Jangan Pergi

Jangan Pergi
Sentuh Hatiku S2 55. Candu Baru


__ADS_3

Malam pun berganti pagi, Irene mengerjapkan matanya saat sinar matahari menembak melalui celah jendela. Matanya teralihkan akan sosok yang ada disampingnya. Pria yang melingkarkan tangan dipinggang ramping milik Irene. Matanya masih terpejam, mungkin karena terlalu kelelahan semalam.


Mengingat kejadian itu, membuat wajah Irene langsung bersemu merah. Sungguh, ia belum terbiasa akan hal itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Reyhan dengan suara berat dan sedikit serak.


Tanpa Irene sadari jika Reyhan sudah membuka matanya sedari tadi. Mungkin gadis itu terlalu tenggelam dalam pikirannya tadi.


Irene tidak mengeluarkan sepatah katapun, malah gadis itu membenamkan wajahnya dengan selimut yang membungkus tubuh mereka.


"Apakah kau merasa malu?" tebak Reyhan.


Irene pun muncul dari balik selimut, sembari menganggukkan kepalanya. Reyhan mengacak rambut Irene, tingkah istrinya itu sungguh menggemaskan.


"Haruskah kita mengulangnya lagi di pagi ini, agar kau merasa lebih terbiasa?" goda Reyhan.


Mendengar ucapan Reyhan yang seperti itu, Irene langsung mengubah posisinya. Yang semula gadis itu berbaring kini langsung terduduk.


"Sebaiknya bersiaplah untuk pergi ke kantor hari ini" ucap Irene yang langsung beranjak dari tempat tidur. Tanpa mengenakan apapun gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Reyhan berdecak kesal akan hal itu. Irene menolak, namun ia membangunkan singa yang sedang tidur. Reyhan pun ikut beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menyusul Irene yang tengah berada dikamar mandi.


Reyhan tersenyum penuh kemenangan saat mendapati ternyata pintu kamar mandi hanya tertutup namun tidak terkunci. Mata nakalnya memperhatikan istrinya yang tengah menikmati guyuran shower, sepertinya gadis itu tidak sadar bahwa kini singa yang sedang kelaparan memperhatikannya.


Penampakan tubuh istrinya dari belakang membuat Reyhan meneguk salivanya seketika. Tanpa aba-aba lagi, pria itu pun menghampiri istrinya dan kemudian menarik tangan gadis itu ke dalam pelukannya.


Irene terkejut saat mendapati Reyhan berada ditempat yang sama dengannya.


"Apa yang kau.."


"Bertanggung jawablah karena dengan tidak sopannya kau telah menggodaku di pagi ini" ujar Reyhan yang langsung memotong ucapan Irene.


Gadis itu baru saja ingin menjawab, namun Reyhan telah membungkam gadis itu dengan mempertemukan bibirnya.


"Jangan mencoba memancingku, karena hal ini adalah candu baru bagiku" ucap Reyhan dengan suara beratnya.


Dan pada akhirnya, Irene pun mengalah akan hal ini. Membiarkan apa yang dilakukan suaminya itu atas dirinya.


...

__ADS_1


Di kantor, Reyhan tampak begitu cerah dan sumringah. Ibaratkan sebuah aplikasi yang baru saja selesai di upgrade.


Irene sesekali melirik suaminya itu dari meja seberang. Sesekali pria itu memeriksa dokumen dengan bersenandung kecil. Sungguh pemandangan yang langka, jarang sekali suaminya seceria ini.


"Aku sadar kau sejak tadi memandangku, sayang. Apakah kau sangat mengagumi ketampananku" ucap Reyhan dengan mata yang masih tertuju pada dokumen yang dipegangnya.


Sayang? ini adalah pertama kali suaminya itu menyebutnya dengan panggilan tersebut. Biasanya pria itu hanya memanggilnya dengan sebutan istriku ataupun dengan memanggil nama


"Hehehe.. iya, kau sangat tampan sekali" ujar Irene yang hanya ingin membuat lawan bicaranya itu senang. Namun dari ekspresi wajahnya mengatakan sebaliknya.


