
Reyhan memberhentikan mobilnya tepat didepan pemakaman umum. Irene yang tadi mendalami kesedihannya akan sosok wanita yang akan diperkenalkan oleh suaminya itu, namun kini ia tercengang saat Reyhan membawanya ke tempat ini.
Irene tahu jika ia rasanya ingin mati saja saat mengetahui bahwa suaminya memiliki wanita idaman lain. Tapi tidak juga untuk membawanya ke tempat ini sekarang.
"Mengapa kita disini?" tanya Irene sedikit ragu.
"Ayo ikut saja" timpal Reyhan yang langsung keluar dari mobilnya dan kemudian membuka pintu mobil untuk istrinya itu.
Reyhan pun mempersilahkan Irene untuk keluar dari mobil.
"A..aku tahu jika kau memiliki wanita idaman lain tapi... setidaknya jangan menguburku hidup-hidup saat ini juga" gumam Irene takut.
Ucapan yang tertangkap oleh indera pendengarannya itu membuat Reyhan menyunggingkan senyumnya. Kini ia tahu jika Irene salah paham sedari tadi.
Meskipun dengan perasaan sedikit gusar dan takut Irene pun mengekor mengikuti langkah suaminya itu yang tengah memeluk sebuket bunga mawar yang mereka beli tadi.
Langkah mereka pun terhenti di sebuah makam yang letaknya paling ujung.
"Kita sudah sampai" ucap Reyhan.
Awalnya Irene yang berada dibelakang Reyhan, Namun saat Reyhan berucap demikian, gadis itu pun mengambil posisi disebelah Reyhan. Sontak saja ia terkejut saat melihat nama yang tertera di batu nisan tersebut.
Dera Dinanti
Nama belakang yang sama dengan Irene. Ia pun melihat tahun wafat yang tertera disana dan hanya berselang beberapa bulan tepat dihari lahirnya.
"Dia..." gumam Irene terputus.
"Dia ibumu, mama mertuaku" jelas Reyhan.
Seketika Irene pun luruh ke tanah. Kakinya mendadak terasa lemas tak mampu menahan tubuhnya. Air matanya pun mengalir dengan begitu derasnya didepan makam wanita yang telah melahirkannya.
"Mama..." ucap Irene.
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir mungilnya. Diatas rasa hancur saat menerima kenyataan pahit yang sesungguhnya.
Selama ini Irene menganggap bahwa ibu yang melahirkannya tak menginginkan keberadaannya. Namun anggapan gadis itu salah. Dulu ia bahkan berfikir akan membenci ibunya jika suatu hari nanti wanita yang telah melahirkannya itu mencari dirinya. Akan tetapi Irene merasa lebih baik lagi jika ibunya itu masih hidup. Setidaknya ia dapat melihat jelas bagaimana rupa ibunya itu.
Melihat istrinya yang menangis sesegukkan sembari memeluk nisan ibu mertuanya itu, Reyhan pun memegang pundak istrinya itu, berusaha untuk menenangkannya.
"Aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya dan dia menatapku sembari meminta maaf telah menyia-nyiakanku. Setidaknya aku bisa membencinya sembari menatap wajahnya" ujar Irene sesegukkan.
Reyhan menghapus air mata istrinya itu, dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Tuhan tidak mengizinkanmu untuk membenci wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya untukmu" ucap Reyhan sembari menenangkan istrinya itu.
Irene hanya bisa mengangguk sembari menangis sesegukkan.
"Lantas dimana Papaku?" tanya Irene mendongak sembari menatap wajah suaminya itu.
"Setelah ini mari kita bertemu dengan Papamu" sahut Reyhan.
"Apakah ia masih hidup?" tanya Irene.
__ADS_1
Reyhan menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Lantas mengapa ia tidak mencari ku? mengapa ia menelantarkan ku?" tukas Irene.
Reyhan hanya diam tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Menurutnya yang harusnya menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Irene adalah ayahnya sendiri.
...
Sore itu Reyhan membawa Irene ke sebuah resto yang menyajikan ruang privat. Irene sedari tadi menatap ke arah pintu, tak sabar menunggu pertemuannya dengan sang ayah.
Hampir dua puluh menit mata Irene masih tertuju ke arah pintu yang masih tertutup itu. Beberapa kali Reyhan menawari istrinya itu hendak memesan apa sembari menunggu, namun Irene menolaknya dan berkata bahwa ia tidak menginginkan apapun.
Semarah apapun dirinya, namun tetap saja ini adalah pertemuan pertama kalinya dengan sang ayah.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, menampakkan sosok pria tua dengan kaca mata yang bertengger dihidungnya. Ada rasa bahagia dalam dirinya meskipun kemarahan mendominasi. Tak bisa dipungkiri bahwa Irene menantikan saat ini, saat dimana gadis itu berhadapan langsung dengan ayah biologisnya.
"Silahkan duduk pa.." ujar Reyhan menyambut ayah mertuanya.
Pria itu pun duduk tepat dihadapan anak gadisnya yang belum sempat ia membesarkannya.
Belum lama kemudian, muncul lagi sosok dari balik pintu. Tentu saja irene sangat mengenal sosok itu. Pria yang pernah mengkhianatinya.
"Arya .." gumam Irene.
Arya hanya menyunggingkan senyumnya kemudian mengambil posisi duduk disamping ayahnya.
