Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 10


__ADS_3

Disebuah Cafe, Reyhan dan teman-temannya merayakan party kecil-kecilan mengingat Reyhan sudah memasuki usia yang ke 21 tahun.


"Disini cuma Vanesha doang yang ceweknya" ujar salah satu teman Reyhan yang bernama Dito.


"Reyhan jomblo bro" ucap David.


"Lo lagian main ama sepupu mulu, kan pada ngira Lo pacarnya Reyhan" cerca David pada Vanesha.


"Apaan sih" ujar Vanesha.


"Oh ya, itu cewek yang sering nungguin lo tumben akhir-akhir ini kagak muncul" ucap Dito.


"Lagian si Rey cueknya kebangetan, hati-hati Lo naksir beneran" ujar David.


"Ogah.." timpal Reyhan


"Lagian mana mungkin gue suka ama tante-tante. Dia aja yang selalu ngejar gue, dan gue nggak suka cewek yang begitu" sambung Reyhan berkilah yang kemudian meminum jus jeruk yang ada dihadapannya.


"Rey itu.." ucap David menunjuk belakang Reyhan.


Reyhan pun menoleh kebelakang.


"Prrffttt.." Reyhan tanpa sengaja menyemburkan jus jeruknya.


Sungguh ia terkejut dengan kehadiran wanita yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Apakah dia mendengarkan ucapanku barusan" ujar Reyhan dalam hati.


Selangkah demi selangkah Aurel pun mendekati pria yang baru saja menyemburkan minumannya itu.

__ADS_1


Ada perasaan rindu yang tak terbendung namun semua itu tertutupi oleh rasa sakit atas ucapan yang baru saja tertangkap oleh telinganya.


Aurel pun semakin lama semakin mendekat. Dengan menenteng sebuah bingkisan serta cake yang ia pesan barusan sebelum menuju kesini.


Aurel pun melemparkan bingkisan yang sedari tadi ia bawa.


PLAKK..


Satu tamparan mendarat cantik di wajah Reyhan. Tak cukup sampai disitu, Aurel pun membuka cake yang ia beli tadi dan melemparkannya ke wajah Reyhan.


Alhasil, kini wajah Reyhan bak badut yang penuh coklat.


"Maaf karena gue ganggu hidup Lo selama ini. Dan makasih udah menyadarkan gue betapa brengs*k nya Lo" tukas Aurel dengan mata yang berkaca-kaca.


Aurel pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Reyhan. Sedangkan Reyhan melihat kepergian Aurel dengan rasa bersalahnya.


.


.


.


"Betapa bodohnya aku selama ini" ratap Aurel seraya menangis tersedu.


Aurel menyembunyikan wajahnya di setir seraya menumpahkan seluruh air matanya.


Belum lama kemudian, Aurel pun menyeka air matanya dengan tissue dan kemudian menarik kaca mobilnya.


"Bodoh.. Kenapa lo bilang gue tante-tante, perawatan gue ama skincare gue mahal" gerutu Aurel seraya sesegukan.

__ADS_1


Aurel pun membuang tissue bekas ia menyeka air matanya dan hidungnya. Kemudian menyalakan mesin mobilnya dan langsung menuju rumah.


.


.


.


"Lo emang udah keterlaluan. Inget aja Lo, karma is real dan suatu saat apa yang dirasain ama kak Aurel hinggap ke Lo" ujar Vanesha yang kecewa dengan sepupunya itu dan meninggalkan Reyhan.


Sedangkan Reyhan hanya duduk termagu, ia pun mengambil sapu tangan disakunya. Dilihatnya sapu tangan tersebut. Sapu tangan yang pernah diberikan oleh wanita yang sama dan ditanggal yang sama. Tepatnya 3 tahun yang silam.


Reyhan pun mengelap coklat yang menempel diwajahnya dengan sapu tangan tersebut. Diliriknya kotak yang dilempar oleh Aurel tadi.


Ia pun membuka kotak tersebut yang berisi jam tangan dengan merk ternama.


Kini ia benar-benar merasa sangat bersalah pada Aurel, bagaimana pun juga Aurel selalu bersikap baik padanya, selalu memperhatikannya walaupun Reyhan selalu kasar padanya.


Bukan tak ingin membalas cinta dari wanita itu, melainkan rasa ego yang terlalu tinggi yang ada pada diri Reyhan.


"Aku sudah menjalani karma itu, dan dia sudah lama menyentuh hatiku" ujar Reyhan dalam hati seraya tersenyum dengan sikap bodoh yang sudah ditunjukannya.


.


.



__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2