Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 26


__ADS_3

Flashback on:


Berhari-hari Reyhan memikirkan gadis itu, gadis yang menjadi cinta pertamanya. Apalagi dengan kejadian di Cafe tersebut membuat pikirannya semakin kacau.


"Apakah ini saatnya aku menemuinya?" gumam Reyhan seraya berpikir.


.


.


.


Malamnya. Reyhan seperti biasanya membawa setangkai mawar ditangannya seraya kartu ucapan yang bergambar Doraemon tersebut. Salah satu film kartun yang disenangi oleh wanita itu.


Sesampainya di depan rumah, Reyhan sedikit ragu. Ia pun sesekali kembali menata rambutnya agar tidak terlihat berantakan.


Baru saja ia hendak menekan bel rumah tersebut, namun suara ponsel mengurungkan niatnya.


Reyhan mengusap layar ponselnya menerima panggilan dari sepupunya itu.


"Rey.." ujar suara dari seberang telepon. Suara yang penuh ketakutan.


"Lo kenapa Vanesha?" tanya Reyhan yang mulai panik.


"Rey.. gue nggak bisa masuk rumah, gue takut" suara gadis itu semakin bergetar.


"Posisi lo dimana?"tanya Reyhan.


Vanesha pun menjelaskan dimana posisinya saat ini. Dan Reyhan langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia mengarahkan pandangannya pada setangkai bunga yang ada ditangannya.


"Aku tidak akan lama" gumam Reyhan yang kemudian meletakkan bunga tersebut tepat di kursi yang berada di teras rumah itu. Dengan cepat, Reyhan pun menuju ke rumah Vanesha.


Sesampainya disana, Reyhan melihat mobil Vanesha yang berada di depan rumah. Ia pun menghampiri mobil itu. Dan benar saja, wanita itu berada di dalam mobil seraya memeluk lututnya.


Reyhan mengetuk kaca mobil tersebut, Vanesha pun langsung membuka pintu mobilnya dan berlindung di belakang Reyhan.


"Lo takut kenapa?" tanya Reyhan.


"Itu.." sahutnya seraya menunjuk objek yang berada dikaca bagian depan mobilnya.


"Kecoak?"


Vanesha menganggukkan kepalanya.


Reyhan pun dengan cepat mengusir serangga tersebut. Ia menghela nafasnya panjang, mengingat ia meninggalkan hal yang paling penting demi sepupunya yang konyol ini.


"Udah?" tanya Reyhan lagi.


"Lo kayak nggak ikhlas banget nolongin gue" ujar Vanesha ketus.

__ADS_1


"Gue ikhlas, gue nanya soalnya gue saat ini lagi ada urusan" ucap Reyhan.


"Terserah.. males gue ngomong sama lo" ketus Vanesha dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


Reyhan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya itu. Bukan mendapat ucapan terimakasih, justru mendapat sebuah kemarahan dari seorang Vanesha. Reyhan pun kembali menuju rumah Aurel.


Sesampainya disana, Reyhan memarkirkan motornya tidak jauh dari kediaman Aurel, tempat biasa ia memarkirkan kendaraan roda dua itu saat mengirim mawar setiap paginya.


Ia pun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan serta menepis sedikit jaketnya dari sisa debu di perjalanan tadi.


"Baiklah, mari kita mulai" gumam Reyhan menghembuskan nafasnya dan kemudian mendekati kediaman wanita yang ditujunya.


Reyhan berharap akan mengakui semuanya suatu saat nanti, setelah ia lulus dan mendapatkan pekerjaan. Setidaknya ia mampu mengajak jalan Aurel dengan hasil keringatnya sendiri tanpa mengandalkan uang orang tuanya.


Selama ini ia sengaja memperlihatkan raut sinis pada wanita itu, ia tidak ingin jika Aurel terlalu mengejar dirinya. Cukup ia saja, tidak untuk wanita itu.


Reyhan pun semakin dekat dengan kediaman Aurel, setelah jarak beberapa meter dari rumahnya, Reyhan menghentikan langkahnya seketika. Hatinya merasa teriris saat melihat Aurel memeluk lelaki lain dan lelaki itu adalah saudara sekandungnya sendiri.


