Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 4. Hari yang sial


__ADS_3

Irene duduk disalah satu kursi yang berada di Cafe tersebut. Belum lama kemudian, salah seorang pelayan menghampiri mejanya untuk menanyakan pesanan Irene.


"Selamat sore nona, mau pesan apa?" tanya pelayan tersebut dengan sangat ramah.


"Ehhh nanti saja, saya masih menunggu teman saya" timpal Irene.


Pelayan tersebut menggangguk dan kemudian menyeret kakinya menuju meja yang berada tepat dibelakang Irene.


"Selamat sore tuan, mau pesan apa?" tanya pelayan itu pada meja yang berada dibelakang Irene.


"Ice matcha espresso satu" ucap Reyhan yang memilih pesanan tersebut.


Irene menoleh sekilas saat mendengar suara berat yang ada dibelakangnya itu. Namun yang dilihat wanita tersebut hanyalah sekat pembatas, karena Cafe tersebut memiliki dekat pembatas antara meja satu dengan yang lainnya.


Lima menit sudah terlewati. Irene tak henti melihat ke arah pintu menanti kedatangan Arya.


Tringg..


Lonceng pintu pada cafe tersebut berbunyi. Hal itu menandakan ada seseorang yang pasti masuk mendorong pintu kaca itu. Irene yang awalnya sumringah kini kembali berwajah mendung saat sosok yang masuk itu adalah wanita, bukan Arya.


Wanita cantik berambut panjang itu melangkahkan kakinya menuju ke arah meja yang ada dibelakangnya.


"Maaf membuatmu menunggu lama" ucap wanita yang perkataannya tertangkap di telinga Irene.


"Oh ternyata pasangannya" gumam Irene saat mendengar ucapan wanita itu.


Belum lama kemudian, lonceng yang ada di pintu masuk kembali berbunyi. Kali ini sosok Arya lah yang muncul. Namun pria itu tidak sendirian, melainkan ada sosok wanita yang merangkul lengannya.


Kening Irene berkerut sekilas, namun beberapa saat kemudian wanita itu menyambut kedatangan kekasihnya sembari menghampiri pria itu.


"Arya.." ucap Irene menghampiri Arya dan melerai tangan keduanya.


"Ayo duduk sini" lanjutnya.


"Irene aku.."


"Dia siapa?" tanya Irene yang langsung menyela ucapan kekasihnya itu.


Ada tatapan ragu diantara kedua manusia yang saat ini berada diantara Irene. Namun tak lama kemudian, Arya pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlutut dihadapan Irene.


"Irene maafkan aku.." ucap pria itu.


"Ada apa ini?" tanya Irene yang masih sedikit ambigu dengan ucapan Arya.


"Saya Karin, calon istri mas Arya" ucap wanita itu.


"Hahh? apa kau bercanda" ujar Irene sembari tertawa kecil tak percaya akan ucapan wanita itu.


"Apa yang dikatakan olehnya benar adanya" sahut Arya.


"Sayang, kenapa kamu.." ucapan Irene terputus. Ia mencoba menahan air matanya jatuh.


"Maafkan aku" ujar Arya.


...


Sementara di meja lainnya, Reyhan tengah berbincang dengan wanita pilihan sang mama. Jika dilihat sekilas, wanita yang bernama Riska ini cukup cantik namun sayang Reyhan tidak menyukainya.


Obrolan mereka terbilang singkat. Wanita berpamitan terlebih dahulu dikarenakan ada urusan mendadak. Dan Reyhan pun tidak menahannya, jangankan untuk mengantarnya pulang, bahkan saat wanita itu memberi kode jika saja Reyhan ingin mengantarnya justru Reyhan tak bergeming dari tempat duduknya.


Dengan wajah sedikit masam, wanita itu berlalu dari hadapan Reyhan.


"Dasar pria yang tidak peka" sungut Wanita itu sembari memperlebar langkahnya.


Reyhan tersenyum miring, kali ini ia merasa sedikit tenang dan dapat menikmati waktu kesendiriannya ditempat ini.


Reyhan menyambar minuman yang ia pesan tadi, namun saat tangannya hendak menggapai ada tangan lain yang mendahuluinya mengambil minuman tersebut.

__ADS_1


"Maaf.." ucap Irene yang langsung mengambil gelas minuman milik Reyhan.


Wanita bersurai panjang itu dengan cepat langsung menyiram kedua manusia yang tak tau malu itu. Reyhan yang tadinya hendak marah karena ulah gadis tersebut langsung mengurungkan niatnya saat melihat adegan yang baru saja ia saksikan.


"Bukankah dia wanita tadi.." gumam Reyhan sembari melipat kedua tangannya. Ia pun kembali memperhatikan ketiga orang yang tengah berseteru itu.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Arya pada wanita yang bernama Karin itu. Arya pun menyentuh perut datar wanita itu.


"Aku tidak apa-apa mas, dia juga baik-baik saja" ucap Karin mengusap perutnya.


Irene sedikit ternganga, ia tidak pernah menyangka jika Arya yang ia kira pria yang baik ternyata adalah pria yang bejat.


"Kau.." Irene menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aku.. aku mungkin sedikit memaklumi jika kamu berselingkuh di belakangku, tapi bagaimana kamu melakukan perbuatan sekeji itu" ujar Irene yang sedikit bergetar. Ia pun pergi dari tempat tersebut.


