Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 19


__ADS_3

"Jika kelak kamu dihadapkan dengan dua pilihan, antara aku dan Reyhan. Siapa yang akan kamu pilih?" tanya Rasya dengan serius.


Aurel terdiam tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Seolah bibirnya ditunggangi oleh sebuah batu besar.


Rasya yang semula memasang wajah serius kini terkekeh. Aurel pun terkejut dengan perubahan Rasya yang tiba-tiba.


"Ayolah sayang, aku hanya bercanda. Kamu terlalu menganggapnya serius" ujar Rasya yang masih tertawa.


"Dasar kamu!" tukas Aurel yang kemudian mencubit lengan Rasya.


"Awww.." ringis Rasya.


"Terus saja mempermainkanku seperti itu" ujar Aurel dengan kesal.


"Maaf sayang. Oh ya, kenapa kamu mengajakku kesini?" tanya Rasya.


"Aku hanya mencari udara segar, sembari menenangkan pikiranku" ucap Aurel.


"Ada apa? apakah ada masalah?" tanya Rasya.


"Tidak apa-apa, hanya masalah kecil saja" timpal Aurel.


"Sungguh? aku pacarmu, menjadi bahu yang kuat untuk kau bersandar, menjadi telinga untuk mendengar keluh kesahmu. Jadi, sekecil apapun masalahnya, kamu bisa bercerita denganku" tutur Rasya.


"Sungguh, aku benar tidak apa-apa. Dan ini hanya masalah kecil saja" ujar Aurel kekeh.


"Baiklah kalau begitu" ucap Rasya.


Dan mereka pun melanjutkan obrolan lainnya. Baik itu masalah pekerjaan ataupun aktivitas masing-masing.


❤❤❤


David dan Dito sedang berkumpul di depan teras, tepatnya di kontrakan Reyhan. Mereka hampir setiap malam bertamu di tempat Reyhan hanya untuk menemani sahabatnya itu.


"Bro, gimana hasil hari ini? apa lumayan?" tanya David.


"Iya, lumayan buat hidup sehari atau dua hari" timpal Reyhan.


"Tadi sore, lukisan Lo terjual berapa banyak?" kini Dito yang bertanya.


"Tiga, lumayanlah bro" sahut Reyhan.


Setelah berpindah rumah, Reyhan kini mencoba mencari nafkah dengan menjadi pelukis jalanan. Ia menjual lukisan tersebut sesuai dengan hasil lukisan itu sendiri. Dilihat dari ukuran, keindahan, serta kerumitannya.


Reyhan tidak malu melakukan hal tersebut. Baginya selain mencari nafkah, ia dapat menekuni hobinya membuat arsiran diatas kanvas. Dan hal yang paling utama, pekerjaan yang kini dilakoninya merupakan suatu pekerjaan yang halal.


❇❇❇


Alviro baru saja tiba di rumah sepulang kerja. Dilihatnya istrinya itu mondar-mandir di ruang tengah dengan raut wajah yang cemas.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Leah?" tanya Alviro.


"Aku masih kepikiran sama Aurel mas, Aurel jam segini belum pulang dan nomornya pun tidak bisa dihubungi" ujar Alea panik.


"Kita tunggu aja sebentar lagi, mungkin dia lagi ada kerjaan di luar" ucap Alviro.


"Aku masih takut mas, aku takut jika Aurel nantinya mencari informasi tentang Clara. Aku benar-benar takut.." ujar Alea yang mulai berurai air mata.


Alviro pun mencoba menenangkan istrinya. Direngkuhnya tubuh mungil istrinya itu, dihapusnya air mata yang dengan lancangnya jatuh di pipi Alea.


"Semua salahku, tidak ada yang perlu kamu takuti Leah. Aku akan menceritakan semuanya pada Aurel" ucap Alviro.


"Apa maksudmu mas? Aurel akan membencimu jika ia tahu yang sebenarnya. Dan dia juga akan kecewa jika mama dan papanya pernah melakukan hal yang dilarang agama, yaitu sebuah perceraian" ujar Alea.


"Setidaknya kita sudah berkata jujur, Leah. Aku justru tidak ingin kelak Aurel mengetahui semuanya tapi dari mulut orang lain" jelas Alviro.


