
"Kejarlah kebahagiaanmu, kejarlah cintamu, aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi." Lanjut Alea sambil menangkupkan tangan Alviro
"Menikahlah dengan Clara dan ceraikan aku mas." Ujar Alea lirih menatap manik mata Alviro.
Seakan tak percaya apa yang telah diucapkan oleh Alea
Alviro pun membalas menatap telaga bening istrinya itu, namun ia tidak menemukan kebohongan disana.
Alviro mengalihkan pandangannya. Selama ini ia berfikir bahwa wanita dihadapannya tidak akan mengucapkan kalimat yang baru saja didengarnya, namun kali ini istrinya tersebut menyerah dengan semuanya.
"Kamu tidak perlu pergi meninggalkan rumah mas, pulanglah ini rumahmu." Ujar Alea.
"Tinggalah disini Leah, aku akan memberikan rumah ini untukmu" Tukas Alviro
"Tidak mas, aku tidak akan pernah mengambil sepeserpun hartamu. Aku juga sudah memindahkan semua barang-barangku kemarin, terimakasih untuk semua yang telah mas berikan, aku pamit" Ujar Alea meraih tangan suaminya itu menyalaminya kemudian melangkah pergi.
Alviro seakan kehabisan tenaga untuk menahan Alea tetap berada disisinya. Ia hanya duduk termagu seperti kehilangan akal sehatnya.
air mata pun lolos jatuh dari pelupuk matanya.
"Mengapa kamu menangis Alviro, bukankah ini keputusanmu seharusnya kamu bahagia" ujar Alviro pada dirinya sendiri seraya tertawa seperti orang gila namun air mata terus jatuh dipipinya.
Alviro membuka kepalan tangannya melihat cincin yang sudah satu tahun ini setia melingkar dijari Alea.
"Mengapa rasanya sesakit ini" Ujar Alviro menggenggam erat cincin tersebut.
.
.
.
Alea yang pulang menaiki taksi tidak hentinya menumpahkan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan supir taksi yang sedari tadi terlihat memperhatikannya.
Keputusan yang ia ambil merupakan keputusan yang paling sulit dalam hidupnya. Bagaimana tidak? rumah tangganya yang sudah diujung tanduk tak bisa ia pertahankan. Selama ini ia mencoba bersabar dan mengharapkan jika kelak suaminya akan membalas cintanya walaupun sedikit, namun jawaban yang dilontarkan suaminya dua minggu lalu sudah cukup untuk Alea.
Meskipun sulit Alea harus melepaskan semuanya dan menata hidupnya kedepan.
Alea pun tiba di tempat tujuannya. Rumah yang pernah ditinggalinya sebelum menikah dengan Alviro menjadi tempat berpulangnya sekarang.
Meskipun sejuta kenangan yang ada dalam ingatannya, mulai saat ini Alea berusaha menghapusnya.
Abizar menikmati makan malamnya bersama Roland.
__ADS_1
Malam ini ia akan tidur diapartemen saudara tirinya itu.
"Bang lo tau kabar terbaru yang lagi panas-panasnya kagak?" Tukas Roland sambil mengunyah makanannya.
" Gue jarang nonton berita gosip, lagian gue gak terlalu tertarik dengan cerita lo ." Celetuk Abizar.
"Yakin lo gak bakalan dengerin cerita gue." Tanya Abizar.
Abizar menanggukan kepalanya dan terus melahap makanannya tanpa menghiraukan Roland
"Alviro akan menikahi Clara" ujar Roland yang langsung nyerocos.
Uhukkkk. .
Abizar langsung tersedak makanan mendengar penuturan dari Roland.
Roland langsung menyodorkan segelas air kepada Abizar.
"makanya bang lo makannya baca doa biar setannya gak ikut ketelen" ejek Roland.
Abizar tampak mengacuhkan ejekan Roland.
"terus gimana kelanjutannya" tanya Abizar
"kelanjutan apa?" tukas Roland sok polos
"lo kan gak mau denger tadi bang" ucap Roland tampak cuek.
"oke. . gue bakalan dengerin" ujar Abizar mengalihkan pandangannya ke Roland tanpa menyantap makanan yang ada dihadapannya.
Roland pun menceritakan semua yang ia ketahui. Abizar tampak sangat serius mendengarkan cerita dari Roland yang membuat nafsu makannya langsung hilang.
.
.
.
Alviro sibuk dengan tumpukan-tumpukan dokumen yang ada dimeja kerjanya. Roland yang sedari tadi bolak-balik keruangan Alviro ikut sibuk mengurus semua dokumen yang Alviro minta.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, Alviro meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Ia pun langsung bersiap untuk pulang.
__ADS_1
Drrttt. . .
Ponsel Alviro bergetar, panggilan masuk dari mamanya.
"halo ma ada apa?" tanya Alviro
"sayang. mama akan berkunjung ke tempat kamu sekalian ada oleh-oleh buat Alea, tadi mama udah telepon dia tapi nomornya gak aktif. mama tunggu dirumah kamu ya" ujar Regita tampak antusias dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Alviro mencoba menghubungi nomor Alea, benar apa yang dikatakan oleh Regita nomor Alea tidak aktif.
"bahkan kau mengganti nomormu secepat itu" gumam Alviro.
Alviro tiba dirumah, dilihatnya Regita yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
Regita akhir-akhir ini tidak pernah berkunjung dikarenakan menemani sang suami yang mengurus kantor cabang yang ada di Bali.
"Al, istrimu tumben gak ada dirumah?" tanya Regita.
"Alviro dan Alea mau pisah ma" ujar Alviro.
tentu saja Regita sangat terkejut mendengar penuturan Alviro
"maksud kamu apa? kenapa kamu ingin berpisah dari Alea?" tanya Regita yang mulai meninggikan nada bicaranya.
"aku akan menikahi Clara ma" jawab Alviro.
PLAKKK. . .
Satu tamparan mendarat dipipi kiri Alviro.
"mana tidak pernah menyangka kamu seperti ini, tega kamu berpisah dari Alea hanya memilih wanita lain. Mama sangat kecewa sama kamu, semua keinginan kamu bahkan hal yang paling konyol yang kamu minta mama penuhi tapi ini balasan kamu terhadap mama!" ujar Regita
"maafkan aku ma"
"mama pastikan kamu akan menyesal nantinya" ujar Regita kesal meninggalkan Alviro.
.
.
terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini.
ikuti terus kisahnya di episode yang akan datang.
__ADS_1
like dan spam komennya author tagih😂
salam manis RPS😊