Irene menatap Reyhan, bingung karena keberadaan sosok Arya di tempat tersebut.
"Dia adalah Pak Surya, ayahmu" jelas Reyhan.
Reyhan pun langsung mendapat tatapan tajam dari Arya. Reyhan melirik ke arah istrinya itu, tampaknya Irene masih ingin mendengarkan penjelasan dari Reyhan.
"Arya adalah anak Pak Surya" jelas Reyhan.
Irene tertawa saat mendengar penuturan dari suaminya itu. Semua orang yang ada disana pun menatap Irene dengan heran.
"Kau jangan bercanda suamiku" ucap Irene kesal. Namun saat semua orang menatapnya dengan serius Irene langsung terdiam sesaat.
"Jadi kau.."
"Iya, aku adalah saudara tirimu" sahut Arya.
Irene pun langsung menenggak segelas air putih yang ada dihadapannya hingga tandas. Sungguh kenyataan ini susah dicerna oleh akal sehatnya.
"Berarti kemarin aku menjalin hubungan dengan saudaraku sendiri? hahaha konyol sekali" ungkap Irene.
"Kau mengetahuinya, mengapa kau tidak berkata jujur" tambah Irene.
"Aku tidak ingin menyakitimu" timpal Irene.
"Tidak ingin menyakitiku? bukankah kau sudah menyakitiku saat itu juga" seru Irene.
Saat Arya dan istrinya itu berlempar kata, Reyhan dan ayah mertuanya itu hanya menjadi pendengar setia yang tak mampu berbuat apapun.
__ADS_1
"Setidaknya dengan alasan kemarin tak akan membuatmu depresi, kau bisa saja membenciku karena menganggap aku pria brengsek. Wanita yang ku bawa waktu itu adalah istri dari temanku." jelas Arya.
"Kau takut jika aku depresi namun kau tetap menyembunyikan kebenaran, apakah sikapmu itu kau anggap benar?" ketus Irene dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku" ucap Arya tertunduk lesu.
Reyhan langsung menggenggam jemari istrinya itu, mengisyaratkan Irene bahwa ia harus lebih bersikap tenang.
"Mengapa Pak Surya menelantarkan ku? mengapa Bapak tidak mencari ku disaat mama telah tiada?" tanya Irene yang tidak menyebut ayahnya itu dengan sebutan papa.
"Irene.." sanggah Reyhan yang sedikit marah karena menyebut papa mertuanya seperti itu.
"Tidak apa nak Reyhan, Papa memang bersalah tidak mencarimu lebih awal. Tapi, setelah itu papa berusaha keras untuk mencarimu meskipun kau telah diadopsi oleh keluarga lain. Hingga akhirnya Papa minta bantuan pada abangmu untuk mencari keberadaan mu. Papa senang saat menemukanmu, namun tak disangka bahwa kau telah menjalin hubungan asmara dengan abangmu" jelas Surya panjang lebar.
"Papa senang melihatmu tumbuh dengan baik menjadi gadis cantik. Parasmu sangat mirip dengan mamamu" ucap Surya lagi.
Irene hanya membuang muka, mendongak ke atas agar air matanya tak tumpah.
"Papa minta maaf atas semua kesalahan papa, kalau begitu papa dan abangmu pamit dulu" ujar Surya yang beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh Arya.
Reyhan mencoba mencegah mertuanya itu, namun Surya berkata bahwa anak gadisnya itu mungkin akan butuh waktu untuk memahami semua kejadian ini.
Surya dan Arya pun melangkah hendak keluar dari tempat itu.
"Papa.." panggil Irene yang beranjak dari tempat duduknya.
Sontak saja Surya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah anak gadisnya itu . Air matanya jatuh saat Irene memanggilnya dengan sebutan papa.
"Apakah papa tidak merindukanku? Apakah papa tega meninggalkanku lagi? Apakah papa tidak menyayangiku?" pertanyaan beruntun yang diucapkan Irene diiringi dengan air mata.
Surya menggelengkan kepalanya, air matanya pun ikut jatuh mendengar ucapan putrinya itu.
"Papa sangat menyayangimu anakku, bahkan papa tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ingin bertemu denganmu. Papa sangat menantikan dimana papa bisa melihatmu secara langsung" ujar Surya.
"Jika papa merindukanku mengapa papa tidak memelukku? dua puluh tahun lebih aku menantikan pelukan dari papa kandungku sendiri" rengek Irene.
Surya pun merentakan tangannya. Irene perlahan berjalan ke arah Surya dan memeluk erat papanya itu. Surya menangis dalam pelukan anak gadisnya, begitu pula dengan Irene. Tangisan Surya terdengar sangat menyayat hati.Ia merasa gagal menjadi ayah yang baik karena tidak melihat langsung bagaimana anak gadisnya ini tumbuh dewasa.
Suasana haru pun memenuhi ruangan tersebut. Reyhan merangkul pundak Arya yang sesekali memalingkan wajahnya menutupi bahwa dirinya kini sedang menjatuhkan air mata.
"Jangan menangis seperti itu kakak ipar" celetuk Reyhan.
"Mengapa aku sedikit geli saat kau memanggilku seperti itu" timpal Arya.
Kedua pria itu pun tertawa sembari saling merangkul satu sama lain.
.
.
.
Bersambung ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya melalui like, komen, serta vote😁 aku othor remahan yang banyak maunya😅.
follow ig ayasakaryn24