"Lagi pula pria yang dikatakan Aurel beberapa hari yang lalu, dia datang mengunjungiku tadi" lanjut Alviro.


"Benarkah? terus apa katanya mas?" tanya Alea yang semakin penasaran.


"Pria tersebut menanyakan keberadaan Clara, karena dia adalah pria yang pernah menyentuhnya" ucap Alviro.


Alea menutup mulutnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Alviro.


"Untuk apa dia baru muncul? dan untuk apa dia menanyakan keberadaan Clara?"


"Karena dia benar-benar tidak tahu jika Clara telah tiada" jelas Alviro.


"Aku pulang.." ucap Aurel kemudian menatap kedua orangtuanya satu persatu.


"Akhh, ekspresi seperti itu lagi" ujarnya dalam hati, ia pun melangkah melewati kedua orang tuanya.


"Aurel.." panggil sang papa


Aurel menghentikan langkah kakinya, ia mengarahkan pandangannya pada papanya itu.


"Iya pa.." sahutnya.


"Nanti temui papa di ruang tengah, ada yang ingin papa bicarakan padamu" ujar Alviro.


Aurel pun mengangguk patuh. ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya sekaligus untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setelah semuanya selesai, Aurel kemudian turun untuk menemui Papanya. Ia pun menuju ke ruang tengah. dan dilihatnya sang papa sendirian duduk disana tengah menunggunya sedari tadi.


"Apa yang mau papa bicarakan?" tanya Aurel sembari menduduki kursi yang kosong.


"Papa ingin jujur satu hal. setelah itu kamu silahkan memilih. Antara membenci papa atau memaafkan papa" tutur Alviro.


"Maksud papa? Aurel tidak mengerti apa yang papa bicarakan" ujar Aurel yang masih bingung.

__ADS_1


"Clara.." ucap Alviro kemudian menghembuskan nafasnya.


"Clara yang dimaksud oleh pria kemarin adalah mantan papa" ujar Alviro


Aurel mengangguk paham, ia pun menunggu cerita selanjutnya dari sang papa.


"Dulunya papa akan menikahinya karena dia sedang mengandung, dan papa pernah bercerai dengan mamamu waktu itu" ucap Alviro.


Clara langsung beranjak dari tempat duduknya. Seolah tak percaya dengan semua yang didengarnya barusan.


"Aku sangat mengagumi papa, tapi aku kecewa pa. Papa tidak seperti apa yang aku bayangkan" ujar Aurel.


"Papa belum selesai bicara nak"


"Apa lagi yang ingin papa katakan? Papa memiliki anak dari wanita yang bernama Clara itu?" tukas Aurel.


"Papa belum sempat menikahi Clara, ia sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Bayi yang dikandungnya bukanlah anak papa. Papa tidak pernah menyentuhnya" jelas Alviro.


"Lantas kenapa papa ingin menikahinya? Kenapa papa menyakiti mama hanya untuk bertanggung jawab atas perbuatan orang lain" ujar Aurel dengan nada yang sedikit tinggi.


"Maaf, maaf atas kebodohan yang papa perbuat di masa lalu" ucap Alviro lirih.


"Aurel kecewa sama papa" tukas Aurel yang kemudian pergi dari tempat tersebut.


Aurel memasuki kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa cerita papanya barusan membuatnya terluka.


Aurel sangat mengagumi papanya, karena yang ia ketahui papanya merupakan lelaki yang baik dan tidak pernah menyakiti mamanya. Bahkan, ia sempat membandingkan dengan kedua orangtua temannya yang menganggap bahwa pernikahan seperti layaknya permainan dengan kata perceraian.


Kini Aurel benar-benar kecewa. Apa yang dia lihat selama ini, belum tentu baik adanya.


Tokkk...Tokkk...


"Aurel.. buka pintunya nak. Ini mama" ujar Alea dari luar.


Aurel tetap bergeming. Ia mengabaikan panggilan mamanya dan tetap menangis. Belum lama kemudian, suara ketukan itu pun hilang. Alea membiarkan putrinya sendiri dulu.


.


.


.




Bersambung..


Lanjut next chapter ya. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya, yang belum rate bintang lima. Tolong di rate ya😘

__ADS_1


salam manis Ryn


__ADS_2