Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 9


__ADS_3

Pagi ini, Aurel melakukan aktivitas seperti biasanya meskipun tanpa kedua orang tuanya.


Ia menuju ke meja makan untuk menikmati sarapan paginya. Ia menarik salah satu kursi, jujur saja kali ini ia merasa sangat kosong. Biasanya teriakan sang mama dan celotehan dari sang papa yang menghiasi setiap paginya.


Baru saja ia hendak menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, Aurel tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.


"Bi.." Seru Aurel.


"Iya non, ada apa?" tanya Bi Inem.


"Mari sarapan bersama, Bi" ajak Aurel.


"Tapi non.."


"Aurel nggak menerima penolakan ya Bi" ujar Aurel.


Mau tak mau bi Inem pun menuruti kehendak Aurel. Sikap yang tidak menerima penolakan tentunya diwarisi oleh sang ayah yang juga bisa dikatakan keras kepala.


.


.


.


Setelah menyelesaikan sarapan, Aurel pun berangkat bekerja. Lagi dan lagi ia temukan mawar yang telah tergeletak cantik didepan rumahnya.


Aurel mengingat beberapa hari yang lalu, saat ia membaca kartu ucapan yang didapatnya pagi itu tanpa kata-kata yang puitis. Hanya satu kalimat namun mampu membuat Aurel cukup bertanya-tanya.


Kelak aku akan menampakkan diriku, tunggu sebentar lagi.


Satu kalimat itulah yang dinantikan oleh Aurel. Entah kapan pria mawar tersebut akan menemuinya.


"Sampai kapan kamu bersembunyi dariku?"gumam Aurel yang kemudian masuk ke dalam mobil.


Tringgg...


Notifikasi pesan dari ponselnya pun berbunyi. Dilihatnya pengirim pesan tersebut yang tidak lain adalah Vanesa.


Sore ini kami akan membuat kejutan untuk Reyhan, karena hari ini merupakan ulang tahunnya, apa kakak mau ikut?.(Vanesha)


Aurel pun menepuk keningnya, bagaimana bisa ia melupakan hari ulang tahun Reyhan begitu saja. Ia pun dengan antusias hendak membalas pesan dari Vanesha, belum lama kemudian ia pun mengurungkan niatnya tersebut.


Namun ia ingat bahwa papa dan mamanya sedang tidak berada di rumah. Aurel pun kembali mengambil ponselnya, dan mengetikkan balasan pesan dari Vanesha.


Kakak ikut, kirim alamatnya.(Aurel)


.


.


.


Di lain tempat, Roland tampak menggerutu dengan istrinya itu. Bagaimana tidak? Roland dan Alviro yang melakukan perjalanan bisnis, namun istri-istri mereka yang tampaknya mengintai kemanapun keduanya pergi.


"Mama kenapa nggak tinggal di rumah aja sayang, Vanesha kan sendirian di rumah" gerutu Roland.

__ADS_1


"Vanesha udah gede, lagian ada bibi yang nemenin dia dirumah" ujar Melly seraya memasangkan dasi suaminya itu.


"Ya tetep aja Ma, Papa khawatir kalau dia di rumah sendirian" ujar Roland seraya memasang wajah sendu.


Melly pun mendelik melihat akting konyol suaminya itu.


"Papa kenapa risih gitu kalau mama ikut. mbak Alea kan ikut juga. Pak Alviro juga biasa-biasa aja" ketus Melly yang kemudian mengeratkan dasi hingga membuat Roland setengah tercekik.


Roland pun segera melonggarkan dasinya itu seraya melihat istrinya berlalu dari hadapannya.


"Wanita memang selalu benar" gumam Roland membenarkan dasinya.


.


.


.


Disebuah restoran


"Senang bekerja sama dengan anda Pak Toni" ujar Alviro seraya menjabat tangan patner kerjanya tersebut.


