat istrinya yang masih setia menutup hidungnya, membuat Reyhan lekas meninggalkan tempat tersebut. Dirinya harus meninggalkan sang istri meskipun sedikit berat hati, dibandingkan harus melihat sang istri yang tak bisa menghirup oksigen dengan bebas.
...
Siang ini, Irene tengah menikmati makan siangnya. Namun setelah menghabiskan sepiring nasi, gadis itu masih merasa lapar.
Ia pun mengupas dua buah mangga dan meletakkannya ke piring dalam potongan-potongan dadu. Gadis itu pun membawa piring tersebut ke depan televisi.
Sembari memperhatikan tayangan televisi, ia memasukkan potongan buah mangga tersebut. Dan tak lama kemudian, buah yang ada di piring pun telah habis tak tersisa.
"Bagaimana mungkin habis secepat itu, apa piringnya berlubang?" gumam Irene mengangkat piring yang dipegangnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara si kembar dari arah pintu.
"Tante..." ujar Arden dan Aretha serentak.
Irene pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Kalian.." ucap Irene seraya tersenyum menghampiri si kembar.
Si kembar datang bersama kedua neneknya. Irsya yang tengah membawa plastik yang berisi buah dan segera memberikannya pada menantunya itu.
Irene menerima bingkisan tersebut, kemudian menyalami tangan kedua mertuanya itu.
"Tante kata nenek, tante bakalan punya dedek ya" ucap Aretha.
Irene pun mengiyakan pertanyaan keponakannya itu dengan sebuah anggukan.
"Tapi perut tante kenapa kecil?" tanya Arden dengan begitu polosnya.
"Adik yang ada diperut Tante masih kecil, cucuku. Nanti jika didalam sana sudah membesar, pasti perut tante Irene juga akan besar" kini Irsya lah yang memberi penjelasan pada cucunya itu.
"Ohhh .." ucap Arden sembari memajukan bibirnya.
"Tante.. Retha pesan adik perempuan ya, supaya nanti ada yang menemani Retha bermain barbie" ujar Aretha.
Ketiga orang dewasa yang ada disana pun langsung tergelak tawa saat mendengar penuturan dari Aretha.
Ya, mungkin gadis kecil itu menganggap bahwa gender dari bayi yang ada didalam rahim bisa dipesan begitu saja.
"Semoga saja nanti adiknya perempuan dan cantik seperti Aretha" timpal Irene sembari mengelus puncak kepala keponakan perempuannya.
...
"Bagaimana? apakah kau merasa seperti demam di pagi hari?" tanya Irsya.
"Iya ma, aku merasa pusing serta muntah-muntah. Apalagi pagi ini parfum yang dikenakan Reyhan menurutku sangat menyengat. Tapi entahlah hbiasanya aku menyukai aroma parfum yang dipakainya. Mungkin karena hidungku terlalu sensitif" jelas Irene.
"Wajar nak, mama juga dulunya seperti itu. Bahkan saat mama mengandung Rasya, mama sempat merasa risih didekati oleh papamu. Padahal papamu itu tidak melakukan kesalahan. Namun, saat mengandung Reyhan justru sebaliknya, mama tidak ingin terlalu jauh dari papamu" ujar Irene.
Keduanya pun terkekeh geli.
"Jika tiba-tiba mood kita berubah, itu wajar-wajar saja karena bawaan dari si bayi tadi" terang Irsya.
Irene pun mengangguk paham. Dan percakapan keduanya pun diisi dengan pengalaman serta nasihat-nasihat yang diberikan oleh ibu mertuanya itu.
...****************...
Pukul sembilan malam, Reyhan baru saja tiba dirumah. Beberapa hari ini ia lembur karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan menikmati waktu dirumah sembari menjaga istri tercintanya yang tengah mengandung anak pertama mereka.
Reyhan pun membuka pintu kamar, dilihatnya Irene yang sudah terlelap tidur. Pria itu hendak mendekati istrinya, namun ia teringat jika Irene tidak menyukai aroma parfum yang melekat dipakaiannya ini. Reyhan pun memilih untuk langsung menuju ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah cukup lama ritual mandi ala Reyhan, pria itu mendekati istrinya. Suara dengkuran halus dari istrinya itu cukup menenangkan Reyhan. Dikecupnya kening Irene cukup lama.
"Maafkan aku sayang, aku selalu pulang malam" ucap Reyhan merasa bersalah.
Pria itu pun turun hingga ke perut rata Irene, menyapa si kecil yang ada didalam rahim sang istri.
__ADS_1
"Jangan nakal ya sayang, jangan membuat mamamu terlalu lelah" ucap Reyhan seraya mengelus perut Irene.
"Kau sudah pulang, suamiku" ucap Irene yang tiba-tiba saja terbangun karena Reyhan.
"Iya sayang"
"Maafkan aku tak pernah menunggumu pulang, karena mataku akhir-akhir ini ingin terpejam lebih awal" jelas Irene.
"Kau tidak perlu menunggu, istriku. Sudah ku katakan untuk beristirahat yang cukup bukan? mendengar dengkuranmu yang merdu itu sudah cukup bagiku" goda Reyhan.
Irene pun memukul pelan lengan suaminya itu.
"Kau menyebalkan" cerca Irene.
"Bagaimana jika kita mulai mengubah panggilan sayang kita" ucap Reyhan.
"Maksudmu?"
"Kita sebentar lagi akan memiliki anak, bagaimana jika mulai saat ini kau memanggilku dengan sebutan papa dan aku memanggilmu dengan sebutan mama. Apakah kau setuju, istriku?" tanya Reyhan.
Irene pun tampak berfikir, namun tak lama kemudian wanita tersebut mengangguk tanda menyetujui usul suaminya itu.
"Baiklah mari kita coba" ujar Reyhan.
Reyhan berdeham sejenak dan kemudian..
"Ayo kita tidur ma, papa sudah mengantuk" sambung Reyhan.
Mendengar panggilan seperti itu membuat Irene terkekeh geli.
"Mengapa tertawa?" tanya Reyhan sembari mengusap tengkuknya.
"Aku hanya tidak terbiasa saja dan sedikit kaku mendengar kau memanggilku seperti itu, suamiku" terang Irene.
"Maka dari itu dibiasakan sejak saat ini" ucap Reyhan.
"Baiklah pa, ayo kita tidur" ujar Irene sembari menahan tawa.
"Sepertinya papa harus menahannya cukup lama" keluh Reyhan.
"Ya harus, karena jika papa tetap memaksa maka baby kita juga dalam bahaya" celetuk Irene.
"Jangan! tidak boleh! anakku harus tetap sehat. Bibit unggul dari papa Rey, Made in Santorini" ujar Reyhan sembari mengelus perut istrinya.
Irene hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu.
.
.
.
Bersambung ..
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ❤️.
__ADS_1