Reyhan terlihat begitu ceria hari itu, namun tidak dengan Irene. Tentu saja setelah melakukannya gadis itu merasa sedikit tidak nyaman. Yah, tahu sendirilah keluhan seorang gadis yang baru pertama melakukannya.


"Untuk bulan madu kita, apakah kau memiliki usul untuk pergi kemana?" tanya Reyhan yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Irene.


"Aku belum memikirkannya, mungkin nanti" timpal Irene.


"Baiklah, jika kau sudah memikirkannya segera beritahu aku. Aku akan segera mengatur jadwalku serta memesan tiket untuk keberangkatan ke tempat tersebut" jelas Reyhan.


...


Siang itu, Rasya berkunjung sebentar ke rumah Reyhan. Pria itu membawa kotak yang berukuran cukup besar. Titipan Irsya yang merupakan sebuah bingkisan yang ditujukan untuk Bik Lastri. Rasya pun tak tahu apa isi dalam kotak tersebut.


"Ada titipan dari mama, Bik" ujar Rasya.


"Oh iya" ucap Bik Lastri yang sepertinya tahu tentang hal ini. Bik Lastri pun menadahkan kedua tangannya untuk mengambil kotak tersebut, namun Rasya menolaknya.


"Biarkan saya saja yang membawanya Bik, ini cukup berat. Katakan saja untuk diletakkan dimana" ujar Rasya.


Bik Lastri pun membawa Rasya masuk dan langsung menuju ke dapur. Pria itu pun meletakkan benda tersebut sesuai dengan arahan Bik Lastri.


"Terimakasih, Tuan" ucap Bik Lastri.


"Sama-sama, Bik" timpal Rasya.


Pria itu pun kembali keluar. Namun saat ia melewati ruang tengah, tiba-tiba saja..


Hatchimmmm...


Rasya menggosok hidungnya hingga kemerahan. Dan pria itu pun kembali bersin beberapa kali.

__ADS_1


"Apa ini.." ucap Rasya sembari mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, matanya tertuju pada banyak buket mawar yang berada disudut ruangan tersebut.


"Maafkan saya, Tuan. Saya membersihkan kamar Tuan Reyhan. Dan mawar itu adalah bagian dari kejutan Tuan Reyhan untuk Nyonya Irene semalam" jelas Bik Lastri sedikit gugup, karena ia tahu betul jika tuan mudanya yang satu ini alergi dengan bunga mawar.


Rasya hanya mengucapkan kata "Oh..." namun tetap menutup hidungnya.


Pria itu pun dengan segera pergi dari tempat tersebut. Satu buket mawar saja membuatnya tak berhenti bersin, apalagi puluhan buket yang terletak disudut ruangan itu, bisa saja membunuhnya seketika.


...****************...


Malam ini Irene sedang duduk di ruang tengah. Gadis itu tampak asyik menonton televisi sembari ditemani oleh makanan ringan yang ada ditangannya.


Tak lama kemudian Reyhan pun datang. Pria itu ikut bergabung dengan Irene, dan duduk disamping istrinya itu.


"Suamiku, aku sudah memikirkan tempat yang ingin aku kunjungi" ucap Irene dengan antusias.


"Benarkah?"


Irene menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun meraih ponselnya yang ada di atas meja dan menunjukkan sesuatu pada Reyhan.


"Aku mencarinya di internet, dan pilihanku adalah tempat tersebut" ujar Irene dengan mata yang berbinar.


"Santorini?" gumam Reyhan saat melihat ponsel istrinya itu.


Irene pun kembali menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus semuanya dan kita akan pergi kesana" ucap Reyhan.


Terpancar jelas raut wajah bahagia Irene. Berbeda dengan ekspresi wajah tadi siang saat ia tengah berada di kantor. Reyhan pun dengan usilnya merebut makanan ringan yang ada ditangan istrinya itu. Irene mengambil kembali makanan yang ada ditangan suaminya itu.


Tangan Reyhan tergerak untuk mengacak puncak kepala istrinya itu. Ia pun merangkul bahu Irene, membawa istrinya itu untuk lebih dekat dengannya. Keduanya pun kembali menyaksikan acara yang ada di televisi. Sesekali mereka pun beradu pandang dan kemudian mengembangkan senyumnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, serta like🥰


__ADS_2