Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 40


__ADS_3

Rasya memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Aurel. Tampilannya pun jauh lebih rapi dari sebelumnya. Dilihatnya Aurel yang sudah menyambut kedatangannya dari bibir pintu. Gadis itu berlari kecil menghampirinya.


"Rapi banget kamu, sudah seperti orang yang hendak berkampanye saja" ucap Aurel.


"Anggaplah aku berkampanye untuk mendapatkan kursi sebagai suami kamu" sahut Rasya dengan gamblang.


Aurel menatap pria itu dengan seksama. Entah mengapa semakin hari Rasya semakin tampan di matanya.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu? apakah ada yang aneh? atau ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Rasya saat menyadari Aurel menatapnya dengan seksama.


Aurel menganggukkan kepalanya.


"Yang mana? rambutku? pakaianku?" tanya Rasya.


Aurel maju selangkah lebih mendekat pada Rasya, ia pun sedikit berjinjit sembari mendekat ke telinga pria itu


"Wajahmu.. semakin tampan" bisik Aurel tepat didepan telinga Rasya.


Deggg.. deggg...


Jantung Rasya berpacu dengan cepat saat Aurel tiba-tiba mendekat dan berbisik ditelinganya. Setelah membisikkan satu kalimat, gadis itu langsung berlalu dar hadapannya.


"Jangan memancingku untuk hilang kendali, Aurel" gumam Rasya dengan wajah yang mulai memerah. Bagaimanapun juga,anggap saja ia pria yang sangat polos yang baru saja mendapat perlakuan seperti itu nyaris membuatnya menahan nafas seperkian detik.


Rasya pun menyusul langkah Aurel yang berjalan meninggalkannya.


.


.


.


Rasya sedikit gugup saat mengutarakan kedatangannya malam ini. Dihadapan kedua orang tua Aurel, tangan Rasya sedikit gemetar. Padahal ini bukanlah pertama kalinya bertemu dengan kedua orang tua Aurel.


"Ada apa nak Rasya?" tanya Alviro.

__ADS_1


"Ehmm.. gini om.. itu.." Rasya tergagap.


"Minum dulu, tenang, setelah itu baru bicarakan" ujar Alviro.


Rasya pun menuruti ucapan Alviro, diraihnya gelas teh yang ada di atas meja dan kemudian menyeruputnya. Rasya mengambil nafasnya dengan dalam berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Om, tante, tujuan saya kesini bermaksud untuk meminta restu dari om dan tante, karena saya ingin menikahi Aurel" ucap Rasya dengan lugas.


"Bukankah semalam nak Rasya bilang ingin mengejar karier dulu?" tanya Alviro.


"Ah.. itu om.." lidah Rasya mendadak kaku, ia hapus keringat dingin yang ada di keningnya. Semalam memang dialah menolak usul Alviro dan Alea dengan alasan mengejar karier, dan sekarang ia bak menjilat ludahnya sendiri.


"Saya tarik ucapan saya kemarin om, mengejar karier sembari membangun sebuah mahligai rumah tangga tidak ada salahnya om" alasan yang masuk akal diucapkan oleh Rasya.


Alviro dan Alea pun mengangguk paham dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Rasya.


"Apa kamu sudah siap menikah dengan Rasya, nak?" tanya Alea pada putrinya.


Aurel mengangguk tanda setuju.


"Kalau tante setuju saja, asalkan itu yang terbaik untuk Aurel" sambung Alea.


"Om sangat setuju" ucapnya kemudian.


Rasya menghembuskan nafasnya, ia merasa lega telah mendapat restu dari kedua orang tua Aurel. Kini langkahnya sedikit lebih maju untuk menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya.


"Besok saya membawa mama dan papa kesini untuk membicarakan soal tanggal pernikahannya" ujar Rasya.


"Silahkan nak, lebih cepat lebih baik" timpal Alviro yang tampak bersemangat.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Reyhan mengendarai sepeda motornya menuju ke rumahnya. Panggilan telepon dari sang mama membuatnya harus meninggalkan kontrakannya sementara. Dalam lubuk hati Reyhan, masih tergores sedikit rasa perih saat mendengar kabar bahwa abangnya itu akan menikah dengan Aurel.


Hampir dua bulan lamanya ia melepas gadis itu untuk abangnya, namun entah kenapa ia masih belum bisa mengubur rasa itu, rasa akan cintanya terhadap Aurel. Meskipun bibirnya mengikhlaskan Aurel bersama dengan Rasya, namun hatinya belum sepenuhnya bisa menghapus nama wanita itu dalam hatinya. Selama ini ia menyibukkan diri untuk fokus menyelesaikan kuliahnya, terlebih lagi ia akan memasuki semester akhir.

__ADS_1


Reyhan telah memasuki halaman rumahnya, ia pun memberhentikan motornya dan kemudian masuk ke dalam rumah. Kedatangannya disambut hangat oleh Irsya.


"Anak bungsu mama.." ucap Irsya sembari memeluk Reyhan.


"Abang sama papa belum pulang, ma?" tanya Reyhan.


"Belum sayang, makan dulu sana. Mama udah siapin makanan buat kamu" ujar Irsya sembari membawa Reyhan ke dapur.


Dilihatnya masakkan rumahan ala Irsya lengkap tersaji diatas meja. Cumi asam manis, ayam goreng, tumis kangkung, serta sambal yang menjadi pelengkapnya.


Reyhan mengarahkan pandangannya pada wanita yang telah melahirkannya itu. Dilihatnya wajah yang tampak sudah tak muda lagi tak hentinya mengembangkan senyum untuknya.


Reyhan memeluk sang mama, sungguh ia merasa nyaman sekali. Setelah semua pikiran yang sedari tadi membebaninya seolah menguap begitu saja.


"Sampai kapan kamu bermanja dengan mama seperti ini, sekarang lebih baik kamu makan dulu. Lihatlah badanmu tampak kurus sekarang" ucap Irsya.


Reyhan pun melepaskan pelukannya, ia menarik salah satu kursi dan duduk disana. Reyhan mengambil makanan dan memakannya dengan lahap. Irsya tersenyum saat melihat anak bungsunya begitu lahap memakan masakannya.


"Masakan mama paling top" ucap Reyhan sembari mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu habiskan makananmu" timpal Irsya tersenyum.


Reyhan melanjutkan makannya, sebenarnya ia tak merasa lapar karena pikiran yang sedikit mengganggunya. Namun jika melihat bagaimana mamanya itu bersemangat memasakkan sesuatu untuknya, ia pun juga tak boleh menolaknya.


Setidaknya ia sadar bahwa ada bahu tempatnya selalu bersandar, yaitu bahu orang yang telah melahirkannya, wanita yang benar menjadi cinta pertamanya, yaitu sang mama.


.


.


.


Bersambung..


Jangan lupa vote, komen, dan likenya ya biar makin uwwuu❤️

__ADS_1


Insyaallah kalau besok nggak terlalu sibuk, aku usahain buat up. tapi nggak janji ya✌️


Salam manis Ryn ❤


__ADS_2