
Mari kita berpisah" lanjut Rasya sesaat dan kemudian menyeret kakinya pergi
Deggg..
Dunia Aurel seakan runtuh dalam hitungan detik. Dan lagi-lagi dadanya terasa sakit, sungguh ini menyesakkan baginya.
"Apakah kau mencintaiku?" seru Aurel.
"Apa kau akan menyerah dengan semuanya?" sambung Aurel. Kata-kata itu pun sukses membuat langkah Rasya terhenti. Namun tanpa berbalik menatap ke arahnya.
"Kau tahu, ucapanmu itu membuat duniaku seolah terhenti. Apakah kau sadar jika kata-katamu itu teramat menyakitkan bagiku" ucap Aurel dengan mata yang mulai memburam menahan tumpahan air matanya.
Rasya mendongakkan wajahnya menengadah ke langit. Tentu saja ia amat sakit untuk melepas wanita yang dicintainya.
"Aku.. Aku hanya memberikan tiga kencan kepada si pengirim bunga, anggap saja itu adalah sebuah imbalan karena dia pernah memberi warna dihariku" tutur Aurel.
"Namun aku memberikan hatiku pada pembohong besar sepertimu, pria yang selalu berusaha membuatku tersenyum, pria yang mengajarkanku arti dari sebuah cinta" ucapnya lagi yang tak mampu menahan air matanya.
Rasya membelalakkan matanya, ia pun berbalik menatap gadis yang sudah berlinang air mata itu.
"Tapi jika berpisah adalah keputusanmu, maka lakukanlah" ujar Aurel lirih.
Rasya menghampiri Aurel dengan derap langkah yang begitu cepat. Ia menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sesaat kemudian tangis Aurel pun pecah. Tetesan air mata membuat dada Rasya basah. Aurel menangis sejadi-jadinya dipelukan pria yang kini dicintainya, hanya saja Aurel sedikit terlambat untuk menyadari semuanya.
"Aku mencintaimu" gumam Aurel disela Isak tangisnya.
Rasya pun semakin mengeratkan pelukannya, dan sesekali ia mencium puncak kepala gadis itu.
"Aku juga mencintaimu, dan akan tetap seperti itu" ujar Rasya.
.
.
.
"Ini untukmu" ujar Rasya seraya menyerahkan minuman kaleng yang baru saja dibelinya di toko terdekat.
"Terimakasih" ucap Aurel menerima minuman tersebut.
Mereka pun terdiam, tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Ada yang ingin aku katakan padamu" ucap keduanya serentak. Mereka pun ternganga dan kemudian tertawa.
"Kamu saja duluan" ucap Rasya.
"Tidak, kamu saja yang duluan" ujar Aurel.
"Hmmm.. baiklah" timpal Rasya.
"Sebenarnya aku sudah mengetahui jika Reyhan bekerja ditempatmu, dan aku juga tahu apa yang terjadi denganmu setelah usai menemui kedua orang tuaku malam itu" ucap Rasya tersenyum perih.
__ADS_1
"Namun aku sengaja seolah tidak terjadi apa-apa karena aku pun juga tidak pantas harus melarang. Karena aku bukanlah lelaki yang harusnya menjadi kekasihmu. Aku merasa jahat telah merebut kebahagiaan adikku sendiri" sambung Rasya lirih.
Aurel menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia pun kembali menenggak minuman kaleng yang ada ditangannya.
"Maaf, aku tidak bercerita padamu sebelumnya. Aku tidak ingin jika kamu mengetahui segalanya, tentu saja itu akan membuat hatimu menjadi sakit. Maka dari itu aku menyembunyikannya darimu" tutur Aurel.
"Awalnya, aku memang menyukai Reyhan. Dan setelah dua kencan yang aku jalani bersamanya, aku sadar bahwa aku menyukainya hanya sekedar rasa kagum, bukan cinta" ucap Aurel dengan lugas.
"Jadi kalian sudah berkencan kedua kalinya?" tanya Rasya.
Aurel menganggukkan kepalanya.
"Jujur saja, aku sebenarnya merasa tidak enak pada Reyhan. Namun hatiku memilih untuk lebih egois mempertahankan kamu, dan ingin kamu tetap di sisiku. Aku tidak bisa melepasmu dengan pria manapun itu" ujar Rasya menatap seksama ke arah Aurel.
"Tapi kamu baru saja meminta kita untuk berpisah" ucap Aurel terkekeh.
