
Reyhan dan Irene menuju perjalan pulang ke rumah. Didalam mobil keduanya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Irene terlalu canggung untuk membuka percakapan karena perbuatan lancangnya tadi, begitu pula dengan Reyhan yang hanya sesekali melirik Irene dan kembali fokus menyetir.
"Maaf.." gumam Irene yang setengah berbisik.
"Maaf untuk apa?" tanya Reyhan.
"Yang tadi itu.." ujar Irene sedikit ragu menjelaskan karena terlalu malu.
Reyhan pun sontak langsung memegang pipi kirinya yang baginya masih terasa hingga kini.
"Mungkin aku tidak perlu mencuci wajahku sampai seminggu kedepan" ucap Reyhan.
Irene pun membelalakkan matanya dan kemudian mengambil tissue yang ada di dashboard mobil dan langsung mengelapnya dengan kasar.
"Hey apa yang kau lakukan" tukas Reyhan terkejut.
"Berhenti untuk mengingat itu" ucap Irene sembari melempar sisa tissue ke luar jendela.
Reyhan pun terkekeh dan ingin semakin menggoda istrinya itu. Melihat semburat wajah Irene karena menahan malu membuat Reyhan sedikit candu.
"Ini.." ujar Reyhan menunjuk kembali pipi kirinya .
Irene pun kembali mengambil tissue untuk mengelap pipi suaminya itu.
"Bukan itu, tapi lakukan lagi seperti yang di halaman belakang tadi" goda Reyhan.
Irene pun langsung memukul lengan Reyhan saat mendengar penuturan suaminya itu. Wajah Irene semakin memerah dan hal itu pun membuat tawa Reyhan semakin pecah.
Satu hal sesuatu yang baru bagi Reyhan. Wanita yang ada disampingnya lah yang mampu membuat hidupnya semakin berwarna, mungkin bisa di akui jika kakak iparnya adalah cinta pertamanya, tapi gadis yang ada bersamanya saat ini lah yang mampu membuat Reyhan menjadi sosok yang berbeda.
Kini sosok Reyhan yang dingin telah terkubur setelah adanya sosok Irene yang selalu berada disisinya.
...****************...
__ADS_1
Reyhan tengah membersihkan dirinya dibawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya. Sesekali ia menggosok tubuhnya yang kekar serta rambutnya yang basah.
Aktivitasnya pun terhenti saat pria itu teringat akan kejadian tadi. Dimana ia mendapat sebuah informasi mengenai Irene.
"Apa yang harus ku lakukan setelah ini" gumam Reyhan yang sedikit bingung.
.
.
.
Di lain tempat, pria tua dengan kacamata yang bertengger dihidungnya tengah menatap ke arah pintu.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Memperlihatkan sosok pria yang merupakan putranya sendiri tengah berjalan sedikit sempoyongan.
Pemandangan itu tentu saja hampir setiap hari dilihatnya. Anaknya yang sering pulang ke rumah dengan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya.
Dulu sosok itu tak pernah menyentuh minuman haram itu sedikitpun. Dan kini, putranya itu menjadi seorang alkoholik hanya karena kesalahan dirinya di masa lalu.
"Dari mana saja kau?" tanya pria tua itu sedikit dingin.
"Arya!! sampai kapan kau terus begini? kelakuanmu yang sekarang ini hanya merusak dirimu sendiri" tukas Surya pada putra semata wayangnya itu.
"Papa yang membuatku seperti ini! papa yang telah merusak hidupku" timpal Arya.
"Jika saja papa tidak memiliki wanita lain di luar sana, mungkin aku tidak akan seperti ini pa. Aku mungkin sudah hidup bahagia dengan wanita yang ku cintai pa. Papa tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa kita cintai pa" ucap Arya panjang lebar dengan mata yang memerah.
Pria itu pun bangkit dari duduknya dan hendak menuju ke kamarnya. Namun baru saja beberapa langkah, Arya membalikkan badannya sembari menatap sang papa.
"Papa tidak hanya menghancurkan hatiku, tapi papa juga menghancurkan hati mama di surga sana" tukas Arya yang kembali melangkahkan kakinya.
Surya melepas kacamatanya, memijat keningnya yang sudah keriput. Semua dosa yang diperbuatnya dulu kini menjadi tanggungannya di masa tua. Tanpa sadar ia telah melukai hati putra semata wayangnya.
"Maafkan papa, entah bagaimana cara papa untuk menebus semua dosa papa" gumamnya.
__ADS_1
...
Arya merebahkan dirinya sembari menatap langit-langit rumah. Setetes air mata pun jatuh mengalir di sudut matanya. Ia tahu jika perasaan ini tidak benar, ia tahu jika semua ini salah. Tapi mengapa semua kenangan manis tentang gadis itu selalu berputar di otaknya.
"Kau tahu apa yang paling sulit bagiku, menahan diri untuk tidak mencintaimu lagi, menerima kenyataan bahwa kau adalah anak dari wanita simpanan papa" ujar Arya menatap sebuah potret yang berada di balas tak jauh dari tempat tidurnya. Potret gadis yang dikenalnya selalu ceria.
"Maafkan aku yang harus terpaksa menyakitimu" lirihnya pelan.
Flashback on:
"Dia adalah anak papa" ucap Surya memperlihatkan sebuah foto pada Arya.
Awalnya Arya marah besar pada papanya karena telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun saat mengetahui fakta bahwa selingkuhan papanya itu telah tiada dan menitipkan seorang putri di sebuah panti asuhan, Arya tak tega mendengar semua itu dan menyuruh sang papa untuk membawa adiknya itu ke rumah.
Namun saat Surya mendatangi panti asuhan tersebut, ia pun dihadapkan dengan fakta bahwa gadis kecilnya telah di adopsi oleh orang lain. Surya pun memohon untuk meminta alamat si pengadopsi, karena merasa kasihan pihak panti pun memberikan alamat tersebut.
Ketika tepat didepan sebuah rumah yang sesuai alamat tertera di kertas yang ada ditangannya, Surya pun mendapatkan kenyataan pahit lagi bahwa rumah tersebut ternyata disita.
Alhasil, Surya pun pulang dengan tangan kosong. Melihat raut wajah sang ayah tampak sedih, Arya pun berjanji ketika ia dewasa nanti dirinya akan membantu sang ayah untuk mencari adiknya itu.
Hingga akhirnya takdir berkata lain, Arya tengah mencintai seorang gadis dan bahkan berencana akan menikahi gadis tersebut, namun ia dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa gadis itu adalah adiknya, anak biologis dari ayahnya.
Jika Irene mengetahui semua ini tentunya gadis itu juga akan merasa tersakiti. Bagi Arya cukup dirinya saja yang merasakan pahit bahwa takdir menentang cinta mereka.
Arya pun memasang ide untuk membuat skenario dengan cara menyakiti Irene. Pria itu meminta bantuan pada istri temannya yang tengah hamil muda hanya untuk memancing kemarahan Irene dan menganggap dirinya adalah pria yang brengsek. Dan keinginan pria itu pun terwujud.
Alhasil hingga kini, Arya hanya menjaga Irene dari jarak jauh. Bahkan Arya pun meminta untuk papanya mengunci rapat yang menyatakan bahwa gadis itu adalah darah dagingnya.
Satu hal yang dikhawatirkan oleh Arya, kondisi mental Irene akan terganggu jika ia mengetahui semuanya.
Flashback Off
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...