"Saya juga sangat senang bisa bekerja sama dengan anda Pak Alviro" timpal pria tersebut.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, dan terimakasih makan siangnya" lanjut pria tersebut dan kemudian pergi.


"Al..bro.." ujar Roland seraya menepuk pundak sahabatnya seraya menepuk pundak Alviro.


"Apaan"


Alviro pun mengarahkan pandangannya ke tempat yang Roland maksud. Benar saja Alviro langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendapati dua wanita tua yang mengenakan kacamata hitam, seraya mengintip dibalik buku menu.


Alviro pun langsung menghampiri keduanya disusul oleh Roland, sedangkan Alea dan Melly menyembunyikan wajahnya dibalik buku menu yang dipegangnya.


"Duh, ketahuan mbak"bisik Melly.


"Ssstttt.." Alea mengisyaratkan Melly agar tetap diam.


"Sayang, kamu belum makan siang" ujar Alviro seraya menarik buku menu tersebut.


"Eh, mas.." ucap Alea seraya nyengir kuda.


"Numpung kamu lagi disini sekalian kita makan bareng, Melly juga silahkan pesan makanannya" perintah Alviro.


Mereka pun memilih makanan yang ada di buku menu tersebut. Jujur saja, Alea dan Melly merasa canggung karena tertangkap basah tengah menguntit suami mereka masing-masing.


Hidangan pun telah disajikan, mereka berempat makan tanpa mengeluarkan suara. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar beradu.


Setelah menghabiskan makan siang, Alviro pun mulai membuka suara.


"Sedang apa kalian disini?" tanya Alviro lembut.


"Kami.."


"Kami hanya berjalan-jalan, iya.. berjalan-jalan kemudian menemukan tempat makan disini" ujar Alea memotong ucapan Melly.

__ADS_1


"Leah, aku tahu kamu sedang berbohong" ujar Alviro yang membuat Alea langsung bungkam.


"Jujur, mama kesini mau ngapain?" tanya Roland langsung.


"Kami cuma.. cuma mau.."


"Mau mengawasi kami, takut kami memiliki wanita lain? begitukah" ujar Alviro memotong ucapan Melly.


Kedua wanita tersebut pun mengangguk secara bersamaan.


Alviro menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sayang.. Apa kamu pernah mergokin mas selingkuh? oke yang Clara itu pengecualian. Selain itu apakah pernah?" tanya Alviro.


"Dulu, waktu Aurel masih kecil. Kalian berdua deket-deket ama si janda bohay itu" tukas Alea seraya cemberut.


"Iya, waktu dipantai itu" sambung Melly.


"Astaga ma, itukan udah lama" ujar Roland seraya mengusap dahinya.


"Setelahnya, apakah pernah kalian melihat kami dekat dengan wanita lain?" ujar Alviro mengintrogasi.


"Makanya ngikutin sampai sini, siapa tahu sekalian nyari mama baru buat Aurel" ketus Alea.


Alviro pun terkekeh mendengar penuturan istrinya itu.


"Leah.. Aku udah tua. Mana mungkin aku mau cari mama baru buat Aurel. Jika kalian berfikir seperti itu, jujur kalian salah menilai kami sebagai lelaki. Tolong percaya, disini kami mencari nafkah untuk istri dan anak bukan untuk kesenangan sesaat" tutur Alviro.


"Kejadian yang silam itu hanya sebuah kesalahpahaman semata. Manusia pasti berubah dari waktu ke waktu jangan hanya kesalahan di masa lampau sampai sekarang masih diungkit. Ayolah possitive thinking" ujar Alviro lagi panjang lebar.


"Denger tuh ma.." ucap Roland pada Melly.


"Iya..iya.. Tapi beneran ya, jangan pernah main dibelakang" tukas Melly.


"Siap bos" timpal Roland.


"Maafin aku ya mas" ucap Alea.


"Iya sayang" ujar Alviro.


.


.


.





Bersambung..


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya selalu🤗

__ADS_1


Salam manis Ryn


__ADS_2