
"Apakah ini tempatnya?" tanya Reyhan memperlambat laju mobilnya.
"Iya maju lagi dikit" ucap Irene.
Reyhan memberhentikan mobilnya. Dengan cepat Irene turun dari mobil tersebut.
"Terimakasih atas tumpangannya" ucap wanita itu setelah turun dari mobil.
Reyhan hanya diam tak menjawab ucapan Irene. Pria itu kemudian melajukan mobilnya, sementara Irene melambaikan tangannya seraya tersenyum.
Reyhan melirik spion mobilnya, melihat tingkah wanita tersebut yang tadinya menangis kini tanpa hentinya tersenyum.
"Apakah moodnya selalu seperti itu?" gumam Reyhan bermonolog.
Irene mengulas senyumnya, ia pun membuka pintu rumahnya. Wanita itu merebahkan dirinya ditempat tidur. Hari ini ia merasa seperti manusia yang sedikit gila. Ia baru saja kehilangan pacar, dan bahkan kehilangan pekerjaan namun wanita itu masih bisa mengulas senyumnya?
"Sepertinya aku benar-benar sudah tidak waras" gumam Irene.
Irene mencari keberadaan ponselnya untuk melihat-lihat lowongan pekerjaan dari sebuah internet, namun wanita itu tidak menemukan keberadaan ponselnya.
Belum lama kemudian, tampaknya wanita tersebut mulai mengingat sesuatu.
"Astaga aku meninggalkannya di mobil pria itu" gumamnya seraya menepuk keningnya.
Tokk.. tokkk..
Bunyi suara pintu terketuk, Irene bangkit dari tempatnya sembari berjalan menuju ke pintu.
"Pasti pria tadi ingin mengembalikan ponselku" ucap Irene tersenyum riang.
Namun saat ia membuka pintu, bukanlah sosok Reyhan yang muncul melainkan sosok yang amat dihindarinya.
"Ehhh Bu" cicit Irene sembari memaksakan senyumnya.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu melihat saya" ucap wanita bertubuh gempal itu dengan sinis.
"Ekspresi yang bagaimana? saya justru senang menyambut kedatangan ibu" ujar Irene yang berbohong.
"Terserah.. saya mau menagih hutangmu"
"Beri saya waktu lagi bu" kilah Irene.
"Saya tidak mau mengulur waktu lagi. silahkan kamu angkat kaki dari sini" ketus ibu pemilik kost tersebut.
"Tapi..."
...
Reyhan tampak menikmati alunan musik sembari mengemudikan mobilnya. Ia pun berhenti tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah. Pria itu sedikit melirik ke arah tempat duduk yang berada disamping. Dilihatnya benda pipih tampak tergeletak disana. Ia pun meniup rambut yang ada di keningnya saat melihat ponsel milik Irene tertinggal disana.
__ADS_1
"Besok saja aku mengembalikannya" ujar Reyhan sedikit acuh.
Namun saat lampu hijau menyala, pria itu langsung memutar balik mobilnya kembali ke tempat Irene. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sembari meracau.
"Apakah dia bodoh? mengapa wanita itu selalu menyusahkanku" ujar Reyhan sembari memukul setirnya.
Setelah sampai ditempat tersebut, Reyhan langsung turun dari mobil dengan emosi ya g memuncak. Belum lama kemudian, pria itu melihat Irene yang keluar dari tempat tersebut sembari menarik sebuah koper. Irene menghentikan langkahnya saat melihat Reyhan yang tengah menatap ke arahnya.
"Kamu..." gumam Irene.
"Siapa dia?" tanya wanita berbadan gempal yang berada dibelakang Irene.
"Dia.."
"Kekasihmu?" celetuk ibu kost tersebut.
Reyhan membulatkan matanya, ia pun mengibaskan tangannya mengisyaratkan bahwa dia bukan kekasihnya.
"Iy..iya.. dia kekasihku" ujar Irene sedikit gugup.
"Bukan.. anda salah paham" ujar Reyhan.
Namun dengan gerakan cepat Irene merangkul lengan Reyhan.
"Hei apa yang kamu lakukan" bisik Reyhan mencoba melepaskan tangan Irene namun wanita itu malah semakin erat merangkulnya.
"Baguslah kalau begitu, untuk sementara kamu saja yang melunasi tunggakan wanita ini" tukas ibu kost tersebut.
