Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 59. Perubahan


__ADS_3

Setelah berlibur cukup lama, akhirnya kedua pasangan suami istri ini kembali ke negara tercintanya. Reyhan serta Irene baru saja tiba di bandara. Dilihatnya Rasya yang sudah menunggu disana sendirian untuk menjemput kedua sejoli yang baru saja menikmati waktu bulan madu mereka.


"Wah adikku terlihat sedikit lebih muda seusai berbulan madu" goda Rasya dengan menggunakan gestur tubuh.


"Sebaiknya kita langsung pulang saja, Bang. Aku benar-benar lelah sekarang" timpal Reyhan.


"Siap, laksanakan" ujar Rasya.


Entah sejak memiliki anak bungsu, pria yang sering di sapa Abang oleh Reyhan ini sedikit jauh berbeda. Jika dulunya Rasya yang dikenalnya adalah pria yang paling menjaga imagenya, namun tidak dengan sekarang.


Mereka menuju ke parkiran. Rasya membantu adiknya itu memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil. Sementara Irene, sudah lebih dulu masuk dan menduduki bangku penumpang.


Seusai memasukkan barang-barang, Rasya pun segera memasuki mobil. Matanya membulat saat melihat melalui kaca , sang adik dengan santainya duduk dibelakang, tepatnya bergabung dengan istri tercintanya yang sudah terlelap.


"Han, apa kali ini kau membuatku seperti seorang supir taksi?" tanya Rasya menoleh ke belakang.


"Sesekali tidak apa-apa, Bang" sahut Reyhan dengan santainya.


"Pindah ke depan, Adikku sayang" bujuk Rasya namun dengan penuh penekanan.


"Tidak. Aku tidak bisa jauh dari istriku. Hidupku terasa hampa dan hambar bagai masakan tanpa garam jika berada lebih jauh dari lima senti dari istriku" sahut Reyhan sembari memeluk istrinya yang masih terlelap.


Mungkin karena terlalu kelelahan hingga Irene tak mendengar perdebatan kecil antara dua saudara ini.


Mendengar jawaban dari adiknya itu membuat Rasya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baiklah, untuk kali ini ku biarkan kau" ucap pria yang berada di kursi depan sembari memasang sabuk pengaman.


Jika Reyhan berfikiran Rasya berubah, begitu juga sebaliknya. Rasya berfikiran bahwa adiknya itu berubah menjadi sedikit lebay akhir-akhir ini.


Pria itu menghidupkan mesin mobilnya, dan membawa si hitam tampan miliknya itu melaju membelah jalanan.


...


Rasya memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah yang kini Reyhan tempati bersama Irene.


Pria itu mengeluarkan semua barang-barang yang ada didalam bagasi, sedangkan dengan terpaksa tak bisa membantu abangnya itu karena harus menggendong istrinya ke kamar.


Reyhan tidak tega membangunkan Irene yang kini tengah terlelap.


Dilihatnya keluarga besarnya sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tengah.

__ADS_1


"Istrimu kenapa, nak?" tanya Abizar saat melihat putra bungsunya itu menggendong istrinya.


"Irene sepertinya kelelahan, Pa. Aku membawa Irene ke kamar dulu" ujar Reyhan.


Di belakang kedua pasangan tersebut, tampak Rasya yang di bantu bik Lastri membawa barang-barang milik kedua pasangan tadi.


...


Reyhan meletakkan Irene diatas kasur dengan sangat hati-hati. Pria itu pun membalut tubuh Irene dengan selimut, membuat gadis itu semakin lelap dalam tidurnya.


"Tidurlah sayang, maafkan aku yang selalu mengganggu waktu istirahatmu" ucap Reyhan yang kemudian mengecup kening istrinya.


Pria itu pun meninggalkan istrinya didalam kamar, melangkah menuju ke ruang tengah dimana tempat semua keluarganya menyambut kepulangannya.


...


"Om Han mana mainannya" ucap kedua si kembar yang juga ada disana.


"Oh iya, Om lupa titipan kalian" sahut Reyhan.


Awalnya kedua keponakannya itu hendak menghambur ke pelukan Reyhan, namun setelah mendengar ucapan dari om nya itu membuat keduanya mengurungkan niatnya.


Assalamualaikum...


Arya datang bersama Pak Surya dan Rania. Pria itu membawa dua kardus yang berisikan mainan sesuai pesanan Arden dan Aretha.


Semua orang yang ada di ruang tengah menyambut kedatangan Arya dan yang lainnya.


"Ma.. Pa.. Dia Arya, abangnya Irene, dan ini Pak Surya, papanya Irene" jelas Reyhan memperkenalkan mertua serta abang iparnya itu.


Abizar menjabat tangan Pak Surya serta Arya, yang diikuti pula oleh istrinya itu.


"Ini untuk kalian" ucap Arya yang memberikan mainan yang dibawanya kepada kedua anak kembar yang ada dihadapannya.


"Makasih banyak om" ucap keduanya serentak.


"Sama-sama" timpal Arya.


...


Di kamar, Irene membuka matanya perlahan. Suara riuh dari bawah membangunkannya. Gadis itu pun dengan malas beranjak dari tidurnya. Entah akhir-akhir ini Irene merasakan lemas yang sangat luar biasa. Tak hanya itu saja, gadis ini juga mengalami penurunan ***** makan serta buang air kecil yang- juga cukup sering.

__ADS_1


Mau tak mau Irene harus bangun dari tidurnya, Ia pun melangkah dengan cepat karena ingin buang air kecil.


Irene keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lega. Mendengar suara ramai dibawah membuatnya sedikit tertarik untuk ikut serta bergabung disana.


"Sudah bangun nak?" tanya Irsya saat melihat menantunya itu menuruni anak tangga.


"Iya ma, maaf aku ketiduran" ucap Irene yang langsung bergabung duduk diantara Rania dan Aurel.


Saat melihat Azriel yang berada di gendongan Aurel, membuat gadis itu tergerak untuk mengusap puncak kepala keponakannya yang baru saja terlelap itu.


"Aku berharap diberikan secepatnya, melihat kak Aurel menggendong bayi sungguh membuatku iri dan juga ingin memiliki " gumamnya dalam hati sembari menarik segaris sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Oh ya, sembari kita berkumpul disini, aku ingin mengajak besan beserta keluarga besar untuk menghadiri acara pernikahan Arya dan Rania yang akan diadakan bulan depan" jelas Surya.


"Menikah?" ucap Irene dan Reyhan serentak.


Arya dan Rania menimpali ucapan tersebut dengan sebuah anggukan kecil.


"Kapan lamarannya?" tanya Irene.


"Satu minggu sebelum kepulanganmu nak" timpal Surya .


"Kami sengaja tidak memberitahu kalian berdua, ya setidaknya anggap saja ini sebuah kejutan kecil dari kami berdua" jelas Ary sembari menatap ke arah Rania.


Reyhan yang berada tepat disamping Arya melingkarkan tangannya di bahu kakak iparnya itu, sesekali memberikan tepukan kecil disana.


"Kebelet nikah atau takut kesalip" tanya Reyhan berbisik tepat di telinga Arya.


"Lebih tepatnya, kedua-duanya" timpal pria itu.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya.


Oh ya, cerita ini emang gak lama lagi bakalan tamat😁. Kira-kira udah siap belum pisah dari babang Rey sama Irene?

__ADS_1


__ADS_2