Reyhan tetap mengamati keduanya dari kejauhan. Dadanya bak terhujam sebuah pedang dan menembus jantungnya.


"Apakah mencintai harus sesakit ini?" gumamnya seraya mengepalkan tangannya.


Dan kini tinggallah sebuah penyesalan yang amat dalam, karena Rasya selangkah lebih maju dari dirinya.


Flashback off


.


.


.


Reyhan membelalakkan matanya tak percaya, ia menghentikan langkahnya dan menatap ke arah gadis yang menangis seraya menutup dahinya.


Reyhan membeku, entah darimana gadis yang ada dihadapannya ini dapat mengetahui semuanya. Aurel menghapus air matanya dan berlalu dari hadapan Reyhan.


.


.


.


Usai mencuci wajahnya di toilet, Reyhan pun berjalan keluar. Setidaknya ia harus pulang dan mempersiapkan untuk berangkat kuliahnya.


Saat berjalan melenggang menuju pintu keluar, beberapa pasang mata memperhatikannya. Bukan tatapan seperti hari-hari sebelumnya, namun lebih ke tatapan kekecewaan. Namun Reyhan pun tak menggubrisnya.


❤❤❤


"Pagi ma.. pa.." ucap Vanesha yang kemudian ikut bergabung sarapan bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Pagi sayang" ucap Melly dan Roland.


Melly sedikit mengendus mendekati putri semata wayangnya itu.


"Kenapa ma?" tanya Vanesha heran dengan kelakuan mamanya.


"Kamu pakai parfum satu botol? wangi kamu menyengat sekali" ujar Melly.


"Hehe.. biar nggak bau ma" kilah Vanesha.


"Mungkin ada yang ditaksir dikampus ma, biasanya juga berangkat kuliah cuma cuci muka doang" sela Roland.


"Nggak seperti itu juga pa" ucap Vanesha memberengut kesal.


"Wajarlah Vanesha seperti itu pa, papa juga dulunya gitu" ujar Melly.


"Nggak, mama yang seperti itu. Papa nggak" sahut Roland.


"Mama nggak gitu juga ya" jawab Melly.


"Terus aku mirip siapa? nggak mirip mama sama papa" ucap Vanesha kesal.


"Mirip tukang cilok depan kompleks.." ujar keduanya seraya terkekeh.


Vanesha pun langsung melahap rotinya dengan sedikit kesal.


Memang benar, tukang cilok yang sering berkeliling di depan kompleks selalu tercium wangi parfum yang menyengat. Setiap mampir ia selalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


❤❤❤❤


Rasya duduk diruangannya, tentunya ia tidak sendirian. Kali ini papanya menemuinya. Seperti biasanya, ia akan mengambil posisi ternyaman dengan duduk di kursi seraya buku yang ada ditangannya.


Rasya membuka galeri foto diponselnya, menggeser layar tersebut sembari tersenyum melihat potret ia bersama Aurel. Sesekali Abizar memperhatikan putra sulungnya itu dan kemudian tersenyum.


"Sepertinya ponselmu lebih menarik saat ini ketimbang mengajak papamu berbincang" ucap Abizar seraya membalikkan halaman bukunya.


"Maaf pa.." ujar Rasya dan memasukkan ponselnya ke dalam jas dokternya.


"Kapan kau akan mengenalkannya pada papa?" tanya Abizar yang juga menutup buku yang ada ditangannya.


"Hemmm.. mungkin nanti pa, sekarang belum saatnya" ujar Rasya.


"Nanti itu kata yang menunjukkan hari esok namun dengan penatian yang panjang. Kira-kira sepanjang apa penantian papa untuk menimang cucu?" pancing Abizar.


Gubrakkk..


Rasya terkejut dengan kata "cucu" dari sang ayah. Jangankan hendak meminta cucu, kekasihnya pun saat ini enggan untuk membahas ke masalah pernikahan. Dan Rasya sanggup menunggu sampai Aurel benar-benar siap.


"Bagaimana? apa kamu tidak keberatan membawa dia berkunjung ke rumah?" tanya Abizar lagi memastikan.

__ADS_1


"Iya, Rasya akan membawanya ke rumah pa" sahut Rasya yang disambut senyuman oleh Abizar.


Bersambung...


__ADS_2