Awal yang manis namun berakhir dengan begitu pahit. Ia pun melangkahkan kakinya dengan gontai. Demi hari yang dianggap spesial ini, Irene rela menghabiskan uangnya hanya untuk berpenampilan semenarik mungkin. Namun siapa sangka apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kini ia hanya bisa meratapi nasib malangnya.


...****************...


Reyhan mengendikkan bahunya saat melihat wanita yang mengambil minumannya tadi keluar dari tempat itu. Ia pun melihat minuman yang belum sempat ia minum tadi sudah dimandikannya oleh pasangan laknat barusan.


Reyhan menghembuskan napasnya dengan kasar. Belum lama kemudian salah seorang pelayan menghampirinya.


"Kami minta maaf tuan atas insiden tadi. Kami akan mengganti minuman yang sama seperti yang tuan pesan tadi" ucap pelayan tersebut.


"Tidak perlu" ucap Reyhan.


Reyhan pun langsung melakukan pembayaran dan melangkah pergi dari sana.


"Hari yang kacau" ucap Reyhan yang memasuki mobilnya dan melajukan kendaraannya di jalanan.


.


.


.


"Awww.. ternyata ini bukan mimpi" ujar Irene sembari meringis kesakitan.


Ia menghentikan langkahnya saat berada disebuah jembatan yang dibawahnya terdapat sungai yang sangat dalam.


Ponselnya bergetar, dilihatnya si penelepon yang tak lain adalah bosnya. Irene gelagapan karena ia lupa untuk meminta hari libur. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk menjawab panggilan tersebut.


"Halo Bu ma.."


"Kamu saya pecat!" ucap suara dari seberang telepon bersamaan dengan terputusnya panggilan tersebut.


Irene menggenggam ponselnya dengan erat, ia pun kemudian menaiki besi penggalang di jembatan tersebut.


"Akhhhhh..." seru Irene dengan lantang.


.


.


.


Reyhan melajukan mobilnya dengan santai. Namun saat hendak melewati jembatan, ia melihat seorang wanita yang tengah berdiri diatas besi jembatan tersebut.


"Bukankah dia wanita tadi? apa yang dilakukannya? jangan-jangan ia ingin bunuh diri" gumam Reyhan.


Dengan spontan Reyhan pun memberhentikan mobilnya. Tanpa aba-aba ia turun dari mobil dan segera menghampiri wanita itu.


"Hei .. ini adalah sikap yang terlalu bodoh. Aku memahami apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi tidak dengan cara yang seperti ini, pria itu menemui hari bahagianya bersama wanita lain sementara kamu harus mati mengenaskan" ujar Reyhan panjang lebar.


Mendengar ocehan tersebut, seketika Irene menatap pria itu.

__ADS_1


"Apa kamu sedang menyumpahiku saat ini?" tanya Irene.


"Aku tidak menyumpahimu, bukankah kamu ingin mengakhiri hidupmu?"


"Aku tidak akan mati semudah itu karena patah hati. Aku hanya ingin bersikap tegar karena setelah ini hutangku menumpuk dan aku pun kehilangan pekerjaanku" gumamnya dalam hati


Irene langsung menggelengkan kepalanya menimpali ucapan pria yang tak dikenalnya itu.


"Lantas mengapa kamu menaiki ini?" tanya Reyhan menunjuk besi yang dipijaki oleh Irene.


"Aku hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk menumpahkan semua kekesalanku. Jika aku menghadap kesini tanpa menghadap ke jalan, setidaknya hanya buaya air asin yang dapat menertawakanku bukan orang-orang yang berlalu lalang" jelas Irene.


"Oh.. aneh sekali ya" ucap Reyhan sembari menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu silahkan lanjutkan" ujar Reyhan lagi, ia pun hendak menyeret kakinya menuju ke mobilnya lagi.


"Tunggu.." tukas Irene turun dari ketinggian tadi.


Reyhan menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


Irene melangkahkan kakinya, ia pun melewati Reyhan dan langsung masuk ke dalam mobil pria tersebut.


"Hei.. apa yang kamu lakukan" seru Reyhan membuka kembali pintu mobilnya.


"Setidaknya kamu mengantarkanku" ucap Irene.


Reyhan mendengus kesal. Mau tak mau ia pun kembali menutup mobilnya dan mengembalikan wanita aneh itu ke habitatnya.


...


Diperjalanan Reyhan hanya bungkam. Sesekali ia melirik wanita yang berada disampingnya yang kini masih sesegukan.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tahu jika aku cantik" ucap Irene.


"Cihh.. lebih baik kamu bercermin. Wajahmu sangat menyeramkan dengan maskara yang luntur itu" ujar Reyhan.


Irene mencoba menghapus air matanya, namun hitam dari maskara itu semakin menyebar.


"Ini.." tukas Reyhan menyodorkan sapu tangan kesayangannya. Hadiah dari Aurel yang selalu dibawanya.


Irene menyambar sapu tangan tersebut. Ia pun menghapus air matanya dan...


Srrrttt...


Ia membersihkan cairan di hidungnya menggunakan sapu tangan tersebut.


"Hei.. astaga.." ujar Reyhan yang mulai naik pitam.


"Maaf ini.." Irene kembali menyodorkan sapu tangan tersebut.


"Tidak.. kau ambil saja" ucap Reyhan.


Irene pun kembali menggenggam sapu tangan tersebut.


"Mengapa hari ini aku sangat sial" batin Reyhan sembari menghembuskan napasnya dengan kasar.




.


.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa untuk meninggalkan like dan komennya dan vote seikhlasnya.


Salam manis Ryn ❤


__ADS_2