Jangan Pergi

Jangan Pergi
SH Chapter 49


__ADS_3

Sinar mentari menyeruak masuk melalui celah jendela. Dua insan yang telah melawati pergumulan semalam hanya terbungkus dengan selimut. Aurel mengerutkan keningnya, perlahan ia membuka matanya.


Dilihatnya wajah tampan Rasya yang masih berada di alam mimpi menyambut paginya. Rahang yang kokoh, alis yang tajam, hidung yang tinggi, serta bulu mata yang sedikit tipis namun lentik.


Perlahan Aurel pun memberanikan diri menatap suaminya itu, menyusuri wajah tampan tersebut dengan telunjuknya. Di mulai dari kening, kemudian turun ke hidung, dan pergerakannya pun terhenti tepat di bibir sensual milik pria itu. Bibir yang pertama menjamah bibirnya, terasa manis dan lembut.


Aurel terkejut saat Rasya membuka matanya dan langsung menangkap tangannya.


"Apa kamu sedang mengamati wajah tampanku, sayang?" tanya Rasya dengan suara seraknya yang kemudian memiringkan badannya ke samping sembari menatap Aurel.


Wanita itu pun mengulas senyumnya.


"Asal kamu tahu, aku juga menyukaimu disini" ucap Rasya yang kemudian mengecup kening Aurel.


"Mata indahmu saat menatap ke arahku" lanjutnya lagi yang kemudian mengecup kedua mata Aurel secara bergantian.


"Dan ini yabg selalu membuatku candu" imbuh Rasya yang mengarahkan pandangannya ke bibir Aurel serta mengusapnya dengan penuh puja.


Pria itu pun bergeser lebih mendekat, dan kemudian mengecup lembut bibir yang sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Ia pun menyudahi setelah keduanya hampir kehabisan napas.


"Aku mencintaimu, dan selamanya akan tetap begitu" ucap Rasya yang setengah berbisik.


"Aku juga mencintaimu, suamiku.." ujar Aurel.


Rasya sedikit tertegun, matanya mengerjap berkali-kali saat mendengar kata yang diucapkan oleh Aurel.


"Bisakah kamu mengulangi ucapanmu tadi?" pinta Rasya.


"Aku mencintaimu"


"Bukan itu, selanjutnya" protes Rasya.


"Suamiku.." ucap Aurel.


"Sekali lagi"


"Suamiku.." ujar Aurel.

__ADS_1


Rasya pun merengkuh tubuh istrinya itu, rasa bahagia yang berlipat ganda saat kata suamiku keluar dari bibir Aurel.


"Terima kasih istriku, terima kasih.." ucap Rasya dengan mata yang berkaca-kaca.


......................


Rasya dan Aurel sudah tampak rapi. Hari ini keduanya berjalan santai sembari melihat-lihat pusat perbelanjaan yang ada disana. Aurel merindukan masakan rumahan, karena bagaimana pun juga makanan Indonesia tetap menjadi juara di lidahnya dan rasanya tak kalah nikmat dengan makanan yang berada di tempat tersebut.


Keduanya menyusuri keramainan kita denga. berjalan kaki sembari saling menautkan jemari. Menikmati keramaian kota tersebut.


Sesekali keduanya singgah di sebuah kedai yang menyajikan beberapa cemilan khas kota tersebut, dan menikmati gelato yang lembut dan manis, sama seperti cinta mereka.



Jika Aurel memilih tiga varian rasa untuk gelatonya, Rasya hanya memilih dua varian rasa saja.


"Rencananya aku ingin mengajakmu menaiki gondola" ujar Rasya.


"Mungkin besok saja sayang, hari sudah menjelang sore, aku juga nanti mau masak" ucap Aurel yang masih menikmati gelatonya.


"Oh ya, aku melihat ini di deretan tadi" lanjut Aurel.


"Iya.. mie instan produk Indonesia. Tiba-tiba aku menginginkannya" ujar Aurel.


Tanpa mendengarkan celotehan dari Aurel, dengan gerakan cepat Rasya menempelkan bibirnya ke bibir istrinya dengan singkat. Aurel terkejut saat Rasya tiba-tiba menciumnya.


"Aku membersihkan sisa gelato yang menempel di bibirmu, sayang" ucap Rasya tersenyum simpul.


Aurel pun menyipitkan matanya saat mendengar penuturan dari suaminya itu.


"Aku curiga, jangan-jangan kamu kebanyakan nonton drama" ujar Aurel.


Rasya pun langsung tergelak tawa mendengar ucapan Aurel tersebut.


"Ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan istriku" ujar Rasya bersemangat, kemudian merangkul Aurel.


...----------------...

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, Aurel menuju ke dapur dan mengeluarkan mie instan dari plastik belanjaan tersebut. Rasya ikut menuju ke dapur berencana untuk membantu Aurel.


"Kamu mau masak apa, sayang?" tanya Rasya yang sedikit bingung.


"Itu.." ucap Aurel sembari menunjuk bungkusan mie instan.


"Mie instan? Lantas belanjaan tadi.."


"Aku akan memasaknya besok sayang, kamu tidak keberatan kan makan malam dengan ini saja? tapi kalau kamu keberatan, aku akan masak buat kamu nanti" ujar Aurel.


"Tidak sayang, aku juga kebetulan ingin makan mie instan" ucap Rasya berbohong.


Rasya pun akhirnya memilih mengesampingkan egonya hanya untuk istrinya. Jujur saja ia sebenarnya tidak begitu menyukai makanan ya g instan, ya karena dia tau junkfood adalah makanan yang tidak sehat.


Dengan seksama ia melihat Aurel yang baru saja menghidupkan kompor, dan meletakkan panci berisi air diatasnya. Belum lama kemudian ia langsung memasukkan mie tersebut.


"Ehh.." gumam Rasya yang sedikit terkejut.


"Ada apa?"


"Bukankah airnya belum mendidih. bahkan kamu baru saja menyalakan kompornya" ujar Rasya sedikit heran.


"Airnya mendidih atau belum hasilnya akan sama saja, nantinya juga mienya tetap matang, yang membedakan hanyalah durasi memasukkan mienya saja" jelas Aurel yang tak mau kalah.


Rasya hanya ber oh ria. Mungkin itu adalah tutorial memasak mie tersendiri ala Aurel. Belum lama kemudian, Aurel pun menghidangkan mie goreng ala dirinya sendiri. Keduanya pun menyantap makanan praktis yang menjadi hidangan malamnya.


"Sayang, maaf aku sedikit berkomentar. Tapi kalau bisa jangan terlalu sering untuk mengkonsumsi junkfood. Makanan ini tidak baik untuk kesehatan" ujar Rasya menegur istrinya namun dengan nada yang lembut.


"Iya suamiku" sahut Aurel.


Keduanya pun tersenyum, sembari menikmati makanan yang kini disantapnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2