"Aku kira cintaku tak terbalaskan, maka dari itu aku meminta demikian. Tapi setelah mendengar penuturanmu, kini membuatku yakin bahwa kamu adalah wanita yang patut untuk ku perjuangkan, dan aku tak akan berucap seperti itu lagi" ujar Rasya.
"Bisakah kau pegang janjimu itu?" tanya Aurel.
"Aku janji sayang" ujar Rasya seraya mengelus surai hitam milik kekasihnya itu.
"Tapi aku masih memiliki hutang lagi pada adikmu" tukas Aurel.
"Apa itu?"
"Kencan satu kali lagi" ucapnya.
"Baiklah untuk yang satu itu aku akan memakluminya" ujar Rasya seraya tersenyum. Aurel pun membalas senyuman itu. Kini semua yang ada dibenak masing-masing telah tersampaikan. Dan biarkan cinta yang kini mengisi relung hati keduanya.
❤️❤️❤️
"Pagi juga sayang, anak papa tampaknya sumringah sekali pagi ini" ujar Alviro.
Aurel pun hanya mengulas senyum tipis kepada papanya itu.
"Mama mana?" tanya Aurel.
"Tadi barusan kebelakang" sahut Alviro.
Selang beberapa lama kemudian, Alea pun menampakkan batang hidungnya seraya membawa piring yang berisi roti bakar dan diletakkan diatas meja.
"Pagi ma.." sapa Aurel.
"Pagi juga sayang"
"Ma.. pa.. Aurel pagi ini tidak ikut gabung sarapan ya"
"Kenapa nak?" tanya sang mama
"Emmm.. itu.. Aurel punya janji.."
__ADS_1
"Non.. ada den Rasya" ucap Bi Inem memotong pembicaraan Aurel.
"Selamat pagi om, tante" ujar pria yang baru saja muncul.
"Pagi.." sahut Alviro dan Alea.
"Aurel berangkat dulu ya ma, pa" ujar Aurel yang langsung meraih punggung tangan kedua orang tuanya, hal serupa pun dilakukan oleh Rasya.
"Kenapa nggak sarapan bareng disini aja?" tanya Alviro.
"Aurel terlanjur janji sama Rasya, Aurel berangkat ya" ucapnya yang langsung menarik tangan Rasya.
"Berangkat dulu tante, om" ucap Rasya yang tangannya masih ditarik oleh Aurel.
"Hati-hati ya nak" seru Alea.
Belum lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Rasya pun melaju.
"Anak muda zaman sekarang ada-ada aja" gumam Alviro seraya melahap rotinya.
"Papa juga dulu gitu, ada-ada aja akal papa buat gangguin mama" gerutu Alea.
"Yang di New York itu?"
Alea menganggukkan kepalanya seraya mengunyah rotinya.
"Kalau yang itu papa sengaja, buat cari perhatian ke mama" ucap Alviro seraya terkekeh.
"Hal yang paling gila waktu papa datang tiba-tiba minta dibuatkan nasi goreng, papa beli bahan banyak-banyak cuma buat menu paling simple" ujar Alea.
"Hmmm.. itu belum terlalu gila sayang, masih ada satu hal lagi yang membuat papa tertawa sendiri jika mengingat hal itu" tutur Alviro.
"Apa itu?" tanya Alea tampak penasaran.
Alviro pun terkekeh sebentar, dan kemudian ia pun bercerita hal yang dianggapnya lucu itu.
"Mama ingat tidak dulunya papa pernah minta tolong ke mama untuk mencari ponsel papa" ucapnya.
Alea pun mencoba mengingat kejadian lampau yang telah dilewati puluhan tahun silam. Ia pun ingat bahwa Alviro pernah meminjam ponselnya untuk menghubungi nomor tersebut.
"Iya, mama ingat. Waktu itu papa pinjam ponsel mama" tukas Alea.
"Sebenarnya papa sengaja meletakkan ponsel papa dibawah tempat tidur, kemudian papa langsung bergegas menemui mama untuk meminta bantuan mama" tutur Alviro yang kemudian terkekeh.
"Papa lakukan hal tersebut hanya untuk mendapat nomor ponsel mama" lanjutnya yang kemudian tertawa.
Alea pun ikut tertawa mendengar penuturan dari suaminya itu. Pagi ini keduanya dihiasi dengan gelak tawa seraya menguak kisah lama yang pernah terjadi diantara mereka.
Bersambung...
❤️❤️❤️
__ADS_1
**Cinta bukanlah seberapa lama kamu memujanya bukan pula seberapa lama kamu mengejarnya. Melainkan seberapa resah jika tak mendapat kabar darinya dan seberapa sakit jika harus kehilangannya.
_Ryn**_