"Bukankah dia wanitamu? berarti dia juga tanggung jawabmu" ujar wanita bertubuh gempal itu.
Irene menarik tangan Reyhan sedikit menjauh dari ibu kost tersebut. Wanita itu menangkap tangannya memohon agar pria itu membantunya kali ini.
"Apa kau gila? aku tidak mau" ujar Reyhan kekeh.
"Ayolah.. aku tahu jika aku adalah manusia yang tidak tahu malu, tapi tolong bantu aku kali ini saja. Aku janji akan melunasinya setelah aku mendapatkan pekerjaanku. Hari ini aku dicampakkan oleh kekasihku, kehilangan pekerjaanku, dan setidaknya aku tidak kehilangan tempat tinggalku. Ku mohon.." ujar Irene yang terus membujuk Reyhan.
Reyhan memang pria yang berkepala batu, namun pria itu masih memiliki hati yang lembut. Ia pun menyerahkan ponsel Irene yang sedari tadi digenggamnya, kemudian melangkah menghampiri ibu kost yang sedari tadi menunggunya.
"Berapa total seluruhnya?" ujar Reyhan.
Ibu kost tersebut langsung menyebutkan nominalnya beserta nomor rekeningnnya. Setelah mendapatkan transfer dari Reyhan, wanita bertubuh gempal itu mengulas senyumnya kemudian meninggalkan keduanya ditempat tersebut.
"Terimakasih karena kamu telah membantuku, aku berjanji setelah mendapatkan pekerjaan, akan aku kembalikan uangmu" ujar Irene yang merasa sedikit malu.
Reyhan hanya bungkam sembari memperhatikan gadis itu seksama.
"Oh iya, pinjam ponselmu" ucap Irene lagi.
Reyhan pun menyerahkan ponselnya begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu. Irene memasukkan nomor ponselnya dan kemudian mendial nomor tersebut. Dan tak lupa ia membuka kamera ponsel Reyhan untuk berfoto selfie.
__ADS_1
"Itu nomor ponselku dan jika kamu masih takut jika aku kabur, kamu boleh memasang foto cantikku itu disebuah koran" ujarnya lagi.
Irene pun menarik kembali kopernya ke dalam rumah, namun sebelum ia menutup pintunya wanita itu melambaikan tangannya sembari tersenyum.
Reyhan hanya mematung disana, ia pun menyeret kakinya untuk kembali memasuki mobilnya.
"Apa yang baru saja aku lakukan" gumam pria tersebut sembari mengantukkan kepalanya ke setir.
...****************...
Irsya menyambut putra sulungnya yang baru saja pulang. Wanita itu pun mengulas senyumnya karena tampaknya kencan yang diatur untuk putra bungsunya berhasil.
"Ehmm.. tampaknya kencanmu berhasil kali ini " ujar Irsya.
"Kencan?" Reyhan masih bingung kencan apa yang dijalaninya.
Namun setelah sadar apa yang diucapkan oleh sang mama barusan, Reyhan hanya bisa mengusap tengkuknya. Waktunya hari ini hanya dihabiskan oleh wanita yang tak dikenal bukan dengan wanita pilihan sang mama.
Reyhan hanya membalas ucapan Irsya dengan tersenyum simpul, ia pun melangkah menuju ke kamarnya.
Didalam kamarnya, pria itu kembali mengotak-atik ponselnya. Ia pun melihat panggilan keluar yang tak memiliki nama. Reyhan mencoba menyimpan nama gadis tersebut namun ia tidak mengetahui siapa nama wanita yang baru saja ditemuinya tadi. Ia kembali mengingat saat gadis itu mewarnai bibirnya sembari memajukan bibirnya itu. Dan Reyhan pun langsung menyimpan kontak tersebut dengan nama Gadis Gincu.
.
.
.
Di lain tempat, Irene yang juga tengah mengotak-atik ponselnya. Ia hendak menyimpan kontak pria itu namun ia tak tahu nama pria yang baru saja ditemuinya tadi. Namun saat ia mengingat semua yang dilakukan oleh pria itu bak dewa penyelamat, Irene pun langsung menamai kontak tersebut dengan nama Hero.
.
.
.
Bersambung...
Gadis Gincu
Hero
Terimakasih sudah mengikuti sejauh ini, jangan lupa untuk selalu meninggalkan like dan komen karena ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang😁
untuk vote, seikhlasnya aja yak❤️
__ADS_1
salam manis Ryn ❤